Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Hasto Terapkan Spirit Bung Karno dan Megawati di Bekasi

Matahari pagi di Bekasi belum terlalu tinggi ketika Hasto Kristiyanto, dengan cekatan, menuang ribuan benih ikan dari kantong plastik ke aliran sungai keci

Jul 08, 2026 - 13:55
0 0
Hasto Terapkan Spirit Bung Karno dan Megawati di Bekasi

Matahari pagi di Bekasi belum terlalu tinggi ketika Hasto Kristiyanto, dengan cekatan, menuang ribuan benih ikan dari kantong plastik ke aliran sungai kecil yang membelah Kota Bekasi. Air yang semula tenang seketika beriak oleh gerombolan ikan kecil yang baru saja menemukan rumah barunya. Gerakan itu sederhana, namun sarat makna—bagi Hasto, menebar benih kehidupan adalah bentuk nyata merawat “pertiwi” yang diwariskan oleh dua tokoh besar dalam hidupnya: Bung Karno dan Megawati Soekarnoputri.

“Saya tidak pernah merayakan ulang tahun dengan pesta. Bagi saya, merawat lingkungan adalah cara paling merdeka untuk mencintai tanah air,” ujar Hasto, yang memilih menebar benih ikan bersama Ketua DPC PDIP Kota Bekasi sekaligus Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, dan sejumlah satgas partai. Tri, yang ikut menebar benih, menambahkan, “Pak Hasto tidak hanya mengajarkan politik, tetapi juga politik ekologis. Kami di daerah merasakan langsung dampaknya.”

Kegiatan ini bukan aksi dadakan. Sebulan sebelumnya, Hasto mendaki Gunung Kerinci dalam rangka Bulan Bung Karno. Di sana, ia menanam pohon dan membersihkan jalur pendakian. “Pendakian itu ibarat ziarah. Kami membawa spirit Bung Karno dan Ibu Mega untuk memperkuat kultur merawat bumi,” kenang Hasto. Semangat itu ia bawa turun ke kota, ke sungai-sungai yang kerap dijadikan halaman belakang.

Namun, tradisi ini sempat terputus tahun lalu. Hasto berada di dalam rumah tahanan. “Saya tetap merawat ikan di akuarium kecil dalam sel, dan mengolah kulit kacang jadi pupuk kalium untuk tanaman di pojok rutan,” tuturnya. Kini, setelah bebas, ia ingin menggelorakan lagi kesadaran kolektif bahwa sungai, danau, dan mata air adalah nadi kehidupan kota.

Warga sekitar Sungai Bekasi, Suryati (52), mengaku terharu. “Saya 20 tahun tinggal di sini, baru kali ini ada pejabat yang langsung nyemplung sungai buat nebari ikan. Biasanya cuma seremoni potong pita,” katanya. Benih ikan nila dan lele yang ditebar diharapkan bisa menjadi sumber pangan sekaligus penanda bahwa sungai bisa pulih dari cemaran.

Dari Gunung ke Sungai: Politik Ekologis ala Hasto

Apa yang dilakukan Hasto bukan sekadar pencitraan. Ia telah melakukan ini sejak 2016, dimulai dari Hutan Kota Munjul dan berlanjut ke Waduk Jatiluhur. Total, lebih dari 50.000 benih ikan pernah ia tebar dalam berbagai momentum. “Ini bukan proyek, tapi spiritualitas partai. Merawat kehidupan adalah inti ideologi kami,” katanya.

Pengamat lingkungan dan perkotaan, Dr. Laksmi Wiratno, menilai langkah Hasto penting namun harus dibarengi regulasi. “Aksi simpatik seperti ini memiliki efek psikologis kuat. Namun, politik lingkungan membutuhkan penegakan hukum yang tegas, terutama agar sungai tidak lagi jadi tempat buangan limbah industri dan domestik,” ujarnya. Hasto sendiri mengamini, menyebut bencana ekologi kerap terjadi karena lemahnya penegakan hukum yang berkeadilan.

Aspek Sebelum Aksi Hasto Setelah Aksi Hasto
Kualitas air sungai Tercemar limbah, jarang ada ikan Ikan mulai muncul, warga ikut menjaga
Keterlibatan warga Minim partisipasi Komunitas peduli sungai terbentuk
Kebijakan tata kota Sungai jadi halaman belakang Drainase dan utilitas bawah tanah mulai diperhatikan
Spirit ideologis Jarang dikaitkan Dikukuhkan sebagai kultur partai

Hasto menekankan bahwa tata ruang kota harus seimbang: kawasan hunian, industri, pertanian, dan ruang hijau tidak boleh saling meniadakan. “Membangun trotoar itu penting, tapi lebih penting memastikan drainase dan utilitas bawah tanah beres dulu. Jangan hanya indah di atas, di bawahnya kosong,” ujarnya. Ia berharap tradisi tebar benih ini tak hanya jadi miliknya atau PDIP, tetapi jadi kultur bersama bangsa.

Tri Adhianto mengamini, dan berjanji bakal mengintegrasikan pendekatan serupa dalam program tata kota Bekasi. “Kami akan petakan kembali daerah resapan air, revitalisasi bantaran sungai, dan memberi ruang bagi komunitas untuk merawat,” ucapnya.

Merawat di Rutan, Melanjutkan di Kebebasan

Satu hal yang menyentuh dari kisah ini adalah keteguhan Hasto saat ditahan. Alih-alih mengeluh, ia mengolah sampah organik menjadi pupuk, memelihara ikan, dan mengajak sesama tahanan merawat tanaman. “Keterbatasan bukan alasan berhenti merawat pertiwi,” katanya. Kini, setelah bebas, ia kembali ke sungai dan gunung dengan semangat yang sama, membuktikan bahwa spirit Bung Karno dan Megawati tak boleh luntur oleh situasi personal apapun.

“Ulang tahun bagi saya bukan selebrasi diri, tapi momentum untuk menambah cinta pada negeri. Kalau bisa dimanifestasikan dengan aksi, kenapa tidak?” pungkas Hasto, sambil tersenyum memandangi anak-anak yang antusias menangkap ikan-ikan kecil di sungai yang mulai jernih itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User