Dua Panggung Dewi Gita: 30 Tahun Project Pop dan Debut Akting yang Menyentuh
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter di salah satu gedung pertunjukan Jakarta, seorang perempuan paruh baya menatap pantulan dirinya di cermin. Jemarinya yang ramping merapikan lipatan kebaya, sementa...
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter di salah satu gedung pertunjukan Jakarta, seorang perempuan paruh baya menatap pantulan dirinya di cermin. Jemarinya yang ramping merapikan lipatan kebaya, sementara matanya yang berkaca-kaca menahan butiran air mata. Ia bukan siapa-siapa—ia adalah Dewi Gita, salah satu punggawa Project Pop yang tengah merayakan tiga dekade penuh warna di industri musik Indonesia. Hari itu, ia harus membagi diri antara dua panggung: panggung konser nostalgia bersama grup yang membesarkan namanya, dan panggung press conference film pertamanya.
Di meja rias itu, ia mengisahkan pada saya bagaimana perjalanan tiga puluh tahun terasa seperti sekejap mata. “Dulu kita cuma iseng-iseng rekaman di kamar. Nggak pernah kepikiran bisa sejauh ini,” ucapnya pelan, sesekali tersenyum. Namun di balik tawa, ada jejak perjuangan yang tak mudah. Project Pop bukan sekadar grup vokal komedi. Mereka adalah saksi hidup perubahan zaman, dari era kaset hingga streaming digital, dari panggung kampus hingga gedung konser megah.
Tiga Dekade Tawa yang Lahir dari Dapur
Mengisahkan Project Pop tak bisa lepas dari cerita tentang ruang dapur sempit di bilangan Pancoran. Di sanalah para personel—yang waktu itu masih berjumlah tujuh—meracik lagu-lagu konyol nan jenaka yang justru sukses menggaet hati jutaan pendengar. Dewi Gita, bersama Udjo, Odie, dan kawan-kawan, memulai semuanya tanpa target besar. “Kita cuma pengin bikin orang ketawa, lepas dari stres. Ternyata itu justru yang dicari banyak orang,” kenangnya.
“Di dapur itu kami belajar bahwa musik nggak harus selalu serius. Justru dari tawa, kami bisa menyentuh hati lebih dalam.” — Dewi Gita, Jakarta, Juli 2026.
Konser bertajuk Forever Young – Forever Fun yang akan digelar di Jakarta menjadi puncak perayaan 30 tahun itu. Bukan hanya pertunjukan musik, konser ini adalah sebuah napak tilas emosional. Setiap lagu yang akan dibawakan, mulai dari “Dangdut Is The Music of My Country” hingga parody hits masa kini, adalah lembaran-lembaran kenangan bagi mereka dan para penggemar setia yang telah tumbuh dewasa bersama.
Namun di balik kemeriahan itu, ada cerita haru yang mungkin tak banyak diketahui. Beberapa personel harus berjuang melawan kondisi kesehatan yang menurun. “Kami sepakat, selama masih bisa berdiri di atas panggung, kami akan terus menghibur. Itu janji kami pada pendengar,” ujar Dewi Gita dengan suara bergetar. Momen mengharukan seperti inilah yang membuat Project Pop jauh lebih dari sekadar grup lawak. Mereka adalah keluarga, dan setiap panggung adalah ruang untuk berbagi cinta.
Dari Panggung ke Layar Lebar: Perjalanan Pertama Dewi Gita
Sementara persiapan konser masih berjalan, Dewi Gita justru dihadapkan pada tantangan baru yang sama sekali berbeda: debut akting di layar lebar. Pada Kamis (9/7/2026), ia duduk di kursi yang sama dengan para pemain film horor komedi Lastri: Arwah Kembang Desa di Jakarta Selatan. Di sampingnya, para pemain lain tampak bersemangat, namun Dewi Gita justru didera perasaan gugup yang amat sangat. “Saya penyanyi, bukan aktris. Tiba-tiba disuruh akting di depan kamera, rasanya kakiku lemas,” katanya sambil tertawa kecil.
Film yang mengisahkan tentang arwah seorang perempuan yang ingin pulang ke desanya ini, menurut Dewi Gita, menyimpan pesan sederhana tapi mendalam: tentang arti rumah dan perjuangan untuk menemukan jati diri. Meski bergenre horor, ia merasa film ini sangat manusiawi. “Di sini saya belajar banyak tentang bagaimana menyentuh emosi orang tanpa bernyanyi,” ungkapnya. Debut yang tak terduga ini menjadi bukti bahwa di usia yang tak lagi muda, mimpi-mimpi baru masih bisa dikejar.
