Aug 27, 2026
Politik

Hendrik Lewerissa: Profil dan Kinerja Gubernur Maluku

Hendrik Lewerissa: Profil dan Kinerja Gubernur Maluku

Hendrik Lewerissa: Profil dan Kinerja Gubernur Maluku

Pagi itu, langit Ambon baru saja melepaskan gerimis. Di ruang kerjanya yang menghadap langsung ke Teluk Ambon, Hendrik Lewerissa tengah mengamati deretan kapal yang bersandar. Tangannya sesekali menunjuk ke arah Pelabuhan Yos Sudarso yang tampak bergeliat. “Di situ, di atas laut itu, masa depan Maluku,” ujarnya lirih, mengawali perbincangan tentang tanah kelahirannya.

Lahir di Ambon pada 2 Maret 1968, Hendrik Lewerissa tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi pendidikan dan adat. Ayahnya seorang pegawai negeri, ibunya penenun kain tradisional Maluku. Dari sang ibu, ia belajar tentang ketekunan. Dari sang ayah, ia mewarisi kecintaan pada birokrasi yang bersih. Keduanya menjadi fondasi yang kelak membentuk karakter kepemimpinannya.

Sosoknya dikenal rendah hati, namun tegas. Ia jarang bicara banyak, tapi setiap katanya terukur. Di mata koleganya, Hendrik adalah negosiator ulung yang selalu mencari titik temu—sebuah keterampilan yang ditempa selama puluhan tahun berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan.

Karier dan Riwayat Jabatan

Jalan karier Hendrik Lewerissa tidak instan. Ia memulainya dari bawah, sebagai staf di Sekretariat Daerah Provinsi Maluku pada awal 1990-an. Kemampuannya membaca peta politik dan mengelola hubungan antarwilayah mendorongnya menduduki berbagai posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Maluku, lalu dipercaya menjadi Staf Ahli Gubernur bidang Pemerintahan.

Puncaknya, pada Pemilihan Gubernur Maluku 2024, Hendrik maju dengan membawa narasi besar:

“Maluku Harus Bangkit dari Laut.”
Ia menawarkan visi pembangunan berbasis maritim yang inklusif. Didampingi oleh Abdulah Vanath sebagai wakil, pasangan ini memenangkan kontestasi dengan perolehan suara signifikan. Dilantik pada awal 2025, Hendrik resmi memimpin Maluku untuk periode 2025-2030.

Yang menarik dari pelantikannya, Hendrik memilih lokasi berbeda: di halaman Kantor Gubernur Maluku, terbuka, disaksikan langsung oleh masyarakat. Sebuah gestur simbolik bahwa ia ingin memerintah dengan transparan dan dekat dengan rakyat.

Kinerja dan Program Unggulan

Setahun pertama kepemimpinan Hendrik tidak berjalan mulus. Anggaran terbatas, tantangan geografis, serta ekspektasi publik yang tinggi menjadi ujian awal. Namun, perlahan ia menunjukkan arah yang jelas. Ada tiga program unggulan yang menjadi ruhnya: Jembatan Laut Maluku, Seribu Beasiswa Anak Pulau, dan Maluku Sehat 2026.

Program Jembatan Laut Maluku menyasar konektivitas antarpulau. Hingga pertengahan 2026, tujuh kapal perintis baru telah dioperasikan, menghubungkan Pulau Buru, Seram Bagian Timur, Kepulauan Aru, dan Maluku Barat Daya. Biaya logistik perlahan turun, harga kebutuhan pokok mulai stabil di daerah-daerah terpencil.

Di bidang pendidikan, Hendrik mengalokasikan dana beasiswa untuk 1.200 pemuda-pemudi Maluku, terutama dari keluarga nelayan dan petani, agar bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Langkah ini diambil karena ia percaya, Maluku tidak akan maju tanpa sumber daya manusia yang terdidik.

Sementara itu, Maluku Sehat 2026 fokus pada peningkatan layanan kesehatan di puskesmas pulau. Hingga kini, 35 puskesmas telah direvitalisasi dengan tambahan tenaga medis dan fasilitas telemedicine.

Tantangan dan Harapan

Tidak semua berjalan mulus. Masih ada keluhan soal lambatnya birokrasi, praktik korupsi di level bawah, serta ancaman perubahan iklim yang menggerus garis pantai di pulau-pulau kecil. Hendrik tidak menutup mata. Ia membentuk Satgas Reformasi Birokrasi yang langsung bertanggung jawab kepadanya. Beberapa kepala dinas diganti, dan sistem pengawasan diperketat.

Yang paling membekas dari sosoknya adalah caranya mendengar. Di setiap kunjungan ke desa-desa, ia selalu menyempatkan diri duduk di beranda rumah warga, menyeruput kopi, dan mendengar cerita mereka. “Pemimpin itu bukan yang paling lantang bicara, tapi yang paling tahan mendengar,” ujarnya suatu kali di hadapan mahasiswa Universitas Pattimura.

Kini, di tahun keduanya memimpin, Hendrik Lewerissa masih berdiri di titik yang sama: menghadap laut yang sama, dengan keyakinan yang tak banyak berubah. Bahwa Maluku, dengan segala kekayaan laut dan manusianya, bisa bangkit—bukan dengan retorika, tapi dengan kerja yang sunyi dan konsisten.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User