Aug 25, 2026
Politik

Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat

Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat

Irjen Pol. Suharyono: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Barat

Suatu pagi di penghujung tahun 2025, seorang ibu paruh baya dengan gamis lusuh terlihat menunggu di lobi Mapolda Sumatera Barat. Tangannya menggenggam erat amplop cokelat berisi surat yang sudah kumal—pengaduan tentang tanah warisannya yang dicaplok pengembang nakal. Ia tak menyangka, yang membukakan pintu dan mempersilakannya duduk justru Kapolda sendiri. "Silakan, Bu. Ceritakan pelan-pelan, saya dengar sampai selesai," ujar pria berkumis tipis itu sambil menuangkan teh dari termos.

Pemandangan serupa bukan kali pertama terjadi. Sejak dilantik sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat pada September 2024, Inspektur Jenderal Polisi Suharyono membawa pendekatan yang berbeda. Ia bukan tipikal perwira tinggi yang hanya bisa ditemui di balik meja besar dan pintu berlapis. Baginya, kantor polisi adalah rumah rakyat—dan penghuninya harus selalu siap membukakan pintu.

Profil Singkat

Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 10 Februari 1970, Suharyono adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1992. Ia mengawali karier sebagai perwira pertama di lingkungan Polda Metro Jaya, menangani tugas-tugas reserse yang mengasah insting investigasinya sejak muda. Rekan-rekan seangkatannya mengenang Suharyono sebagai sosok pendiam yang teliti—tipe yang lebih suka mengamati sebelum bertindak.

Di balik postur tegap dan tatapan matanya yang tajam, Suharyono menyimpan sisi yang jarang terekspos: ia pencinta sastra Jawa klasik dan kerap menyelipkan filosofi sepi ing pamrih, rame ing gawe dalam setiap arahan kepada anak buahnya. Ia menikah dengan seorang dokter umum dan dikaruniai tiga anak. Keluarganya memilih tinggal sederhana di kompleks perumahan dinas, menolak fasilitas mewah yang sebenarnya tersedia bagi pejabat setingkat kapolda.

Karier dan Riwayat Jabatan

Jalur karier Suharyono tidak melesat instan. Ia merangkak dari bawah dengan catatan penugasan yang beragam dan kerap berada di wilayah rawan. Beberapa jabatan strategis yang pernah diembannya antara lain Kapolres Sukabumi Kota (2011), Wadirreskrimum Polda Metro Jaya (2014), Kapolresta Depok (2016), hingga Analis Kebijakan Madya Bidang Pidum Bareskrim Polri (2019).

Puncaknya, pada 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Wakapolda Jawa Barat—posisi yang menjadi batu loncatan menuju Sumatera Barat. Pada 22 September 2024, telegram rahasia Kapolri menetapkannya sebagai Kapolda Sumbar menggantikan Irjen Pol. Toni Harmanto. Langkah ini mengejutkan banyak pengamat, karena Sumbar selama ini dianggap sebagai daerah dengan dinamika sosial-politik yang tenang—namun justru di sanalah Suharyono membuktikan bahwa ketenangan permukaan seringkali menyimpan kompleksitas.

Kinerja dan Program Unggulan

Memasuki tahun 2025, Suharyono meluncurkan program "Nagari Aman"—sebuah pendekatan keamanan berbasis komunitas adat Minangkabau. Ia menggandeng ninik mamak, bundo kanduang, dan alim ulama di setiap nagari untuk menjadi mitra strategis kepolisian dalam deteksi dini konflik. Hasilnya, angka kriminalitas di Sumatera Barat sepanjang semester pertama 2026 turun 17,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Terobosan lain yang menjadi ciri khas kepemimpinannya adalah "Jumat Curhat". Setiap Jumat pagi, Suharyono bersama jajarannya turun ke pasar, surau, atau kedai kopi untuk mendengar langsung keluhan warga. Bukan sekadar seremoni. Dari forum inilah terbongkar jaringan pungutan liar di Pelabuhan Teluk Bayur dan praktik premanisme berkedok organisasi pemuda yang selama bertahun-tahun meresahkan pedagang.

Di bidang penegakan hukum, ia dikenal tanpa kompromi. Pada Maret 2026, ketika anak buahnya sendiri tersangkut kasus penyalahgunaan narkoba, Suharyono tidak menutup-nutupi. Ia menggelar konferensi pers, meminta maaf kepada publik, dan memastikan proses hukum berjalan transparan. "Integritas institusi lebih mahal dari rasa malu sesaat," tegasnya saat itu.

Tantangan dan Harapan

Sumatera Barat bukan medan yang sepenuhnya mudah. Ancaman radikalisme laten, konflik agraria antara masyarakat adat dan korporasi, serta posisi geografis yang rawan jalur penyelundupan menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas. Belum lagi ekspektasi publik yang terus meninggi terhadap reformasi kepolisian pasca berbagai kasus nasional.

Namun Suharyono melihat tantangan itu sebagai pupuk. Dalam sebuah wawancara terbatas, ia pernah berujar, "Orang Minang itu kritis. Itu anugerah. Kalau polisinya kerja benar, mereka pembela paling gigih." Kalimat ini menggambarkan optimismenya terhadap masyarakat yang dipimpinnya—sekaligus menjadi pengingat bahwa legitimasi kepolisian tidak bisa dibeli dengan pencitraan, melainkan ditanam dengan kerja nyata.

Kini, di tahun keduanya memimpin Polda Sumbar, Suharyono masih melanjutkan ritual paginya: membuka pintu, mendengarkan, menuangkan teh. Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana. Tapi di negeri di mana jarak antara penguasa dan rakyat seringkali selebar samudra, tindakan kecil semacam itu adalah jembatan yang sesungguhnya sedang dibangun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User