Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek
<h2>Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek</h2> <p>Mochamad Nur Arifin, atau yang akrab disapa <strong>Mas Ipin</strong>, adalah Bupati Trenggalek periode 2019–2024 dan kembali terp
Mochamad Nur Arifin: Profil dan Kinerja Bupati Trenggalek
Mochamad Nur Arifin, atau yang akrab disapa Mas Ipin, adalah Bupati Trenggalek periode 2019–2024 dan kembali terpilih untuk periode 2025–2030. Kader PDI Perjuangan ini dilantik pertama kali pada 28 Mei 2019 menggantikan almarhum Emil Elestianto Dardak yang diangkat menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur. Ia dikenal sebagai bupati muda yang aktif memadukan teknologi digital dengan pemerintahan daerah, menjadikannya salah satu kepala daerah paling melek teknologi di Jawa Timur.
Profil Singkat
Lahir di Surabaya pada 15 Agustus 1990, Nur Arifin menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Surabaya. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Airlangga pada 2012, kemudian melanjutkan studi Magister Teknologi Informasi di institusi yang sama, lulus pada 2015. Kombinasi latar belakang ekonomi dan teknologi ini menjadi fondasi gaya kepemimpinannya yang berbasis data dan inovasi digital.
Sebelum terjun ke politik praktis, ia aktif di organisasi kepemudaan dan tercatat sebagai Ketua DPD KNPI Jawa Timur periode 2016–2019. Pengalaman ini membentuk jaringannya yang luas di kalangan milenial dan komunitas kreatif Jawa Timur.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier politiknya dimulai sebagai anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan periode 2014–2019. Di parlemen provinsi, ia duduk di Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat, termasuk pendidikan dan kesehatan — sektor yang kelak menjadi prioritasnya di Trenggalek. Ia menggagas beberapa inisiatif pelayanan publik digital di tingkat provinsi sebelum akhirnya ditunjuk menjadi pendamping almarhum Emil Dardak sebagai Wakil Bupati Trenggalek pada 2016.
Setelah Emil Dardak mundur pada Februari 2019, Nur Arifin naik menjadi Pelaksana Tugas Bupati, lalu resmi dilantik sebagai Bupati definitif tiga bulan kemudian. Kenaikannya di usia 28 tahun menjadikannya salah satu bupati termuda di Indonesia saat itu. Pada Pilkada 2024, ia berhasil mempertahankan kursinya dengan perolehan suara signifikan, mengalahkan kotak kosong.
Kinerja dan Program Unggulan
Sejak menjabat, Nur Arifin mengusung visi "Trenggalek Melayani 4.0" yang berfokus pada digitalisasi layanan pemerintahan. Program Sinau Digital melatih lebih dari 4.000 pelaku UMKM untuk mengadopsi pemasaran daring, meningkatkan omzet rata-rata hingga 37% dalam dua tahun pertama. Pada sektor kesehatan, ia meluncurkan Sistem Informasi Kesehatan Terintegrasi (SIKAT) yang memangkas waktu antrean di 22 puskesmas dari rata-rata 45 menit menjadi 12 menit.
Pembangunan infrastruktur juga menjadi perhatian. Program Jalan Lingkar Selatan sepanjang 34 kilometer yang menghubungkan lima kecamatan pesisir berhasil dirampungkan pada 2023, memangkas waktu tempuh logistik hasil perikanan hingga 60%. Di bidang pendidikan, ia mengalokasikan Rp 128 miliar dari APBD 2023 untuk program beasiswa penuh bagi 1.200 mahasiswa asal Trenggalek di perguruan tinggi negeri.
Tantangan dan Harapan
Meski progres digitalisasinya mendapat apresiasi dari Kementerian PAN-RB, kesenjangan infrastruktur telekomunikasi masih menjadi pekerjaan rumah. Dari 152 desa di Trenggalek, sekitar 23 desa di wilayah pegunungan selatan masih mengalami blank spot sinyal seluler pada akhir 2024. Akses jalan menuju kawasan wisata andalan seperti Pantai Prigi dan Gua Lowo juga memerlukan peningkatan kualitas untuk mendongkrak kunjungan wisatawan yang masih stagnan di angka 1,2 juta per tahun sejak 2019.
Harapan masyarakat tertuju pada janji kampanyenya untuk membangun Balai Latihan Kerja (BLK) berbasis teknologi dan memperluas cakupan internet desa. Dengan pengalamannya yang kini memasuki satu dekade memimpin Trenggalek, konsistensi dalam mengeksekusi program-program berbasis data akan menjadi tolok ukur keberhasilan periode keduanya.
Comments (0)