Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan

Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan

Jul 11, 2026 - 07:40
Updated: 8 hours ago
0 0
Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan

Profil Singkat

Pagi itu, di ruang kerjanya yang sederhana di Griya Agung, Herman Deru menuang kopi hitam kental — bukan untuk tamu, tapi untuk dirinya sendiri. Tangan kanannya yang kekar, warisan masa muda yang akrab dengan lapangan dan proyek pembangunan desa, tampak cekatan memutar gelas kecil itu. "Kopi tak perlu gula," katanya pada seorang staf yang menawarkan pemanis, "biar kita ingat bahwa hidup tak selalu manis, tapi harus tetap dinikmati." Kalimat itu entah filosofi atau sekadar selera, tapi ia menggambarkan dengan pas lelaki kelahiran Tebing Tinggi, 17 November 1969 ini.

Herman Deru adalah potret pemimpin yang terbentuk dari akar rumput. Ia bukan bangsawan politik yang tiba-tiba muncul dari konvensi partai. Ayah empat anak ini merintis karier dari bawah: dari kepala desa, anggota DPRD, bupati, hingga akhirnya Gubernur Sumatera Selatan untuk dua periode — pertama 2018-2023, lalu kembali terpilih untuk periode 2025-2030. Istrinya, Febrita Lustia Heri, bukan sekadar pendamping, melainkan mitra yang kerap turun langsung mengurusi program pemberdayaan perempuan dan UMKM. Di mata koleganya, Herman Deru adalah kombinasi antara birokrat pragmatis dan pemimpin yang menyimpan bara idealisme — yang sayangnya, menurut kritikus, kadang terlalu berhati-hati.

Karier dan Riwayat Jabatan

Sebelum duduk di kursi Gubernur, nama Herman Deru tak bisa dilepaskan dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Sebagai bupati dua periode (2005-2015), ia menyulap wilayah yang semula terpencil dan minim infrastruktur menjadi salah satu lumbung padi dan sentra ekonomi baru di Sumsel. Program "Gerakan Membangun OKU Timur" yang ia canangkan bukan jargon kosong — jalan-jalan desa dibangun, irigasi teknis diperbaiki, dan akses pasar bagi petani mulai terbuka. Prestasi itu yang mengantarnya menjadi Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) — sebuah panggung nasional tempatnya mengadvokasi kepentingan daerah-daerah.

Namun, kepemimpinannya di tingkat provinsi tak sepi dari gejolak. Pemilihan Gubernur 2024 menjadi salah satu kontestasi политик paling menyita perhatian. Berpasangan dengan Cik Ujang, Deru menghadapi petahana yang tak mau mundur, dalam arena yang diwarnai kontroversi hukum di Mahkamah Konstitusi. Kemenangannya pada Pilkada serentak 27 November 2024, yang baru benar-benar sah setelah putusan MK pada Januari 2025, menunjukkan betapa kuatnya jejaring akar rumput yang ia bangun. Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, menandai awal periode keduanya dengan mandat baru, lengkap dengan janji "Sumsel Maju Berkelanjutan."

"Saya ini orang desa. Jadi kalau memimpin, ukuran saya sederhana: apakah orang-orang di kampung bisa makan lebih baik, sekolah anak-anak mereka lebih mudah, dan jalannya tidak berlumpur lagi? Kalau tiga itu terjadi, saya sudah cukup puas."

Kinerja dan Program Unggulan

Periode pertama Herman Deru (2018-2023) menyisakan catatan beragam. Sektor infrastruktur menjadi etalase utama: Jembatan Musi VI yang megah, pembangunan tol Kayuagung-Palembang-Betung tahap pertama, dan Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam yang menjanjikan konektivitas pariwisata. Di bidang pertanian, Sumatera Selatan di bawah komandonya konsisten menjadi penyangga pangan nasional, dengan surplus beras di atas 2 juta ton per tahun.

Kini di periode keduanya, Deru mengusung strategi yang lebih terfokus. Program "Sumsel Maju Berkelanjutan" yang ia pasarkan memiliki tiga pilar utama yang lebih terukur:

  • Kartu Petani Berjaya: Digitalisasi akses pupuk subsidi, asuransi gagal panen, dan pasar online bagi petani. Targetnya: menyelesaikan rantai distribusi yang selama ini dikuasai tengkulak.
  • Satu Desa Satu Produk Unggulan: Hilirisasi komoditas lokal — kopi Semendo, nanas Pemulutan, karet alam — menjadi produk bernilai tambah, dengan target 1.000 UMKM baru naik kelas pada 2026.
  • Sumsel Terkoneksi 2028: Pembangunan akses jalan ke seluruh desa terisolir di dataran tinggi Sumsel, termasuk Lahat dan Empat Lawang, untuk memutus rantai kemiskinan geografis.

Data terbaru menunjukkan, pada tahun 2025, program perlindungan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan digenjot besar-besaran. Herman Deru bahkan mencanangkan target ambisius: seluruh pekerja rentan — dari buruh tani, nelayan, hingga pedagang kaki lima — terdaftar sebagai peserta pada Desember 2026. Anggaran untuk ini ia patok dari optimalisasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (TJSL) dan efisiensi belanja pegawai. Sementara itu, untuk menjaga inflasi daerah, operasi pasar dan penanaman cabai massal di pekarangan rumah tangga menjadi gerakan yang dibudayakan melalui PKK dan posyandu.

Tantangan dan Harapan

Di balik deretan program, Herman Deru menyadari ada pekerjaan rumah besar yang menanti: Sumsel belum sepenuhnya lepas dari belenggu kemiskinan dan ketimpangan infrastruktur. Banjir tahunan di sejumlah daerah aliran Sungai Musi, kemacetan di kota Palembang yang kian mengular, serta alih fungsi lahan yang memprihatinkan menjadi isu-isu yang terus menghantui. Seorang pengamat kebijakan publik dari Unsri, yang enggan disebut namanya, berbisik: "Pak Deru terlalu cinta pada ketertiban. Kadang masalah butuh lompatan, bukan sekadar urutan langkah-langkah kecil yang aman."

Namun para pendukungnya justru melihat stabilitas sebagai komoditas berharga. Di tengah kegaduhan politik nasional, Sumsel di bawah Deru minim gejolak. Ia tipe pemimpin yang menghind

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User