Yulius Selvanus: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Utara

Yulius Selvanus: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Utara

Jul 11, 2026 - 09:34
Updated: 9 hours ago
0 1
Yulius Selvanus: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Utara

Pagi itu, matahari Manado belum sepenuhnya naik ketika sebuah mobil dinas hitam berhenti di depan sebuah warung bubur di kawasan Calaca. Seorang lelaki bertubuh tegap turun, menyapa pemilik warung dengan bahasa Manado yang fasih: "Mo bakudapa deng kita pagi-pagi, paitua?" Dialah Yulius Selvanus, Gubernur Sulawesi Utara. Tidak ada pengawalan ketat. Tidak ada kamera. Hanya seorang gubernur yang ingin sarapan bubur manado lengkap dengan sambal roa dan mendengar langsung keluhan warganya tentang harga ikan yang mulai naik. Adegan sederhana ini bukanlah pencitraan sesaat — inilah gaya kepemimpinan yang telah menjadi ciri khasnya sejak dilantik.

Dari Seragam Militer ke Kursi Gubernur

Lahir dan besar di tanah Minahasa, Yulius Selvanus bukanlah nama asing di kalangan militer sebelum terjun ke politik. Kariernya di TNI Angkatan Darat membentuk karakter disiplin yang khas. Puluhan tahun mengenakan seragam hijau membuatnya terbiasa dengan rutinitas ketat, bangun pukul empat pagi, dan ketepatan waktu yang nyaris obsesif. Namun di balik postur tegap dan suara baritonnya yang khas, tersimpan sisi humanis yang jarang terekspos.

Mereka yang pernah bekerja dengannya bercerita tentang seorang perwira yang selalu menyempatkan diri mengunjungi prajuritnya yang sakit di rumah sakit, yang hafal nama anak buahnya satu per satu. "Seorang pemimpin harus tahu siapa yang dipimpinnya. Bukan sekadar nama, tapi cerita hidupnya," begitu prinsip yang sering ia ucapkan. Prinsip inilah yang kemudian menjadi fondasi kepemimpinannya ketika ia memutuskan untuk berganti seragam dari loreng hijau ke kemeja putih gubernur pada tahun 2025.

Jalan menuju kursi Gubernur Sulawesi Utara tidaklah mudah. Berbekal pengalaman panjang di dunia militer dan jaringan yang dibangunnya selama bertahun-tahun, ia memasuki kontestasi politik dengan modal sosial yang kuat. Masyarakat Sulawesi Utara mengenalnya sebagai sosok yang sederhana dan mudah dijangkau — kualitas yang menjadi pembeda signifikan di tengah tren politik elektoral yang semakin transaksional. Kemenangannya menandai babak baru bagi provinsi berpenduduk lebih dari 2,6 juta jiwa ini.

Kinerja dan Program Unggulan: Membangun dari Pinggiran

Setahun pertama kepemimpinannya tidaklah mulus. Anggaran yang terbatas dan warisan masalah infrastruktur dari periode sebelumnya menjadi batu ujian pertama. Namun Yulius memilih strategi yang tidak populer: ia memangkas anggaran perjalanan dinas hingga 40 persen dan mengalihkannya ke pembangunan jalan di kepulauan terluar. Keputusan ini sempat menuai protes dari kalangan birokrat, tapi ia bergeming.

Hasilnya mulai terlihat. Pada awal 2026, program "Sulut Menyala" — akronim dari Menyeluruh, Nyata, dan Langsung — berhasil menghubungkan tiga desa terisolasi di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang sebelumnya hanya bisa dijangkau dengan perahu selama empat jam. Kini, akses jalan darat telah memangkas waktu tempuh menjadi 45 menit. Program ini menjadi bukti konkret pendekatan pembangunan yang ia sebut sebagai "membangun dari titik terluar, bukan dari pusat."

Di sektor kesehatan, gebrakan "Dokter Masuk Kampung" menjadi program andalannya. Setiap bulan, tim medis bergilir mengunjungi pulau-pulau terluar dengan kapal khusus yang dilengkapi fasilitas pemeriksaan dasar. Data Dinas Kesehatan Sulawesi Utara mencatat, angka kematian ibu melahirkan di wilayah kepulauan turun 22 persen sepanjang 2025. Di salah satu kunjungan ke Pulau Miangas, Yulius sempat terharu ketika seorang ibu tua memegang tangannya dan berkata, "Pak Gubernur, baru kali ini ada dokter yang datang ke sini. Torang merasa dilihat."

Pendekatan ekonomi kerakyatan juga menjadi fokus. Yulius meluncurkan program "Seribu Koperasi Desa" yang memberikan modal awal dan pendampingan bagi koperasi di tingkat desa. Program ini secara khusus menyasar petani kelapa, nelayan, dan perajin lokal yang selama ini terjebak dalam lingkaran tengkulak. Hingga pertengahan 2026, tercatat lebih dari 600 koperasi telah terbentuk, dengan omzet rata-rata meningkat 35 persen dari sebelumnya.

Kepemimpinan di Tengah Badai

Namun perjalanan Yulius tidak lepas dari kritik. Beberapa kalangan menilai pendekatan militernya terlalu kaku, terutama dalam penanganan birokrasi yang membutuhkan fleksibilitas. Sejumlah proyek infrastruktur besar sempat tersendat karena ia bersikeras menerapkan standar pengawasan ketat yang belum terbiasa diterapkan di lingkungan pemerintahan sipil. "Saya tidak minta maaf untuk standar tinggi. Yang tidak bisa mengikuti, silakan mundur," ujarnya dalam sebuah rapat koordinasi yang sempat viral di media sosial — memicu perdebatan antara yang mengagumi ketegasannya dan yang menganggapnya otoriter.

Tantangan terbesar justru datang dari luar: dinamika politik 2026 di tingkat nasional turut memengaruhi stabilitas anggaran daerah. Pemangkasan dana transfer dari pusat memaksa Yulius mengambil langkah-langkah efisiensi yang tidak populer, termasuk rasionalisasi pegawai honorer. Dalam salah satu sesi tatap muka dengan perwakilan pegawai yang terdampak, ia hadir sendiri tanpa staf khusus, mendengarkan satu per satu keluhan mereka selama hampir empat jam. "Pemimpin itu bukan cuma soal mengambil keputusan, tapi juga soal hadir ketika keputusan itu menyakitkan," katanya.

Refleksi: Menjaga Api di Tengah Angin

Matahari sore di Manado memantulkan warna jingga di permukaan laut ketika Yulius duduk di bangku panjang di tepi pantai Malalayang, memperhatikan anak-anak bermain bola. Di sela-sela jadwalnya yang padat, ia sering menyempatkan diri ke tempat ini — tempat yang sama di mana ia bermain semasa kecil. "Di sini saya diingatkan

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User