Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Sidrap — BPS Sambangi Rutan, Petakan Asa Ekonomi Warga Binaan

Di balik dinding tinggi Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Sidenreng Rappang, ada cerita yang jarang terdengar—cerita tentang mereka yang tetap ingin dihitung

Jul 08, 2026 - 23:54
0 0

Di balik dinding tinggi Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Sidenreng Rappang, ada cerita yang jarang terdengar—cerita tentang mereka yang tetap ingin dihitung sebagai bagian dari denyut ekonomi bangsa. Rabu pagi itu, sinar matahari menembus celah-celah jeruji saat Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidrap melangkah masuk. Bukan untuk inspeksi keamanan, tapi untuk membawa misi yang lebih tenang dan penuh makna: mendata potensi ekonomi warga binaan melalui Sensus Ekonomi.

“Ini bukan sekadar angka,” ujar Kepala BPS Sidrap saat berbincang hangat dengan Kepala Rutan. “Kami datang untuk menangkap cerita di balik setiap usaha yang pernah mereka rintis, agar kelak mereka bisa bangkit dengan data yang berpihak pada mereka.”

Langkah Pagi yang Sarat Harapan

  1. 08.30 WITA: Kepala BPS Sidrap tiba di gerbang Rutan. Kehadirannya disambut langsung oleh Kepala Rutan dan beberapa staf. Suasana formal berubah cair saat kedua pimpinan ini saling melempar senyum.
  2. 08.45 WITA: Keduanya menuju ruang pertemuan. Meja sederhana, segelas kopi khas daerah, dan setumpuk dokumen menjadi saksi dimulainya diskusi yang lebih dalam dari sekadar teknis birokrasi.
  3. 09.00 WITA: Pemaparan singkat tentang pentingnya sensus ini dibuka oleh Kepala BPS. “Warga binaan yang memenuhi kriteria sebagai responden adalah bagian dari potret ekonomi kita. Mereka mungkin kini di dalam, tetapi data yang mereka berikan akan membentuk kebijakan pembangunan yang lebih adil,” tegasnya.

Merancang Mekanisme Data yang Manusiawi

Diskusi berlanjut pada mekanisme pendataan. Tidak mudah memang—petugas sensus harus menyesuaikan dengan protokol keamanan dan tata tertib rutan. Namun, kedua belah pihak justru melihat ini sebagai peluang kolaborasi yang lebih erat. “Kami ingin data yang akurat, tapi kami juga ingin proses ini tidak menambah beban psikologis warga binaan. Mereka harus merasa dihormati sebagai manusia, bukan sekadar objek sensus,” ujar Kepala Rutan dengan nada rendah namun mantap.

Sambil mencatat, perwakilan BPS menjelaskan bahwa kriteria responden akan difokuskan pada warga binaan yang sebelum ditahan memiliki usaha mikro, kecil, atau menengah. Mereka akan ditanya tentang jenis usaha, omzet, dan tantangan yang dihadapi. Data ini, kelak, bisa menjadi dasar program pemberdayaan saat mereka kembali ke masyarakat.

  1. 09.30 WITA: Kedua belah pihak menyepakati jadwal pendataan yang akan dilakukan bertahap. Protokol ketat disusun: pendataan dilakukan di area khusus, didampingi petugas rutan, dan tanpa intervensi keamanan yang menghambat kenyamanan responden.
  2. 09.45 WITA: Kepala Rutan menyampaikan apresiasi. “Kunjungan ini menegaskan bahwa warga binaan kami bukan bagian dari masa lalu yang terlupakan. Mereka adalah potret masa depan yang tengah bertahan di masa sulit.”

Kisah di Balik Angka: Lebih dari Sekadar Sensus

Di sudut lain rutan, seorang warga binaan—sebut saja Pak Arif—pernah memiliki bengkel las kecil di pinggiran kota. Usahanya runtuh bersamaan dengan kasus hukum yang menjeratnya. Namun, ia masih menyimpan mimpi untuk kembali mengelas besi dan memberi nafkah bagi anaknya. Ketika mendengar akan ada sensus ekonomi yang mendata riwayat usahanya, matanya berbinar. “Saya pikir dunia sudah mencoret saya dari hitungan,” ucapnya dalam percakapan imajiner dengan petugas. “Ternyata, negara masih mau catat keterampilan saya. Mungkin ini awal saya bisa bangkit.”

Narasi semacam inilah yang perlahan membuncah di balik dinding rutan. Sensus ekonomi bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi jembatan antara keterbatasan fisik dan peluang masa depan. BPS mencatat bahwa kontribusi UMKM terhadap PDB nasional mencapai 61%, dan data dari lingkungan pemasyarakatan diharapkan bisa melengkapi potret tersebut, sekaligus membuka mata bahwa potensi ekonomi masih terpendam di tempat yang kerap dijauhi.

  1. 10.15 WITA: Koordinasi ditutup dengan komitmen bersama. Rutan berjanji memfasilitasi penuh, sementara BPS memastikan data akan dijaga kerahasiaannya dan digunakan sepenuhnya untuk kebijakan pembangunan inklusif.
  2. 10.30 WITA: Kepala BPS meninggalkan rutan dengan membawa lebih dari sekadar kesepakatan formal—ia membawa cerita-cerita bisu yang siap diubah menjadi angka-angka penuh arti.

Melalui koordinasi ini, hubungan antara BPS dan Rutan Sidrap tidak hanya bertambah erat secara kelembagaan, tetapi juga menyulam benang kemanusiaan yang selama ini tersembunyi di antara statistik dan data pembangunan. Hari itu, di balik jeruji, sensus ekonomi menjelma menjadi sensus harapan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User