Anwar Hafid: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Tengah
Anwar Hafid: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Tengah
Senja di Bungku, kabupaten kecil di pesisir timur Sulawesi Tengah. Seorang bocah laki-laki berlari tanpa alas kaki di atas pasir yang mulai mendingin. Tangannya menggenggam layang-layang dari kertas minyak, benang gelasan melingkar di pergelangan tangan. Tak ada yang menyangka bocah itu kelak akan memimpin salah satu provinsi paling kompleks di Indonesia. Tapi itulah Anwar Hafid. Gubernur Sulawesi Tengah periode 2024-2029. Lelaki yang lahir dari rumah panggung sederhana di Morowali, 24 Agustus 1974. Anak nelayan. Saksi bisu bagaimana laut memberi, tapi tak jarang juga mengambil.
Cerita hidup Anwar Hafid bukan cerita tentang lompatan instan. Ia adalah narasi panjang tentang ketekunan. Selepas SMA, ia merantau ke Palu, masuk Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako. Untuk membiayai kuliah, ia berjualan apa saja: pulsa, pakaian bekas, bahkan sempat menjadi sopir angkot. Masa-masa itu membentuk karakternya: ngotot, tidak gampang menyerah, dan selalu dekat dengan orang-orang kecil. Sebab ia tahu persis rasanya berdiri di sana.
Karier dan Riwayat Jabatan: Dari Desa ke Panggung Nasional
Jejak politik Anwar Hafid dimulai dari bawah. Setelah bertahun-tahun menjadi pengusaha, ia memutuskan pulang dan mengabdi di kampung halamannya. Pada 2007, ia terpilih menjadi Bupati Morowali. Saat itu, Morowali masih tertinggal jauh — listrik byar-pet, jalan berlubang, akses kesehatan seperti kemewahan. Anwar meluncurkan program jaminan kesehatan gratis sebelum ada BPJS. Ia bangun rumah sakit tanpa memungut biaya sepeser pun dari warga. Namanya mulai diperbincangkan; bukan karena pencitraan, tapi karena hasil.
Dua periode memimpin Morowali (2007-2018) memberinya bekal berharga. Ia paham bagaimana mengelola daerah dengan anggaran terbatas sambil menarik investasi. Pada 2019, ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari dapil Sulawesi Tengah, duduk di Komisi IX yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan. Di Senayan, ia vokal memperjuangkan isu-isu daerah: meminta pemerintah pusat serius menangani persoalan TKI ilegal asal Sulteng, mendesak perbaikan data penerima bantuan sosial, dan mengkritik birokrasi yang lamban.
Puncaknya, pada Pilkada Serentak 2024, Anwar Hafid berpasangan dengan Reny Lamadjido. Mereka menang telak dan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah pada Februari 2025. Kampanyenya sederhana: tagline "Berani dan Berbakti." Ia berjanji akan memulai apa yang ia sebut "revolusi layanan dasar" — revolusi yang, menurutnya, harus dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan rakyat.
Kinerja dan Program Unggulan: Revolusi Layanan Dasar
Memasuki tahun kedua kepemimpinannya di 2026, sejumlah kebijakan Anwar Hafid mulai menunjukkan corak. Satu hal yang paling menonjol: ia ingin memastikan bahwa janji kampanyenya tidak sekadar slogan. Program andalannya adalah:
- Program "Sulteng Sehat": Perluasan cakupan Universal Health Coverage (UHC) hingga ke pulau-pulau terluar dan daerah perbatasan. Pada awal 2026, Pemprov mengoperasikan tiga rumah sakit terapung yang melayani Kepulauan Togean, Banggai Laut, dan Teluk Tomini. Setiap kapal dilengkapi fasilitas operasi minor, farmasi, dan tenaga dokter spesialis yang bergilir.
- Gerakan Petani Milenial (GPM): Memberikan hibah lahan, bibit, dan pendampingan kepada pemuda desa. Pada pertengahan 2026, program ini telah mencetak lebih dari 8.000 petani muda dengan komoditas jagung, kakao, dan kelapa organik yang diekspor langsung ke Timur Tengah.
- Beasiswa Morowali-Sulteng: Diadaptasi dari program yang ia rintis saat menjadi bupati. Kini, ribuan mahasiswa Sulteng dari keluarga prasejahtera menikmati pendidikan gratis di dalam dan luar negeri, dengan ikatan dinas kembali membangun daerah.
"Saya tidak ingin anak-anak kita kehilangan mimpi hanya karena tidak punya uang. Saya juga pernah di posisi itu. Dan saya buktikan, kemiskinan bukan kutukan, tapi panggilan untuk bekerja lebih keras," ujar Anwar dalam pidato Hari Pendidikan Nasional 2025 di Palu, matanya berkaca-kaca.
Di sektor infrastruktur, ia mengambil pendekatan berbeda. Tidak hanya membangun jalan dan jembatan, Anwar memprioritaskan konektivitas antarpulau. Pada 2026, rute kapal cepat yang menghubungkan Palu, Morowali, dan Banggai mulai beroperasi penuh — memangkas waktu tempuh yang tadinya bisa 12 jam menjadi hanya empat jam. Ia juga meresmikan Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie yang telah direvitalisasi, membuka rute langsung ke Surabaya dan Makassar.
Tantangan dan Harapan: Menjaga Hati di Tengah Pusaran
Tentu, memimpin Sulawesi Tengah bukan tanpa batu sandungan. Provinsi ini menyimpan paradoks: kaya sumber daya alam — nikel, emas, gas — tapi kemiskinan masih menyentuh dua digit. Kehadiran industri tambang dan smelter raksasa di Morowali dan sekitarnya membawa kemakmuran, tapi juga kerawanan sosial: kesenjangan, konflik lahan, dan kerusakan lingkungan yang mengintip dari balik asap pabrik. Anwar Hafid harus menari di atas kawat, menyeimbangkan kebutuhan investasi dengan keberpihakan pada warga lokal. Beberapa LSM lingkungan mengkritiknya karena dianggap terlalu akomodatif terhadap korporasi besar. Namun ia membela diri: "Saya tidak anti-investasi. Tapi investasi harus membuat rakyat saya naik kelas, bukan sekadar jadi penonton di tanah sendiri."
Di penghujung hari, mungkin Anwar Hafid akan kembali mengenang rumah panggungnya di Morowali. Rumah yang mengajarinya bahwa kepemimpinan bukan soal kemewahan, melainkan soal seberapa banyak orang yang bisa diajak naik ke atas. Jalan masih panjang. Tapi jika masa lalu bisa jadi petunjuk, Sulteng kini dipimpin oleh seseorang yang tahu bagaimana rasanya berjalan tanpa alas kaki — dan bertekad agar generasi berikutnya tak perlu mengalaminya lagi.
Comments (0)