Pagi itu, halaman kantor gubernur masih basah oleh embun. Yulius Selvanus sudah berdiri di depan jendela, memandang hamparan Teluk Manado yang tenang. Di tangannya, peta Sulawesi Utara dengan sejumlah titik merah — desa tertinggal, jalan rusak, dan wilayah blank spot sinyal. “Ini bukan sekadar tinta,” katanya suatu kali kepada ajudan, “ini adalah janji yang belum tertagih.”
Profil Singkat
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Yulius Selvanus lahir di Tomohon, 14 Juli 1967. Kota sejuk di kaki Gunung Lokon itu membentuk karakternya: tenang, dalam, tapi menyimpan daya ledak saat dibutuhkan. Ia anak keempat dari tujuh bersaudara — lahir dari ayah seorang veteran dan ibu yang sehari-hari berdagang hasil kebun. Masa kecilnya dihabiskan dengan membantu orangtua; pagi sekolah, siang menjajakan sayur di pasar. Disiplin dan etos kerja bersahaja itu kemudian menjadi fondasi sepanjang kariernya.
Selepas SMA, Yulius masuk Akademi Militer dan lulus pada 1989. Ia meniti karier di satuan infanteri, dikenal sebagai perwira lapangan yang lebih suka turun langsung ketimbang duduk berlama-lama di markas. Rekan-rekannya mengenang, Yulius kerap membawa ransel lebih berat saat latihan: katanya, “Makin berat beban, makin kuat kaki menapak.” Filosofi itu pula yang ia bawa ketika akhirnya banting setir memasuki dunia politik pada 2024.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier militernya panjang dan terukur. Ia pernah menjabat Komandan Kodim, kemudian Asisten Operasi di beberapa komando teritorial. Puncaknya, ia dipercaya sebagai Danrem 131/Santiago yang membawahi wilayah Sulawesi Utara — posisi yang memberinya pemahaman mendalam tentang kondisi sosial, geografis, dan ketahanan daerah ini. Ia juga sempat bertugas di Papua dan perbatasan Kalimantan, menangani kerawanan konflik sosial dan keamanan perbatasan.
Pada 2023, dengan pangkat Mayor Jenderal, ia memutuskan pensiun dini. Bukan karena lelah, tapi karena panggilan yang berbeda: “Saya ingin melayani dengan cara yang tidak lagi dibatasi rantai komando,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Ia mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Utara, berpasangan dengan birokrat senior, dan memenangkan pemilihan pada akhir 2024. Pelantikannya pada 20 Februari 2025 menjadi momen transisi dari seragam loreng ke setelan sipil — sebuah metamorfosis yang ia jalani dengan rendah hati.
Kinerja dan Program Unggulan
Seratus hari pertama Yulius Selvanus diwarnai blusukan ke pelosok Bolaang Mongondow, Kepulauan Sangihe, hingga Talaud. Ia tidak hanya mendengar keluhan, tetapi mencatat detail: berapa harga semen di pulau terluar, berapa jam listrik menyala, berapa anak yang putus sekolah karena akses. Dari sanalah lahir program prioritas yang ia sebut “Torang Samua Basudara” — sebuah payung besar yang menaungi pembangunan infrastruktur perbatasan, pemerataan ekonomi, dan perlindungan sosial.
Hingga pertengahan 2026, sejumlah capaian konkret sudah bisa diukur. Program Sulut Maju fokus pada tiga pilar: konektivitas, energi, dan pangan. Di sektor konektivitas, ia mendorong percepatan pembangunan Jalan Lingkar Utara yang menghubungkan Manado-Bitung-Likupang, memangkas waktu tempuh hingga 40 persen. Untuk energi, ia memastikan 70 persen desa di pulau-pulau kecil kini mendapat aliran listrik 24 jam melalui PLTS dan mikrohidro. Sementara di sektor pangan, produksi kelapa dan perikanan meningkat signifikan berkat kemitraan dengan koperasi lokal dan akses pasar ekspor yang ia buka langsung ke Jepang dan Korea Selatan.
Yang menarik adalah pendekatan humanisnya. Ia membentuk Rumah Aspirasi di setiap wilayah adat dan kecamatan. Bukan sekadar papan nama, melainkan tenda-tenda diskusi rutin yang ia hadiri sendiri. “Saya tidak ingin menjadi gubernur yang hanya muncul di spanduk,” katanya. Dalam periode pertamanya ini, indeks kepuasan publik terhadap pemerintah provinsi naik dari 71 ke 84 (BPS Sulut, survei Maret 2026).
Tak kalah penting adalah pengelolaan pariwisata. Likupang sebagai Destinasi Super Prioritas terus diperkuat dengan zonasi ketat dan pelibatan masyarakat adat sebagai tuan rumah — sebuah kebijakan yang menuai pujian dari Kementerian Pariwisata.
Tantangan dan Harapan
Tentu saja, perjalanannya tidak mulus. Ia dikritik karena dianggap lamban menangani sengketa lahan di kawasan tambang Bitung. Ada pula suara sumbang soal gaya kepemimpinannya yang masih kental militer: terlalu hierarkis, kurang cair. Namun Yulius merespons dengan santai: “Disiplin itu bukan milik tentara, itu milik semua orang yang ingin maju. Tapi saya belajar, bahwa dalam pemerintahan, dialog lebih dahulu, eksekusi belakangan.”
Hingga hari ini, Yulius masih terlihat sering berjalan kaki di sekitar Pasar Bersehati Manado, tanpa pengawalan ketat. Ia suka bercengkerama dengan nelayan, bertukar cerita soal cuaca dan tangkapan. Seorang pedagang ikan pernah bertanya, “Bapak tidak takut dikira bukan gubernur?” Ia
Comments (0)