Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Di balik kemegahan panggung utama Bursa Efek Indonesia yang berhiaskan layar digital

Dari Garasi Kecil ke Lantai Bursa Kisah PT Niramas Utama bermula dari sebuah garasi sederhana di kawasan Jakarta Timur pada awal 1990-an. Kala itu, pasanga

Jul 09, 2026 - 08:37
0 2
Di balik kemegahan panggung utama Bursa Efek Indonesia yang berhiaskan layar digital

Dari Garasi Kecil ke Lantai Bursa

Kisah PT Niramas Utama bermula dari sebuah garasi sederhana di kawasan Jakarta Timur pada awal 1990-an. Kala itu, pasangan suami istri, almarhum Hendra Saputra dan Kartika Dewi, merintis usaha produksi jelly dan selai rumahan dengan hanya bermodalkan resep warisan keluarga dan tiga karyawan. Tidak ada yang menduga bahwa dari garasi itulah akan lahir salah satu produsen makanan ringan terkemuka yang kini menembus pasar modal.

“Bapak selalu bilang, mimpi itu tidak boleh kecil. Tapi langkahnya harus kecil-kecil, mantap, dan jangan pernah menyerah,” ujar Reza Saputra, putra sulung yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Niramas Utama Tbk, dengan mata berkaca-kaca di sela-sela seremoni.

“Hari ini adalah bukti bahwa mimpi bapak dan ibu bukan sekadar angan-angan. JELI hadir untuk melanjutkan warisan itu—dengan skala yang lebih besar, namun cita rasa yang tetap sama.”

JELI: Simbol Ringan yang Sarat Makna

Pemilihan kode saham JELI bukanlah kebetulan. Selain mengingatkan pada produk utama perusahaan—jelly yang telah akrab di lidah konsumen Indonesia sejak 1992—kode ini juga menyimpan filosofi mendalam bagi keluarga Saputra. “Jeli artinya jeli melihat peluang, jeli memahami kebutuhan konsumen, dan jeli menjaga kepercayaan,” ujar Reza.

Sentuhan personal ini mendapatkan sambutan positif dari para pelaku pasar. Suasana di Main Hall BEI pun sempat berubah hangat ketika Reza memperdengarkan pesan suara terakhir almarhum ayahnya: “Jaga kualitas, jaga orang-orang yang bekerja untuk kita. Mereka bukan karyawan, mereka keluarga.”

Langkah Strategis di Tengah Gejolak Pasar

PT Niramas Utama Tbk melepas sebanyak 2,1 miliar lembar saham ke publik, atau sekitar 20% dari modal disetor pasca-IPO, dengan harga penawaran Rp280 per lembar saham. Aksi korporasi ini meraup dana segar sebesar Rp588 miliar. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Veronica Sihombing (nama rekaan), menyatakan bahwa pencatatan ini menjadi sinyal penting bahwa industri makanan olahan Indonesia masih memiliki daya tarik investasi yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Namun, di luar angka-angka itu, ada cerita tentang para pekerja yang turut menyaksikan momen bersejarah ini dari area pabrik melalui layar lebar yang disediakan manajemen. “Saya sudah 25 tahun di Niramas. Saya ikut mengaduk adonan jelly pertama kali. Melihat perusahaan ini masuk bursa, rasanya seperti melihat anak sendiri yang wisuda,” kata Suryati (54), salah satu karyawan senior yang hadir mewakili lebih dari 2.000 pekerja Niramas.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Dana hasil IPO, menurut prospektus resmi perusahaan, akan dialokasikan untuk tiga prioritas utama:

  • Ekspansi kapasitas produksi melalui pembangunan pabrik baru di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah (45%)
  • Pengembangan produk dan penguatan jaringan distribusi ke Indonesia Timur (35%)
  • Sisanya untuk modal kerja dan investasi teknologi otomasi (20%)

Reza mengakui bahwa perjalanan sebagai perusahaan terbuka akan membawa tantangan tersendiri, terutama soal transparansi dan tekanan pasar. “Tapi kalau kami bisa bertahan dari krisis moneter 1998, pandemi, dan gejolak harga bahan baku, Insya Allah ini juga bisa kami jalani,” ujarnya.

Yang paling menyentuh dari seremoni ini mungkin adalah momen penutupan. Reza meminta seluruh jajaran direksi yang berdiri di podium untuk menundukkan kepala sejenak—bukan untuk berdoa, melainkan untuk “mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang tidak bisa berdiri di sini, yang sudah berkeringat dan berlelah, yang namanya tidak tertulis di prospektus, tapi jasanya tertulis di setiap butir jelly yang sampai ke tangan konsumen.”

PT Niramas Utama Tbk (JELI) kini resmi melangkah ke panggung yang lebih besar. Tapi seperti pesan yang ditinggalkan pendirinya, langkah besar itu akan tetap diayunkan dengan hati yang kecil—penuh kerendahan dan rasa syukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User