Jarum jam baru menunjuk pukul enam pagi ketika suara mesin perahu kecil memecah keheningan dermaga Pulau Penyengat. Seorang pria berpeci hitam turun dengan cekatan, menyapa nelayan yang baru kembali dari memancing. "Dapat banyak, Bang?" tanyanya sambil tertawa kecil. Bukan pemandangan asing bagi warga sekitar—pria itu adalah Ansar Ahmad, gubernur mereka, yang memilih memulai hari dengan menyerap langsung denyut nadi kepulauan sebelum masuk ke kantor berlapis pendingin udara di Tanjungpinang.
Kebiasaan ini bukan pencitraan instan. Jauh sebelum ia menjabat orang nomor satu di provinsi yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia ini, Ansar memang tumbuh sebagai bagian dari ekosistem maritim. Lahir di Tanjungpinang pada 10 April 1964, ia menyaksikan bagaimana laut adalah urat nadi kehidupan, bukan sekadar pemandangan dari kartu pos wisata.
Profil Singkat
Ansar Ahmad adalah tipikal pemimpin lokal yang memahami bahwa Kepulauan Riau adalah mozaik—serpihan 2.408 pulau yang menyatu oleh air dan identitas Melayu. Sebelum menjabat sebagai gubernur definitif periode 2021-2024 dan kembali terpilih untuk periode 2025-2030, ia mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Riau dan kemudian meraih gelar Magister Manajemen. Latar belakang ekonominya bukan aksesori, melainkan fondasi kebijakan yang kelak ia bangun.
Yang kerap luput dari sorotan adalah bagaimana ia memulai karier dari bawah: sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau pada 1988, kemudian menapaki tangga birokrasi dengan kesabaran yang jarang dimiliki politisi zaman sekarang.
Karier dan Riwayat Jabatan
Jejak birokrasinya panjang dan tidak melompat. Ia pernah menjadi Kepala Biro Keuangan, Asisten Administrasi Umum, hingga akhirnya menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau. Momen krusial terjadi pada 2021 ketika ia dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur Kepri definitif, menggantikan posisi yang sebelumnya ia emban sebagai pelaksana tugas.
Kemenangannya di Pilkada 2024 bersama Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura menegaskan satu hal: pemilih menghargai stabilitas dan pendekatan teknokratis di tengah gelombang politisasi yang kerap menerpa daerah-daerah lain. Pasangan ini mengantongi dukungan luas dari koalisi besar yang melihat Kepri membutuhkan nahkoda berpengalaman menghadapi badai ekonomi global.
Kinerja dan Program Unggulan
Jika ada satu frasa yang boleh disematkan pada masa kepemimpinan Ansar, itu adalah "menyambung yang terputus". Dalam lanskap geografis yang terfragmentasi, ia mendorong program digitalisasi layanan publik secara agresif. Pada 2025, pemerintah provinsi meluncurkan sistem perizinan terintegrasi yang memangkas waktu pengurusan dari hitungan minggu menjadi hitungan jam—sebuah lompatan yang disambut baik oleh investor yang kerap menggerutu soal birokrasi.
Namun, kebijakan yang paling dekat dengan keseharian warga adalah subsidi transportasi laut perintis. Baginya, harga tiket kapal yang terjangkau bukan sekadar angka dalam neraca anggaran, melainkan hak dasar warga pulau untuk mengakses pendidikan dan kesehatan. Hingga pertengahan 2026, tercatat 47 rute kapal perintis beroperasi di bawah skema ini.
"Kita tidak bisa bicara tentang kemajuan kalau anak-anak di Pulau Tambelan masih harus menunggu ombak tenang demi bisa sekolah. Konektivitas adalah keadilan," ujarnya dalam sebuah forum pembangunan daerah awal tahun ini.
Di sektor ekonomi, ia berhasil mendorong realisasi investasi yang menembus angka Rp 28 triliun pada 2025—tertinggi dalam sejarah provinsi—dengan mendiversifikasi daya tarik dari sekadar manufaktur di Batam ke ekonomi biru dan pariwisata premium di kawasan Anambas dan Natuna. Pendapatan per kapita Kepri kini bertengger di peringkat ketiga nasional, di bawah Jakarta, sebuah pencapaian yang ia sebut "bonus dari kerja menjaga stabilitas".
Tantangan dan Harapan
Namun, langit Kepri tidak selalu cerah. Kesenjangan antara kawasan industri di Batam dengan pulau-pulau kecil di Lingga atau Natuna masih menganga lebar. Kasus stunting di wilayah pesisir masih menjadi pekerjaan rumah yang menyita perhatian. Belum lagi bayang-bayang ekonomi global yang fluktuatif selalu mengintai wilayah yang sangat bergantung pada perdagangan internasional ini.
Di hadapan tantangan tersebut, Ansar tidak menawarkan janji retoris. Ia lebih sering terlihat melakukan kunjungan mendadak ke Posyandu atau meresmikan pabrik baru dengan ekspresi datar khas teknokrat. Tidak banyak pidato heroik. Tidak banyak gestur dramatis. Hanya langkah terukur yang ia yakini sebagai cara paling jujur melayani kepulauan.
Ketika senja kembali tiba di Tanjungpinang, dan kapal-kapal kecil mulai merapat, Ansar mungkin sudah menghabiskan tiga rapat dan dua peninjauan lapangan. Tapi di matanya, laut tetap sama: medan perjuangan yang belum selesai. Dan sejarah akan mencatat bahwa ia adalah salah satu gubernur yang tidak hanya memetakan Kepulauan Riau di atas kertas, melainkan merasakan getar ombaknya langsung di telapak kaki.
Comments (0)