“Saya nggak mau menyesal di hari tua nanti karena tidak mencoba hal-hal yang menakutkan. Akting memang menakutkan bagi saya, tapi di situlah justru letak serunya hidup.” — Dewi Gita, press conference film Lastri.
Di balik layar, ada perjuangan yang tidak sederhana. Dewi Gita harus membagi waktu antara latihan konser dan reading naskah. Kadang ia tiba di lokasi syuting dengan mata sembap karena semalaman latihan vokal. Sementara di lokasi syuting, ia harus menghafal dialog dan berakting natural di tengah tekanan. “Saya sering hampir menyerah. Tapi anak-anak Project Pop selalu bilang, ‘Git, kamu bisa. Kami di belakangmu.’,” kisahnya.
Bersama, Sampai Titik Akhir yang Tak Terduga
Perayaan 30 tahun ini bukan tentang akhir. Ini tentang titik awal menuju fase-fase baru yang penuh kejutan. Dewi Gita tidak bisa menyembunyikan harunya ketika membayangkan malam konser nanti. “Saya akan menyanyi dengan sepenuh hati, karena entah di konser berikutnya kami masih bisa lengkap atau tidak.” Di balik senyumnya, terselip penerimaan akan kodrat waktu yang terus berjalan.
Namun di sisi lain, ia juga tak sabar melihat reaksi penonton terhadap film pertamanya. “Kalau mereka tertawa, saya senang. Kalau mereka menangis karena akting saya yang jelek, ya sudahlah,” candanya. Tetapi teman-temannya di Project Pop yakin, Dewi Gita akan bersinar di bidang apa pun yang ia sentuh. “Dewi itu punya inner beauty yang memancar ke mana-mana. Itu yang bikin dia dicintai,” ujar salah satu personel yang hadir di press conference.
Di tengah hiruk-pikuk dua dunia yang kini ia tekuni, Dewi Gita menemukan makna baru: bahwa hidup adalah panggung yang tak terbatas. Selama ada cinta, tawa, dan keberanian, semua jalan akan terbuka. Project Pop telah membuktikan bahwa konsistensi dan ketulusan mampu mengalahkan segala tren. Sementara debut akting Dewi Gita mengingatkan kita bahwa tidak ada kata terlambat untuk melangkah ke medan yang tak dikenal.
Sore itu, sebelum meninggalkan ruang rias, Dewi Gita sekali lagi melihat ke cermin. Kali ini, pantulan yang ia lihat bukan lagi seorang penyanyi yang hanya berdiri di atas panggung musik. Ia adalah perempuan yang terus bertumbuh, yang tak pernah lelah mencintai hidup—entah lewat lagu, tawa, ataupun cerita di atas layar. “Terima kasih, 30 tahun. Sekarang, mari kita mulai babak baru,” bisiknya dalam hati, lalu melangkah keluar dengan senyum penuh keyakinan.
[TAGS]: Project Pop, Dewi Gita, 30 tahun Project Pop, konser Forever Young Forever Fun, film Lastri Arwah Kembang Desa, debut akting, perjalanan karier, musik Indonesia, feature humanis [SOCIAL_TWEET]: 30 tahun tawa, air mata, dan cinta. Dewi Gita berbagi kisah di balik panggung Project Pop dan debut aktingnya yang mengejutkan. Simak perjalanan menyentuh yang bikin hati hangat. #ProjectPop30Tahun #DewiGita [SOCIAL_FB]: Dari dapur sempit di Pancoran hingga panggung megah, Project Pop merayakan 30 tahun berkarya lewat konser Forever Young – Forever Fun. Di saat bersamaan, Dewi Gita, salah satu personelnya, memulai debut akting di film Lastri: Arwah Kembang Desa. Sebuah kisah tentang keberanian mengejar mimpi baru di usia berapa pun. Baca selengkapnya—cerita yang akan membuatmu tersenyum sekaligus berkaca-kaca. [SOCIAL_TG]: Di balik tawa ada perjuangan. Dewi Gita berbagi momen mengharukan persiapan 30 tahun Project Pop dan pengalaman pertamanya di dunia akting. Selengkapnya di sini. [SOCIAL_THREADS]: 30 tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi bagi Project Pop, itu baru permulaan. Dewi Gita cerita soal panggung, air mata, dan film pertama yang bikin deg-degan. Kalau kalian punya mimpi yang terasa mustahil, baca ini dulu, ya. 💫
Comments (0)