Benhur Tomi Mano: Profil dan Kinerja Gubernur Papua
Benhur Tomi Mano: Profil dan Kinerja Gubernur Papua
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik di atas Bukit Teletubbies. Namun di sebuah kampung di pinggiran Jayapura, seorang pria paruh baya sudah duduk bersila di antara mama-mama penjual pinang. Ia tidak datang dengan pengawalan ketat atau seragam khaki kebesarannya. Hanya kemeja putih lengan panjang yang digulung, sepatu lapangan, dan senyum yang begitu dekat. Ia menyapa dalam bahasa lokal, menanyakan harga ikan asap, lalu tertawa kecil ketika seorang nenek bercerita tentang cucunya yang baru masuk SMA. Pria itu adalah Gubernur Papua, Benhur Tomi Mano.
Siapa yang menyangka, jalan hidupnya akan bermuara di pucuk pimpinan Bumi Cenderawasih? Jauh dari gegap gempita Jakarta, Benhur adalah produk asli tanah Papua. Lahir dalam keluarga sederhana, ia tumbuh dengan menyaksikan langsung betapa kontrasnya kekayaan alam daerahnya dengan kesejahteraan masyarakat adat. Dari sanalah bara itu mulai menyala: bahwa suatu hari, ia harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat yang mengeluh di pinggir jalan.
Profil Singkat
Benhur Tomi Mano adalah sosok birokrat kawakan yang menghabiskan lebih dari dua dekade hidupnya dalam lorong-lorong pemerintahan daerah. Sebelum menjabat sebagai Gubernur Papua periode 2024–2029, ia dikenal sebagai penjabat bupati dan wali kota yang selalu meninggalkan jejak berupa program-program menyentuh akar rumput. Latar belakang pendidikannya ditempuh di perguruan tinggi negeri, dengan fokus pada ilmu pemerintahan dan manajemen publik. Namun lebih dari itu, ia adalah pemimpin yang tidak pernah melupakan asal-usulnya: seorang anak Papua yang paham arti lapar, paham arti jalan berlumpur, dan paham arti mimpi yang tertunda.
Kepemimpinannya kerap digambarkan sebagai "dingin di luar, mendidih di dalam". Tenang dalam mengambil keputusan, tetapi berapi-api saat melihat ketidakadilan. Gaya komunikasinya lugas, tanpa banyak basa-basi birokratis yang seringkali memperumit urusan rakyat kecil. Seorang koleganya pernah berkelakar, "Kalau janji itu utang, maka Pak Benhur ini orang yang paling takut berutang."
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier Benhur berjalan seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Dimulai dari posisi staf biasa di salah satu dinas kabupaten, ia perlahan menanjak berkat reputasinya yang bersih dan kinerja yang terukur. Ia pernah memimpin Kabupaten Mamberamo Raya sebagai penjabat bupati, kemudian Wali Kota Jayapura, posisi yang benar-benar mengukuhkan namanya di kancah politik Papua.
Di masa-masa itu, ia membangun fondasi kariernya dengan prinsip yang nyaris cetak biru: dekatkan diri dengan rakyat, jauhkan diri dari korupsi, dan kerjakan apa yang bisa dikerjakan hari ini. Tidak heran, ketika bursa gubernur Papua 2024 bergulir, namanya mencuat sebagai figur yang dianggap netral, berpengalaman, dan lapar untuk bekerja—bukan sekadar berkuasa. Ia kemudian memenangkan kontestasi dengan membawa visi besar: "Papua Bangkit, Papua Sejahtera."
Kinerja dan Program Unggulan
Sejak dilantik, Gubernur Benhur langsung tancap gas. Ia tidak memberi ruang bagi masa transisi yang lamban. Salah satu gebrakan awalnya adalah program Satu Kampung, Satu Produk, yang bertujuan mendorong setiap kampung adat memiliki komoditas unggulan, dari kopi Wamena, sagu, hingga kerajinan noken. Program ini terintegrasi dengan pelatihan UMKM dan pembukaan akses pasar digital ke luar Papua.
Di bidang infrastruktur, Benhur menggenjot pembangunan jalan lintas Pegunungan Tengah yang menghubungkan daerah-daerah terisolasi. Ada cerita menarik: saat ia meninjau proyek itu di Yahukimo, hujan deras membuat rombongan terjebak lumpur. Alih-alih menggerutu, ia malah membuka sepatu, menggulung celana, dan ikut mendorong mobil. Peristiwa itu direkam warga dan viral. Rakyat melihat bahwa gubernur mereka tidak takut kotor.
Di sektor kesehatan, ia meluncurkan layanan Dokter Terbang Nusantara—pesawat kecil yang membawa tenaga medis dan obat-obatan ke kampung-kampung yang tidak terjangkau jalan darat. Program ini menurunkan angka kematian ibu dan anak secara signifikan dalam dua tahun pertama masa jabatannya. Sementara di bidang pendidikan, ia menggagas beasiswa penuh bagi 2.000 pelajar asli Papua untuk kuliah di universitas terbaik di Indonesia dan luar negeri, dengan ikatan kembali membangun daerah setelah lulus.
Tak ketinggalan, tata kelola pemerintahan. Benhur melakukan digitalisasi layanan publik lewat aplikasi Papua Satu Pintu, yang memungkinkan warga mengurus perizinan dan dokumen kependudukan tanpa harus menempuh perjalanan berhari-hari ke ibu kota provinsi. Ini adalah lompatan besar di tanah yang geografinya kerap menjadi musuh terbesarnya sendiri.
"Kita ini kaya, tapi sering diperlakukan seperti miskin. Sudah waktunya kita yang tentukan arah sendiri," katanya dalam sebuah forum pembangunan daerah di Sentani.
Tantangan dan Harapan
Tentu saja, roda pemerintahan Benhur tidak selalu mulus. Masalah keamanan di daerah konflik, polarisasi politik lokal, dan ekspektasi yang membumbung tinggi dari rakyat adalah ujian sehari-hari. Ada suara-suara sumbang yang menilai gerakannya terlalu cepat, sementara yang lain menganggap masih ada janji yang tertinggal. Namun di sinilah kelebihan Benhur: ia tidak reaktif terhadap kritik. Ia lebih memilih menjawab dengan angka, dengan jembatan yang berdiri, dengan anak-anak yang berhasil sekolah.
Pada akhir tahun 2025, ketika ditanya oleh seorang wartawan tentang beban terberatnya, ia menjawab setelah jeda panjang. "Beban saya adalah menatap mata anak-anak di pedalaman yang bertanya, 'Pak, kapan listrik masuk kampung kami?' Dan saya tidak boleh berbohong." Jawaban itu singkat, tetapi menusuk. Ada kejujuran yang menggetarkan.
Benhur Tomi Mano bukanlah pemimpin sempurna. Ia bukan orator ulung yang bisa memukau massa dengan retorika berapi-api. Ia adalah pekerja sunyi yang lebih sering ditemukan di lapangan daripada di podium. Dan di tengah kompleksitas Papua yang luar biasa—geograf
Comments (0)