Al Haris: Profil dan Kinerja Gubernur Jambi
Al Haris: Profil dan Kinerja Gubernur Jambi
Pagi itu, hujan baru saja reda di sudut Pasar Angso Duo, Jambi. Seorang lelaki berbaju putih lengan panjang menyusuri lorong-lorong becek sambil sesekali berhenti, menanyai pedagang sayur tentang harga cabai yang melonjak. Tangannya sigap mencatat di ponsel, sementara telinganya menyimak keluhan tentang jalan desa yang rusak. Lelaki itu bukan petugas sensus, apalagi wartawan. Dialah Al Haris, Gubernur Jambi, yang blusukan tanpa pengawalan protokoler ketat, sebuah kebiasaan yang terus ia rawat sejak masih menjadi Bupati Merangin.
Bagi publik Jambi, sosok Al Haris mungkin tak melulu ramai di panggung media nasional. Namun di lapangan, ia dikenal sebagai pemimpin yang lebih suka turun tangan. Kariernya adalah potret birokrat yang merangkak dari bawah: dari kepala subbagian kepegawaian, sekretaris daerah, bupati dua periode, hingga akhirnya dilantik sebagai Gubernur Jambi pada 7 Juli 2021. Dia mewakili generasi pemimpin daerah yang lahir sepenuhnya dari rahim birokrasi, bukan dari mesin partai politik arus utama. Itulah yang barangkali membuat gayanya berbeda: minim retorika, lebih banyak berjalan kaki.
Profil Singkat
Al Haris lahir di Desa Sungai Jernih, Muara Tabir, Kabupaten Tebo, pada 26 Maret 1971. Ia tumbuh dari keluarga sederhana. Selepas menyelesaikan pendidikan sarjana di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Karya Dharma, ia masuk menjadi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Merangin pada 1995. Sepanjang lebih dari dua dekade, ia menanjak perlahan: dari staf biasa hingga jabatan Sekretaris Daerah Merangin pada 2015. Pengalaman panjang di birokrasi inilah yang menjadi fondasi empat periode kepemimpinannya sebagai Bupati Merangin (2016-2021) dan kini sebagai Gubernur.
Di luar jabatan, Al Haris adalah suami dari Hj. Siti Marlina dan ayah tiga anak. Jejak pendidikannya bertambah ketika ia meraih gelar magister administrasi publik dari Universitas Jambi dan kemudian menuntaskan doktoral di bidang pemerintahan dari Universitas Padjadjaran. Kombinasi antara naluri lapangan dan bekal akademik ini sering kali terlihat dalam kebijakan-kebijakannya.
Karier dan Riwayat Jabatan
Perjalanan karir Al Haris adalah narasi tentang loyalitas pada jalur birokrasi. Sebelum menjadi kepala daerah, ia mengisi pos-pos strategis: Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Merangin, Asisten I Sekda, hingga Sekretaris Daerah. Puncaknya, ia terpilih sebagai Bupati Merangin dua kali berturut-turut pada 2016 dan 2021. Namun takdir membawanya ke podium yang lebih tinggi: pada Pilkada Jambi 2020, ia berpasangan dengan Abdullah Sani, dan duet ini memenangkan kontestasi meski diwarnai polemik hukum yang kemudian rampung di Mahkamah Konstitusi.
Pada 2025-2026, periode pertamanya sebagai Gubernur Jambi telah menapaki tahun-tahun kunci. Ia tidak hanya menghadapi janji kampanye, tetapi juga ujian pandemi, dinamika anggaran, dan tuntutan percepatan pembangunan di provinsi dengan 11 kabupaten-kota ini.
Kinerja dan Program Unggulan
Al Haris datang dengan visi “Jambi Maju, Aman, Nyaman, Tertib, Amanah, Profesional, dan Inovatif” (Jambi Mantap). Visi ini diterjemahkan ke dalam serangkaian program yang mencoba menyentuh tiga pilar: infrastruktur, ekonomi kerakyatan, dan reformasi birokrasi. Salah satu kebijakan yang paling sering ia gaungkan adalah “Jambi Siger” (Siap Kerja), program pelatihan vokasi untuk anak-anak muda yang menggunakan basis data kebutuhan industri. Hingga 2026, lebih dari 2.000 pemuda telah mendapatkan sertifikasi kejuruan. Balai pelatihan kerja di berbagai kabupaten diperbarui dengan peralatan modern, dan beberapa bekerja sama dengan perusahaan perkebunan serta tambang yang beroperasi di Jambi. “Kita tidak bisa terus-terusan menyuruh anak muda jadi PNS,” kata Al Haris dalam sebuah pertemuan dengan kepala sekolah, “waktunya kita latih mereka agar siap diserap dunia kerja swasta yang makin kompetitif.”
"Kita tidak bisa terus-terusan menyuruh anak muda jadi PNS, waktunya kita latih mereka agar siap diserap dunia kerja swasta yang makin kompetitif."
Di sektor infrastruktur, jalan-jalan poros desa yang dulu jadi jeritan petani, perlahan mulai disemen dan diaspal. Program “Jalan Mulus” menjadi prioritas dengan alokasi anggaran yang meningkat 30 persen sejak 2025. Gubernur juga mendorong pembangunan infrastruktur irigasi untuk mendukung ketahanan pangan, terutama di sentra padi Kerinci dan Tebo. Data dari Dinas
Comments (0)