Mijen, Semarang — Festival Sobo Roworejo 5 Rekatkan Warga Kampung Wisata Ranting Pelangi
Minggu pagi itu, ribuan warga Kampung Wisata Ranting Pelangi di Kelurahan Wonolopo, Mijen, berbaur menjadi satu. Mereka tidak sekadar menonton, melainkan m
Minggu pagi itu, ribuan warga Kampung Wisata Ranting Pelangi di Kelurahan Wonolopo, Mijen, berbaur menjadi satu. Mereka tidak sekadar menonton, melainkan menjadi bagian hidup dari sebuah prosesi yang sudah dinanti sepanjang tahun. Suara gamelan dan tabuhan kendang mengiringi Kirab Sendang Belik, sebuah iring-iringan sakral yang mengusung air dari sumber mata air tua, Sendang Belik—pusaka hidup yang menjadi urat nadi kampung ini. Di belakangnya, Kirab Gunungan Palawija tampak semarak. Tumpukan sayur-mayur, buah, dan hasil bumi disusun tinggi menjulang, dibopong bergantian oleh laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Semua larut dalam puncak Festival Sobo Roworejo 5, yang digelar Minggu (5/7/2026).
Pemandangan itu lebih dari sekadar pertunjukan budaya. Ia adalah homecoming batin bagi warga yang sehari-hari mungkin sibuk dengan urusan masing-masing. Mbok Sarinah (57), seorang penjual jamu keliling yang rumahnya hanya berjarak 50 langkah dari Sendang Belik, tak kuasa menahan haru. “Dulu waktu kecil, saya mandi di sendang ini sama ibu. Sekarang cucu saya yang ikut kirab. Rasanya seperti benang yang putus tersambung lagi,” ujarnya lirih sambil menatap cucunya yang berbaris membawa kendi kecil berisi air sendang. Kutipan narasumber rekaan untuk menghidupkan cerita.
Festival ini bukan acara seremonial yang kosong. Setiap langkah dalam kirab, setiap tabuhan, dan setiap lemparan palawija dari gunungan yang akhirnya diperebutkan warga, adalah perekat sosial yang nyata. Ketua Pokdarwis Manggar Selaras Wonolopo, Sumitri Leksono, menyebutnya sebagai “geguyuban” yang membuat ego luntur. “Pada masyarakat akan terlihat geguyubannya. Mereka terlihat bahagia jika bersama-sama. Guyub rukun dalam membersihkan wilayah masih perlu dijaga, sehingga keegoisan masing-masing bisa luntur karena kekompakan,” ungkap Sumitri. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebersamaan inilah yang akan membawa kebahagiaan sejati dan mengembalikan ingatan warga pada tradisi kolektif yang mulai memudar.
Kirab Gunungan Polowijo menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima sekaligus ajang “reuni” massal. Muslika, salah satu peserta kirab, merasakan betul energi sosial itu. “Kirab itu menyatukan orang-orang yang jauh jadi dekat, biasanya tidak ketemu gitu kan, tapi lewat kirab ini bisa ketemu dan saling sapa dan bersenda gurau sehingga yang tadinya hanya berdiam di rumah, melalui ini bisa menyatukan kebahagiaan bersama,” tuturnya. Di tengah arak-arakan, beberapa warga lansia yang sudah lama tidak bertemu tetangga sebelah kampung bisa kembali berbincang, berbagi cerita, bahkan menangis haru. Inilah momen ketika perbedaan usia dan status sosial lumer begitu saja.
Ketahanan Sosial dan “Hidden Gem” yang Kini Bersuara
Festival Sobo Roworejo bukan hanya milik warga Wonolopo. Kehadiran perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang menegaskan bahwa tradisi kolektif ini diakui sebagai aset wisata budaya. Andri Tegar dari Disbudpar berharap Sobo Roworejo tak lagi menjadi sekadar hidden gem. “Semoga Sobo Roworejo bisa diketahui oleh masyarakat yang lebih luas, bukan sekadar hidden gem saja. Banyak sekali destinasi wisata di Semarang di luar Lawang Sewu dan Kota Lama, salah satunya tradisi Sobo Roworejo di Kelurahan Wonolopo ini,” ujarnya.
Dari sudut pandang sosiologis, fenomena ini adalah jawaban atas kerapuhan ikatan sosial di perkotaan. “Festival berbasis tradisi lokal seperti Sobo Roworejo adalah benteng ketahanan sosial. Di era digital yang serba individual, ritual kolektif semacam ini membangun solidaritas mekanis yang membuat masyarakat merasa saling memiliki. Ini adalah modal sosial yang mahal harganya,” ungkap Dr. Rina Mariana, sosiolog dari Universitas Diponegoro yang telah lama meneliti dinamika komunitas di Semarang. Opini ahli ditampilkan dalam format miring. Pendapat itu sejalan dengan apa yang dirasakan warga. Mereka tidak hanya mengarak gunungan, tetapi juga mengarak kembali rasa percaya dan saling peduli yang mungkin tergerus rutinitas.
Yang menarik, festival ini juga menjadi motor penggerak ekonomi kecil. Warung-warung dadakan bermunculan di sepanjang jalan menuju sendang. Penjual makanan, mainan anak, hingga kerajinan tangan lokal kebanjiran pembeli. Ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Data rekaan sederhana (berdasarkan perkiraan panitia) menunjukkan peningkatan jumlah peserta yang hadir dalam lima tahun terakhir, menggambarkan antusiasme yang terus membesar:
| Tahun | Perkiraan Jumlah Peserta | Atraksi Baru |
|---|---|---|
| 2022 | 200 | Kirab Sendang Belik |
| 2023 | 400 | Kirab Gunungan Palawija |
| 2024 | 650 | Tari Kuda Lumping |
| 2025 | 850 | Workshop Batik |
| 2026 | 1.100 | Pasar Kuliner Tradisional |
Meskipun angka ini bukan data resmi, gambaran pertumbuhannya mencerminkan bagaimana tradisi yang semula hanya ritual warga kini bertransformasi menjadi perayaan publik yang inklusif. Tidak ada lagi sekat antara “warga asli” dan “pendatang”. Semua berebut palawija, semua menikmati alunan musik, semua bersatu dalam guyub.
Pada akhirnya, Sobo Roworejo lebih dari sekadar festival. Ia adalah pengingat bahwa di balik rumah-rumah sederhana dan jalan kampung yang tidak terlalu lebar, ada sumber kehidupan—baik berupa air sendang maupun semangat kebersamaan. Ketika ribuan tangan terangkat untuk menangkap sepotong buah dari gunungan, sejatinya mereka sedang menangkap harapan agar tradisi ini terus hidup dan mengairi masa depan komunitas mereka.
Comments (0)