Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jadwal PKB 2026 Rabu Hadirkan Wayang Kulit hingga Pertunjukan Korea

Bagi I Wayan Gede, pementasan bukan sekadar janji panggung—ia adalah napas. Di balik pahatan topeng kayu yang ia telateni di sanggarnya di Banjar Belawan,

Jul 08, 2026 - 13:59
0 0
Jadwal PKB 2026 Rabu Hadirkan Wayang Kulit hingga Pertunjukan Korea

Bagi I Wayan Gede, pementasan bukan sekadar janji panggung—ia adalah napas. Di balik pahatan topeng kayu yang ia telateni di sanggarnya di Banjar Belawan, Abiansemal, tersimpan doa dan amarah suci para tokoh Ramayana. Senin sore itu, ia masih mengoles warna emas pada bibir Hanoman sambil tersenyum. “Setiap goresan punya roh. Besok, penonton akan melihatnya menari,” bisiknya lirih. I Wayan dan puluhan seniman lainnya akan menjadi denyut Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, tepat pada Rabu, 8 Juli 2026—hari di mana lima panggung berbeda serentak bernyanyi dalam bahasa seni.

Panitia telah menyiapkan jadwal padat yang bisa diunduh lengkap (Jadwal PKB 2026). Namun bagi pencinta seni, Rabu ini menjadi istimewa: tradisi dalam negeri bertemu napas internasional dalam satu malam. Dari empat kabupaten/kota, pertunjukan klasik seperti Wayang Wong sampai parade Gong Kebyar dewasa akan bergema bersamaan dengan sajian kontemporer dari Seoul. Di bawah ini ikhtisar acara yang akan menemani langkah Anda sepanjang sore hingga malam.

Pukul (Wita)Jenis & Nama AcaraPeserta / DutaLokasi
15.00Rekasadana Dramatari Wayang WongSanggar Samirata, Abiansemal – BadungKalangan Angsoka
17.00Rekasadana Semar PagulinganSanggar Eka Kencana – GianyarKalangan Ratna Kanda
18.30Utsawa Drama Gong TradisiSekaa Drama Gong Sanggraha Budaya – JembranaKalangan Ayodya
19.30Utsawa Wayang KulitPepadi Kota Denpasar (Dalang Candra)Depan Gedung Kriya
19.30BWCC: Masks in MotionSeoul Institute of the Arts – Korea SelatanGedung Ksirarnawa
19.30Utsawa Gong Kebyar DewasaSanggar Naya Art (Gianyar) & Baturenggong (Badung)Panggung Terbuka Ardha Candra

Sejak pukul tiga sore, Kalangan Angsoka akan diramaikan oleh gerak gemulai Wayang Wong dari Sanggar Samirata. Bagi para penari, ini bukanlah sekadar lakon; setiap langkah adalah penghormatan pada leluhur yang mewariskan cerita. Tak jauh dari sana, menjelang senja, Semar Pagulingan dari Gianyar akan mengalun merdu. “Kami sudah latihan sejak dua bulan lalu. Inginnya sih, yang nonton bisa ikut merasa damai,” ujar I Nyoman Sukarya, pemimpin Sanggar Eka Kencana, sambil menyetel laras gamelan pelognya.

Ketika langit mulai merah di pukul setengah tujuh, panggung Ayodya berubah jadi panggung kritik sosial lewat Drama Gong. Sekaa dari Jembrana akan membawakan cerita rakyat yang dikemas segar—pesan-pesan lingkungan terselip di antara gurauan. “Ini cara kami menyampaikan protes, tapi dengan gelak tawa,” kata Ketut Sumerta, aktor utama yang memerankan tokoh sakti namun lucu. Sementara itu, di depan Gedung Kriya, gemerisik layar kulit mulai terdengar. Dalang Candra dari Denpasar akan menghidupkan lakon klasik dengan sentuhan kontemporer. Ia dikenal berani menyisipkan isu terkini dalam bahasa wayang, membuat anak muda tetap betah duduk hingga tengah malam.

Pukul setengah delapan malam adalah puncak yang paling ditunggu. Tiga panggung besar akan menyala bersamaan. Di Gedung Ksirarnawa, Seoul Institute of the Arts menghadirkan “Masks in Motion” —sebuah interpretasi topeng tradisional Korea dan Bali dalam gerak postmodern. “Kami ingin menunjukkan bahwa meski berbeda budaya, topeng memiliki bahasa universal: menyembunyikan, mengungkapkan, dan mempertanyakan identitas,” ucap Park Hye-jin, koreografer dari Seoul. Ini adalah bagian dari Bali World Culture Celebration (BWCC), menegaskan posisi Bali sebagai laboratorium seni dunia.

Di sisi lain Panggung Terbuka Ardha Candra, Gong Kebyar dewasa menabuh semangat kompetisi dan kerja sama. Dua komunitas besar—Sanggar Naya Art dari Gianyar dan Baturenggong dari Badung—akan beradu irama dan kreativitas. Bagi penonton, ini adalah suguhan ganda yang langka. “Kami tidak hanya menampilkan musik, tapi juga solidaritas. Dua daerah, satu panggung, satu energi,” jelas I Made Artawan, penata tabuh Sanggar Naya Art.

Ledakan Energi Seni dan Ekonomi Warga

Dari sudut sosial, PKB tak sekadar panggung. Ia menjadi ruang bertemunya generasi dan menggerakkan roda ekonomi lokal. Pedagang kuliner di sekitar Kalangan mengaku omzet naik dua kali lipat saat malam pementasan. “Biasanya sehari dapat Rp300 ribu, pas ada PKB bisa tembus Rp700 ribu,” cerita Ni Luh Putu, penjual rujak bulung. Partisipasi empat kabupaten/kota dalam satu hari juga menunjukkan betapa pesta ini memotong sekat wilayah. “PKB bukan hanya pesta, tetapi juga laboratorium hidup bagi pelestarian seni,” tegas Dr. Ni Made Ariani, antropolog budaya Universitas Udayana. “Setiap pementasan adalah transmisi pengetahuan, dari tangan dalang ke mata anak muda yang kelak menjadi penjaga tradisi.”

Kehadiran Korea Selatan juga melambungkan posisi PKB sebagai etalase diplomasi budaya. Tahun ini, BWCC mengusung tema “Echoes of Mask”, mempertemukan filosofi topeng Korea Talchum dengan tradisi Topeng Bali. “Ini jadi simbol bahwa warisan kita layak berdiri sejajar dengan seni dunia,” tambah Ariani.

Malam nanti, saat Wayang Kulit mengalun dan Gong Kebyar memekakkan telinga, ingatlah bahwa setiap dentuman adalah denyut nadi para seniman yang hidup dari ingatan kolektif. Anda diundang untuk menjadi saksi, dan mungkin, bagian dari cerita yang akan diturunkan ke anak cucu. Jadwal lengkap bisa diunduh dan pastikan datang lebih awal untuk tempat duduk terbaik.

Sumber : Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, PESTA KESENIAN BALI XLVIII 2026.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User