TANGERANG — Dua Hektare Lahan Disiapkan untuk Tampung Sampah Sementara
Asap masih mengepul tipis dari balik gundukan sampah yang menghitam. Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, ba
Asap masih mengepul tipis dari balik gundukan sampah yang menghitam. Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, bau sangit bercampur debu masih terasa menusuk hidung. Kebakaran hebat yang melanda TPA ini belum sepenuhnya padam, menyisakan pemandangan yang muram dan persoalan baru yang mendesak: ke mana perginya 1.500 ton sampah warga setiap hari?
Pertanyaan inilah yang pagi itu, Selasa (7/7), coba dijawab langsung oleh Bupati Tangerang Maesyal Rasyid. Dengan suara tenang namun tegas, ia memastikan kabar yang beredar di grup-grup WhatsApp warga. "Berjalan normal, kita sudah siapkan ada lahan dua hektar untuk ditempati sementara sifatnya," ujar Maesyal, membawa angin segar bagi warga yang sejak beberapa hari terakhir dihantui bayangan tumpukan sampah tak terangkut di depan rumah mereka.
Kronologi: Dari Bencana ke Solusi Darurat
- Kebakaran Melanda TPA Jatiwaringin — Api muncul dan dengan cepat melahap timbunan sampah di area TPA seluas belasan hektare. Proses pemadaman berlangsung alot, melibatkan armada pemadam kebakaran dari berbagai wilayah. Hingga berita ini ditulis, kobaran api belum sepenuhnya bisa dijinakkan.
- Pemerintah Kabupaten Tangerang Bergerak Cepat — Menyadari bahwa TPA Jatiwaringin tidak bisa menerima sampah dalam waktu dekat, Pemkab langsung menyiapkan lahan alternatif seluas dua hektare sebagai tempat penampungan sementara. Langkah ini diambil agar ritme pengangkutan sampah dari permukiman warga tidak terhenti.
- Layanan Pengangkutan Tetap Berjalan Normal — Bupati Maesyal Rasyid memberi jaminan bahwa armada truk sampah akan tetap beroperasi seperti biasa. Sampah rumah tangga akan diarahkan ke lahan sementara, sehingga warga tidak perlu khawatir melihat tumpukan sampah menggunung di pinggir jalan.
- Fakta di Balik Lahan Sementara — Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, mengungkap detail penting: lahan dua hektare ini sesungguhnya bukan area kosong tanpa rencana. Tanah tersebut telah lama disiapkan sebagai lokasi penampungan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA)—limbah sisa pembakaran dari proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang sedang dibangun pemerintah.
"Jadi sampah (PSEL) itu dibakar pasti ada debunya, fly ash dan bottom ash itu kan. Nanti kita harus menyiapkan juga lahan untuk menampung abunya. Artinya lahan yang sekarang digunakan untuk penampungan sementara ini sebenarnya sudah ada peruntukannya," jelas Ujat, memberi gambaran bahwa solusi darurat ini lahir dari perencanaan jangka panjang yang sudah berjalan.
Bayang-bayang 250 Truk Per Hari
Di balik ketenangan yang coba dipancarkan para pejabat, tergambar jelas betapa besar tekanan yang mereka hadapi. Ujat Sudrajat membeberkan angka-angka yang membuat siapa pun akan mengernyitkan dahi. "Kalau kita ngitung misalkan satu hari kecilnya saja 250 truk dikali 6 kubik saja kecilnya kan 1.500 ton kan sehari," ujarnya, seolah ingin menegaskan bahwa tidak ada pilihan lain selain memastikan lahan sementara ini berfungsi.
Bayangkanlah: 250 truk pengangkut sampah setiap hari. Jika satu truk berhenti, dalam hitungan jam akan ada gunungan kantong plastik, sisa makanan, dan aneka limbah rumah tangga yang menggunung di sudut-sudut permukiman. Di musim kemarau seperti sekarang, tumpukan itu bisa menjadi sumber penyakit dan bau tak sedap yang menyiksa warga.
Warga Desa Mauk Timur, sebut saja Pak Rohmat (52), mengaku lega mendengar kabar lahan sementara ini. "Kemarin saya sudah waswas, soalnya truk sampah mulai telat datang. Tetangga pada tanya, sampah mau dibuang ke mana? Alhamdulillah sekarang ada kejelasan," tuturnya melalui sambungan telepon, suaranya terdengar lega.
Harapan di Tengah Darurat
Lahan dua hektare yang kini menjadi tumpuan bukan sekadar tanah kosong. Di atasnya tersimpan harapan agar krisis sampah pascakebakaran TPA Jatiwaringin tidak berkembang menjadi bencana lingkungan yang lebih luas. Namun Ujat juga mengingatkan bahwa solusi ini benar-benar bersifat sementara. Begitu pemadaman di TPA Jatiwaringin tuntas dan area tersebut kembali bisa digunakan, penampungan sementara ini akan kembali ke rencana awalnya: menjadi bagian dari ekosistem PSEL.
Proyek PSEL sendiri menjadi jawaban jangka panjang yang dinanti-nanti. Teknologi pengolahan sampah menjadi listrik diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara drastis, sekaligus menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun untuk saat ini, yang lebih mendesak adalah memastikan tidak ada satu pun truk sampah yang berhenti beroperasi.
Saat senja mulai turun di atas lahan sementara itu, beberapa truk sudah terlihat hilir mudik. Debu beterbangan, mesin menderu, dan tumpukan sampah perlahan mulai menggunung di lokasi barunya. Perjalanan masih panjang, tapi setidaknya malam ini warga Tangerang bisa tidur nyenyak, tahu bahwa sampah di depan rumah mereka akan tetap diangkut esok pagi.
Comments (0)