Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat
Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat
Senja di Pantai Padang selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Ombak yang menggulung pelan, langit jingga yang merona, dan deru angin laut yang membawa aroma asin. Di tengah suasana magrib yang mulai menebal, seorang pria berpostur tegap dengan kemeja putih sederhana duduk di warung kopi pinggir pantai. Sesekali ia meladeni sapaan warga yang lewat, menyebut namanya dengan akrab: "Pak Kapolda." Tidak ada pengawalan ketat, tidak ada jarak. Hanya ada obrolan ringan tentang harga ikan dan keamanan kampung.
Itulah Irjen Pol. Suharyono. Seorang jenderal polisi bintang dua yang memilih turun ke warung kopi ketimbang bersembunyi di balik meja besar ruang kerjanya di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Barat. Baginya, mendengar langsung denyut nadi masyarakat adalah amunisi paling berharga dalam menjaga keamanan.
Profil Singkat
Lahir dari keluarga sederhana di Jawa Tengah, Irjen Pol Suharyono tumbuh dalam lingkungan yang menghargai kedisiplinan dan kerja keras. Pria kelahiran 1968 ini memulai kariernya di kepolisian dari nol, seusai menamatkan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1989. Tidak banyak yang tahu, sebelum mencapai posisi strategisnya sekarang, ia pernah bertugas di daerah-daerah rawan konflik, termasuk Aceh dan Papua, yang membentuk karakternya sebagai perwira lapangan yang tangguh dan mengerti betul bahwa keamanan bukan hanya soal peluru dan tongkat pemukul, melainkan juga soal bagaimana hati masyarakat bisa ditaklukkan.
"Polisi itu profesi mulia. Tapi kemuliaan itu tidak turun dari langit. Ia harus dijemput dengan kerja yang jujur dan keberpihakan kepada rakyat."
Sebelum menjabat sebagai Kapolda Sumatera Barat, Irjen Suharyono mencatatkan sejumlah posisi kunci dalam tubuh Polri. Ia pernah menjadi Kapolres di beberapa wilayah, menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum di Polda Jawa Timur, hingga akhirnya dipercaya sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi di Mabes Polri. Rekam jejaknya yang konsisten dalam mengungkap kasus-kasus besar—mulai dari jaringan narkotika lintas provinsi hingga tindak pidana korupsi kelas kakap—membuat namanya disebut-sebut sebagai salah satu perwira yang "bersih dan sulit diajak kompromi."
Karier dan Riwayat Jabatan
Mereka yang pernah bekerja dengan Irjen Suharyono menggambarkannya sebagai tipe pemimpin yang detail, pekerja keras, dan punya rasa ingin tahu yang besar. Saat menjabat sebagai Kapolrestabes Surabaya pada tahun 2013-2015, ia dikenal sering menyamar menjadi penumpang angkutan kota untuk memetakan titik-titik rawan kriminalitas. Cara-cara tak konvensional semacam itu membuat banyak anak buahnya geleng-geleng kepala, sekaligus kagum. "Beliau itu bos yang tidak hanya memberi perintah, tapi juga memberi contoh," ujar salah seorang mantan ajudannya.
Pada tahun 2024, giliran Ranah Minang yang menjadi medan pengabdiannya. Sejak resmi menjabat sebagai Kapolda Sumatera Barat pada pertengahan tahun 2024, Irjen Suharyono langsung melakukan pemetaan ulang terhadap peta kerawanan daerah. Sumatera Barat, dengan segala keindahan alamnya, ternyata menyimpan sejumlah pekerjaan rumah besar: peredaran narkoba yang semakin canggih, konflik lahan ulayat, potensi radikalisme, dan yang paling menguras perhatian, adalah bencana alam yang kerap melanda kawasan tersebut.
Kinerja dan Program Unggulan
Irjen Suharyono bukan tipe pejabat yang suka berpidato panjang lebar di podium. Gayanya adalah turun langsung, berdialog, dan mengambil keputusan cepat di lapangan. Di awal masa kepemimpinannya, ia meresmikan program "Bapak Asuh Polisi" yang mengadopsi anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk dibiayai pendidikannya hingga perguruan tinggi. Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat adat dan tokoh agama setempat.
Ia juga menggulirkan program "Nagari Aman" yang menjadikan desa-desa di Sumatera Barat sebagai garda terdepan sistem keamanan lingkungan melalui pendekatan kearifan lokal. Program ini tidak hanya mengedepankan patroli, tetapi juga menggiatkan kembali peran ninik mamak dan alim ulama dalam mencegah konflik di akar rumput. Dalam konteks ini, Irjen Suharyono meyakini bahwa nilai-nilai adat Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bisa menjadi tembok kokoh dalam menangkal kejahatan dari hulunya.
Sepanjang tahun 2025, Polda Sumbar di bawah komandonya mencatat penurunan angka kriminalitas konvensional yang cukup signifikan. Namun, di sisi lain, ia mengaku masih terus bekerja keras memerangi jaringan narkoba internasional yang menjadikan perairan Sumatera Barat sebagai jalur penyelundupan. Baru-baru ini, tim gabungan Polda Sumbar berhasil menggagalkan penyelundupan 45 kilogram sabu-sabu yang disamarkan dalam komoditas ikan kering, sebuah prestasi yang menurut Irjen Suharyono "baru puncak dari gunung es yang harus terus dibongkar."
Tantangan dan Harapan
Salah satu momen yang paling membekas bagi Irjen Suharyono selama bertugas di Sumatera Barat adalah ketika ia ikut terlibat dalam evakuasi korban bencana banjir bandang di Pesisir Selatan pada tahun 2026. Saat itu, ia memilih tidur di tenda pengungsian bersama warga, makan dengan masakan sederhana yang sama, dan mendengarkan sendiri kisah duka para korban. Bagi pria yang sudah puluhan tahun berseragam cokelat ini, momen-momen semacam itu adalah pengingat: bahwa di balik semua pangkat dan jabatan, polisi adalah pelayan masyarakat.
Tantangan ke depan tidaklah ringan. Isu radikalisme dan intoleransi menjadi ancaman laten yang harus ditangani dengan cerdas dan persuasif. Dalam berbagai kesempatan, Irjen Suharyono menekankan pentingnya sinergi antara kepolisian, tokoh adat, dan pemuka agama untuk menjaga keharmonisan Ranah Minang yang selama ini dikenal sebagai daerah yang damai dan berpikiran terbuka. Selain itu, kepercayaan
Comments (0)