Zainal Arifin Paliwang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Utara

Zainal Arifin Paliwang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Utara

Jul 11, 2026 - 09:29
Updated: 10 hours ago
0 0
Zainal Arifin Paliwang: Profil dan Kinerja Gubernur Kalimantan Utara

Awal April 2025, sebuah pesan singkat menyebar di antara para pejabat di Tanjung Selor. Gubernur meminta izin. Bukan izin untuk sebuah proyek besar atau kunjungan kerja ke perbatasan. Ia meminta izin untuk beristirahat sejenak, menjalani perawatan medis di Jakarta. Tak ada yang menyangka, "sejenak" itu akan berubah menjadi selamanya. Pada 4 April 2025, Kalimantan Utara kehilangan "Bapak Asuh" yang baru saja mereka pilih kembali untuk kedua kalinya.

Kawah Candradimuka Sang Jenderal

Jauh sebelum memegang kendali pemerintahan, tangan Zainal lebih akrab dengan senjata dan seragam. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 ini bukanlah birokrat karier yang tumbuh dari meja ke meja. Ia ditempa dalam kerasnya penugasan di berbagai pelosok. Dapur pertempuran melawan gerilyawan di Aceh menjadi salah satu catatan penting dalam resumenya. Di sana, naluri bertahan dan membaca situasi terasah tajam.

Namun, siapa sangka jenderal bintang dua yang tegas ini menyimpan kelembutan seorang pendidik? Transisi dari penegak hukum menjadi pemimpin daerah bukanlah lompatan tiba-tiba. Ia memulainya sebagai Wakapolda Kalimantan Utara. Di posisi inilah ia mulai jatuh cinta pada provinsi termuda di Indonesia ini. Ia melihat kekayaan yang melimpah, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana keterbatasan infrastruktur "memotong" akses masyarakat pada kesejahteraan. Saat beliau dipasangkan dengan Zulkifli Umar dan memenangkan Pilkada Kaltara 2020, ia sudah punya cetak biru. Ia ingin jadi Gubernur, bukan sekadar pejabat.

Benuanta: Lebih Dari Sekadar "Membangun Daerah"

Begitu sumpah jabatan terucap, Zainal memperkenalkan jargon "Benuanta". Bagi orang luar, itu hanya akronim dari "Benua Kita". Tapi bagi warga Kaltara, Benuanta adalah napas perjuangan. Ini bukan hanya soal beton dan aspal. Benuanta adalah upaya menyatukan hati masyarakat yang beragam—dari pesisir hingga pedalaman—dalam balutan ekonomi biru-hijau yang berkelanjutan.

Salah satu warisannya yang paling haru adalah tinta tanda tangan yang mengubah nasib ribuan anak perbatasan.

Dulu anak kita di perbatasan hanya bisa melongok ke Malaysia, melihat sekolah bagus tapi tak terjangkau. Sekarang negara hadir menjemput mereka melalui beasiswa. Ini soal harga diri kita sebagai bangsa,

ungkapnya suatu kali dalam sebuah diskusi santai di Pendopo Gubernur. Program beasiswa Kaltara Unggul adalah mahakaryanya di bidang pendidikan. Ribuan putra-putri Dayak, Tidung, Bulungan, dan suku lainnya digembleng di universitas-universitas top di Pulau Jawa. Ia yakin, di pundak merekalah masa depan transformasi ekonomi Kaltara diletakkan.

Manuver di Bayang-bayang IKN

Menjabat sebagai Gubernur Kaltara di era pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ada potensi limpahan ekonomi; di sisi lain, ada ancaman disparitas. Zainal sigap membaca situasi. Ia tak mau Kaltara hanya jadi "pagar" yang menjaga IKN, tetapi tak menikmati kemakmuran. Di bawah komandonya, Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Tanah Kuning-Mangkupadi mulai bergeliat. Proyek raksasa seluas 23 ribu hektare itu mulai menarik investor global. Zainal memastikan, energi dari Sungai Kayan tak sekadar dialirkan ke pabrik, tetapi juga menerangi rumah-rumah warga di sekitarnya.

Tantangan terbesarnya adalah efisiensi. Ia kerap bercanda bahwa di Kaltara, waktu diukur dengan jarak tempuh pesawat, bukan kilometer. Untuk itu, ia mendorong percepatan pembangunan jalan paralel perbatasan yang menghubungkan kabupaten-kabupaten tanpa harus bergantung pada jalur sungai dan udara saja. Ia ingin memastikan bahwa logistik tidak lagi menjadi momok yang membuat harga kebutuhan pokok meroket di pedalaman.

Surat Cinta Terakhir Sang Bapak Asuh

Pilkada 2024 seharusnya menjadi momen kemenangan definitif. Bersama wakil barunya, Yansen TP, Zainal kembali meraih kepercayaan rakyat. Mereka dilantik pada Februari 2025. Senyumnya masih merekah saat menyapa warga di pelataran Masjid Agung Tanjung Selor sehabis pelantikan. Namun, raga sang jenderal rupanya sudah lama berperang melawan sakit yang tersembunyi. Kanker tiroid menggerogoti tubuh kekarnya dengan diam-diam.

Di sela-sela rapat, ia masih ngotot. Ia ingin memastikan "Benuanta" berjalan meski ia harus beristirahat. Namun, Tuhan punya rencana berbeda. Belum genap dua bulan dilantik untuk periode kedua, ia berpulang di Jakarta. Kabar itu menghantam Kaltara bagai petir di siang bolong. Bendera setengah tiang dikibarkan bukan untuk seremoni, tapi untuk luka.

Hari ini, kursi gubernur itu diduduki oleh Yansen TP, sang wakil yang kini melanjutkan estafet. Zainal Arifin Paliwang pergi, tetapi ia meninggalkan cetak biru yang utuh. Ia pergi sebagaimana ia datang: tenang, tanpa gembar-gembor, dan meninggalkan pekerjaan rumah yang kini menjadi tanggung jawab bersama. Di ruang kerjanya yang kini kosong, mungkin masih terngiang pesannya yang paling diingat para ajudannya:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User