Hari masih pagi ketika sebuah mobil dinas berhenti di depan pasar tradisional di kawasan Abepura. Seorang pria berbadan tegap turun, menyingsingkan lengan kemeja putihnya, lalu masuk ke dalam pasar. Ia bukan petugas kebersihan, bukan pula pedagang. Dialah Benhur Tomi Mano, Gubernur Papua, yang memilih memulai hari dengan mengecek langsung harga cabai dan bawang di pasar rakyat. Seorang ibu penjual sayur sempat terkejut, "Bapak Gubernur sendiri yang datang? Biasanya hanya anak buah." Adegan kecil ini bukan sekadar pencitraan, melainkan potongan dari gaya kepemimpinan pria kelahiran Serui, 10 Juli 1965 itu: dekat, sederhana, dan ingin tahu langsung apa yang dirasakan warganya.
Profil Singkat
Benhur Tomi Mano tumbuh di Kepulauan Yapen, dari keluarga yang menanamkan nilai pelayanan dan keteguhan. Ayahnya adalah seorang pendeta yang kerap membawa Benhur kecil mengunjungi jemaat di kampung-kampung terpencil. Dari sanalah ia belajar bahwa memimpin adalah tentang hadir, bukan sekadar memerintah. Setelah menamatkan pendidikan menengah di Jayapura, Benhur melanjutkan studi ke Universitas Cenderawasih, mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan. Bekal akademis ini menjadi fondasi panjang karier birokratnya, yang dimulai dari eselon rendah hingga akhirnya menduduki kursi orang nomor satu di Tanah Papua.
Sosoknya dikenal sebagai pekerja keras yang jarang bicara berlebihan. Ia lebih suka menyelesaikan satu masalah nyata daripada menggelar sepuluh seremoni. Di mata koleganya di pemerintahan, Benhur adalah birokrat tulen yang memahami seluk-beluk administrasi sekaligus punya naluri politik tajam. Ia menikah dengan Ny. Yulce Wenda dan dikaruniai empat orang anak. Kehidupan keluarga yang tenang di Abepura menjadi jangkarnya di tengah riuhnya dinamika politik Papua.
Karier dan Riwayat Jabatan
Jejak karier Benhur Tomi Mano adalah potret perjalanan panjang seorang aparatur sipil negara yang naik setapak demi setapak. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Distrik, kemudian Sekretaris Daerah Kabupaten Waropen. Puncak birokrasinya terjadi ketika ia dipercaya menjadi Penjabat Bupati Waropen pada tahun 2010. Di sinilah namanya mulai dikenal luas sebagai pemimpin yang cakap mengelola pemerintahan daerah.
Lompatan besar terjadi pada 2012, saat ia terpilih menjadi Wali Kota Jayapura periode 2012-2017. Kepemimpinannya di ibu kota provinsi itu mencuri perhatian karena pendekatan pembangunan yang rapi dan terencana. Ia berhasil memenangkan periode kedua pada 2017, mengantongi suara dominan. Prestasi di Jayapura inilah yang mengantarkannya ke panggung lebih tinggi: Pemilihan Gubernur Papua 2024. Berpasangan dengan Yermias Bisai, Benhur memenangkan kontestasi dengan perolehan suara meyakinkan, dan resmi dilantik sebagai Gubernur Papua pada awal 2025.
Kinerja dan Program Unggulan
Memimpin Papua bukanlah tugas ringan. Provinsi dengan bentang geografis terjal dan keberagaman kultur tinggi ini memerlukan pendekatan yang tidak bisa diseragamkan. Benhur memahami betul hal itu. Di tahun pertamanya, ia meluncurkan program Satu Papua Sehat, sebuah inisiatif layanan kesehatan bergerak yang menjangkau distrik-distrik terdalam menggunakan perahu dan kendaraan segala medan. Program ini langsung menyentuh warga di Pegunungan Bintang, Yahukimo, hingga pedalaman Mamberamo yang selama puluhan tahun hanya bisa bermimpi mendapatkan dokter spesialis.
Infrastruktur menjadi prioritas keduanya. Ia mempercepat penyelesaian Jalan Trans-Papua segmen selatan yang menghubungkan Merauke hingga Wamena. "Jalan adalah urat nadi peradaban," begitu ucapnya dalam sebuah rapat koordinasi di Timika. Yang membedakan pendekatan Benhur adalah penekanannya pada pemberdayaan tenaga kerja lokal. Ia menerbitkan instruksi gubernur yang mewajibkan kontraktor proyek infrastruktur merekrut minimal 70 persen pekerja dari Orang Asli Papua (OAP).
Di sektor pendidikan, Benhur menggagas beasiswa Anak Emas Papua yang mengirimkan 500 pelajar dan mahasiswa ke universitas-universitas terbaik di Indonesia dan luar negeri setiap tahunnya. Program ini lahir dari keyakinannya bahwa masa depan Papua tidak akan dibangun oleh tembaga dan emas dari perut bumi, melainkan oleh otak-otak cemerlang generasi mudanya.
Reformasi birokrasi juga menjadi sorotan. Benhur memberlakukan sistem evaluasi kinerja berbasis digital untuk seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), memotong rantai birokrasi yang berbelit, dan memberantas praktik pungutan liar yang telah mengakar. Hasilnya, pada akhir 2025, indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik di Papua naik signifikan.
Tantangan dan Harapan
Jalan di depan Gubernur Benhur masih terjal. Masalah keamanan di wilayah rawan konflik bersenjata, ketimpangan antarwilayah, serta maraknya peredaran minuman keras ilegal dan narkoba di kalangan remaja adalah pekerjaan rumah besar. Kelompok-kelompok sipil kerap mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur fisik harus berjalan selaras dengan pengakuan hak-hak adat dan perlindungan lingkungan. Benhur tampaknya mendengar suara-suara itu. Ia membentuk forum dialog rutin dengan para kepala suku, tokoh perempuan, dan pemuda gereja, berupaya merajut kembali kepercayaan yang sempat renggang.
"Papua ini rumah besar. Kalau pondasinya goyah, semua yang tinggal di dalamnya akan ikut merasakan. Saya tidak ingin membangun Papua hanya dengan semen dan aspal, tetapi dengan hati yang saling percaya."
Kalimat itu ia ucapkan dalam sebuah pertemuan adat di Lanny Jaya, di hadapan para ondofolo dan kepala suku. Ada keheningan sejenak, lalu tepukan tangan bergemuruh. Di situlah potret Benhur Tomi Mano yang sesungguhnya: bukan gubernur yang hanya duduk di balik meja besar berlapis kaca, melainkan seorang pendengar yang memilih duduk di tikar anyaman bersama rakyatnya, menatap bintang, dan merawat asa bahwa Papua bisa bangkit dengan caranya sendiri.
Comments (0)