Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

TANGERANG — Kapolda Banten: Kebakaran TPA Jatiwaringin Murni Faktor Alam

Langit di atas Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, masih diselimuti asap pekat ketika Kepala Kepolisian Daerah Banten, Irjen Pol Hengki, menatap lurus ke

Jul 09, 2026 - 19:19
0 0

Langit di atas Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, masih diselimuti asap pekat ketika Kepala Kepolisian Daerah Banten, Irjen Pol Hengki, menatap lurus ke arah tumpukan sampah setinggi bukit yang terus menyemburkan api. Di kejauhan, dua helikopter water bombing bergantian menjatuhkan ribuan liter air. Suara baling-balingnya berpadu dengan gemerisik api yang melahap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin untuk hari kedua. Namun di tengah kekacauan itu, satu hal yang ia pastikan: tidak ada jejak tangan jahat manusia di balik musibah ini.

"Sampai saat ini, kami belum menemukan adanya unsur kesengajaan atau pidana," ujar Hengki dengan nada tenang namun tegas, Selasa (7/7), saat meninjau langsung lokasi kejadian. Penyelidikan awal kepolisian mengerucut pada satu kesimpulan: alam yang sedang tidak bersahabat.

Panas Ekstrem dan Gas Metana: Kombinasi Mematikan

Menurut Hengki, titik api pertama kali terdeteksi muncul dari bagian bawah tumpukan sampah—tempat yang sulit dijangkau mata, namun menyimpan potensi bahaya laten. Cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah Tangerang dalam beberapa pekan terakhir mempercepat proses dekomposisi limbah organik, melepaskan gas metana dalam jumlah besar. Tinggal menunggu satu percikan, dan neraka kecil pun tercipta.

"Kebakaran ini murni akibat faktor alam. Suhu panas di dalam timbunan sampah bereaksi dengan gas metana yang mudah terbakar, lalu hembusan angin memperluas penyebaran api," jelas Hengki.

Bagi warga sekitar, penjelasan itu tidak sepenuhnya meredakan kegelisahan. Sulasmi (54), seorang penjual nasi uduk yang lapaknya hanya berjarak dua kilometer dari TPA, masih ingat betul bagaimana ia terbangun dini hari karena bau menyengat yang menusuk tenggorokan. "Anak saya yang paling kecil langsung batuk-batuk. Kami sekeluarga mengungsi ke rumah saudara di Balaraja. Sampai sekarang masih trauma kalau malam," tuturnya dengan suara serak.

600 Personel Dikerahkan, Dua Helikopter Water Bombing Terus Beroperasi

Operasi pemadaman melibatkan sekitar 600 personel gabungan dari kepolisian, TNI, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, serta relawan. Hengki menegaskan bahwa seluruh sumber daya dikerahkan tanpa henti. "Kami mengerahkan seluruh personel dan sarana prasarana, termasuk dua unit helikopter water bombing yang terus beroperasi untuk mengendalikan api dari udara," terangnya.

Di lapangan, kelelahan mulai tampak di wajah para petugas. Andri (29), anggota tim pemadam dari BPBD Kabupaten Tangerang, sudah 18 jam belum pulang. Seragam oranyenya kusam tertutup abu. "Yang paling sulit itu medannya. Tumpukan sampah bisa ambles sewaktu-waktu. Kemarin ada rekan yang kakinya terperosok sampai lutut, untung cepat ditolong," kisahnya sambil mengelap keringat.

Momentum Evaluasi Sebelum Proyek Waste to Energy

Di balik bencana ini, Hengki melihat adanya pelajaran berharga yang tak boleh disia-siakan. Apalagi, TPA Jatiwaringin ditunjuk sebagai salah satu lokasi pengembangan proyek waste to energy (WtE)—pengolahan sampah menjadi energi listrik—yang digadang-gadang pemerintah sebagai solusi krisis limbah perkotaan.

"Sampah-sampah yang ada di sini nantinya akan diolah dan dipisahkan untuk kemudian dikonversi menjadi sumber energi listrik. Peristiwa ini menjadi pengingat akan urgensi inovasi dalam pengelolaan limbah," imbuh Hengki.

Pernyataan itu diamini oleh Ahmad Fauzi, pemerhati lingkungan dari Lembaga Studi Perkotaan Banten. Menurutnya, kebakaran TPA yang berulang adalah alarm keras. "Ini sudah kejadian kesekian kalinya di Indonesia. Sistem sanitary landfill kita masih minim, gas metana tidak dikelola, akhirnya meledak sendiri. Proyek WtE harus dipercepat, tapi jangan asal cepat—harus ada audit keselamatan dulu," ujarnya.

Saat senja mulai turun, asap di atas TPA Jatiwaringin masih mengepul, namun tak lagi setebal pagi hari. Para petugas bergantian merebahkan tubuh di posko darurat, menunggu giliran berikutnya. Sulasmi dan keluarganya masih bertahan di rumah saudara, berharap angin tidak membawa bau terbakar ke arah mereka lagi malam ini.

Di tengah keterbatasan dan kelelahan, satu hal mulai tumbuh di antara warga: kesadaran bahwa sampah yang mereka buang setiap hari, yang selama ini tak terpikirkan ujung riwayatnya, bisa berubah menjadi ancaman—atau justru menjadi harapan, jika dikelola dengan bijak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User