Pagi itu, halaman Masjid Nurul Bilad di Lombok Tengah masih basah oleh embun. Irjen Pol. Raden Umar Faroq melepas sepatu dinasnya, berbaur bersama jamaah yang bersiap salat subuh berjemaah. Tak ada pengawalan ketat, tak ada jarak protokoler yang menegangkan. Ia duduk bersila di saf kedua, memilih tempat yang memungkinkannya mendengar langsung keluh-kesah warga. Selesai salat, ia masih bertahan—menyeruput kopi hitam dari warung kecil di samping masjid sambil berbincang dengan petani, pedagang, dan pemuda setempat.
"Polisi itu bukan menara gading. Kami harus turun, menyentuh tanah, mendengar langsung," katanya lirih, setengah berbisik, namun sarat makna.
Pemandangan seperti ini bukan pemandangan langka bagi warga Nusa Tenggara Barat sejak pria kelahiran Banyuwangi, 20 April 1973 itu dilantik menjadi Kapolda NTB pada 8 Maret 2024. Jauh sebelum menjabat, kariernya telah teruji di berbagai posisi strategis: dari Kasat II Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Bekasi, hingga Dirtipidter Bareskrim Polri.
Perjalanan Seorang Perwira
Raden Umar Faroq adalah lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1992. Namanya tak bisa dilepaskan dari garis keturunan yang kental dengan nilai-nilai luhur. Gelar "Raden" di depan namanya menunjukkan darah bangsawan yang mengalir dari tanah Jawa bagian timur, namun ia justru dikenal sebagai perwira yang membumi.
Perjalanan kariernya diwarnai penugasan yang menuntut ketajaman intelektual. Di Bareskrim Polri, ia memimpin Direktorat Tindak Pidana Siber selama dua tahun (2021-2023), menangani ribuan kasus penipuan daring, judi online, hingga kejahatan transnasional yang merugikan negara triliunan rupiah. Di bawah komandonya, Direktorat Tipidsiber berhasil mengungkap 3.812 kasus siber sepanjang 2022—naik signifikan dari 2.473 kasus tahun sebelumnya.
Namun hal paling dikenang dari masa kepemimpinannya di dunia siber adalah pendekatannya yang humanis. Saat banyak institusi memilih gebrakan represif, Faroq mendorong pendirian unit konseling bagi korban, terutama perempuan dan anak-anak yang rentan menjadi sasaran kejahatan digital.
Jejak akademisnya tak kalah cemerlang. Ia tercatat sebagai lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) angkatan 48 pada 2003, kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri (Sespimti) Dikreg 28 tahun 2013. Gelar doktor di bidang hukum dari Universitas Diponegoro ia selesaikan dengan disertasi yang meneliti integritas penyidikan tindak pidana di era digital.
Gaya Kepemimpinan yang Menyentuh
Di NTB, ia mewarisi wilayah yang dikenal sebagai destinasi wisata dunia, namun sekaligus menyimpan problem akut: kemiskinan struktural, kerentanan bencana, dan jaringan narkotika yang mencoba menjadikan Lombok sebagai jalur transit. Sebagai respons, Faroq meluncurkan program "Jumat Curhat"—sebuah forum rutin yang mempertemukan jajaran kepolisian dengan masyarakat di tingkat desa dan dusun.
Program ini bukan sekadar seremoni. Dari forum-forum itu, terungkap bahwa banyak warga Lombok Utara takut melaporkan pungutan liar karena khawatir berhadapan dengan preman lokal. Dalam tempo dua minggu, Faroq menurunkan tim gabungan dan membentuk posko pengaduan 24 jam. Hasilnya: enam tersangka premanisme ditangkap, dan kepercayaan publik mulai pulih.
"Integritas itu bukan slogan. Ia adalah napas yang harus terus dihirup setiap anggota Polri," ucapnya dalam sebuah pertemuan dengan tokoh adat Sasak pada April 2025.
Yang membedakan Faroq dari banyak pejabat lainnya adalah kemampuannya membaca dinamika lokal. Ia memahami bahwa masyarakat NTB, terutama suku Sasak dan Mbojo, memiliki ikatan kultural yang kuat dengan tokoh agama. Maka, ia rutin mengunjungi para tuan guru—sebutan untuk ulama terpandang di Lombok—untuk membahas isu-isu sosial. Dari sinilah lahir gerakan "Polisi Santri", yang melibatkan bhabinkamtibmas dalam kegiatan pesantren dan majelis taklim.
Kinerja dan Program Unggulan
Di bawah kepemimpinannya, Polda NTB mencatat sejumlah capaian signifikan. Sepanjang 2024 hingga pertengahan 2025, indeks kepercayaan masyarakat terhadap Polri di wilayah NTB naik menjadi 86,4 persen, tertinggi dalam kurun lima tahun terakhir.
Operasi penanganan narkotika juga menunjukkan peningkatan agresivitas. Pada triwulan pertama 2025 saja, Direktorat Resnarkoba Polda NTB berhasil mengamankan barang bukti sabu seberat 14,2 kilogram dan menangkap 34 tersangka, termasuk satu jaringan sindikat internasional yang menjadikan Pantai Senggigi sebagai titik transaksi.
Di bidang perlindungan perempuan dan anak, ia meresmikan lima unit baru Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) di polres jajaran, dilengkapi ruang ramah anak dan tim psikolog profesional. Data internal menunjukkan penurunan angka kekerasan seksual yang dilaporkan sebesar 18 persen sepanjang 2024—bukan karena kasusnya berkurang, melainkan karena korban kini lebih berani melapor.
Dalam pengamanan event internasional, Faroq memimpin langsung pengamanan MotoGP Mandalika 2024 dan World Superbike 2025. Dua event berskala global ini berjalan tanpa insiden berarti, menjadikan NTB sebagai contoh sukses pengamanan pariwisata.
Tantangan dan Harapan
Tentu, tak semua mulus. Persoalan tambang ilegal di S
Comments (0)