Irjen Pol. Mohammad Iqbal: Profil dan Kinerja Kapolda Riau

Irjen Pol. Mohammad Iqbal: Profil dan Kinerja Kapolda Riau

Jul 11, 2026 - 11:20
Updated: 4 hours ago
0 0
Irjen Pol. Mohammad Iqbal: Profil dan Kinerja Kapolda Riau

Di sudut Mapolda Riau yang biasanya riuh oleh lalu-lalang laporan dan derap sepatu lars, seorang lelaki berambut cepak duduk di balik meja sederhana. Tidak ada tembok tinggi yang memisahkan, tidak ada ajudan yang bersikap seperti pagar hidup. Ruangannya terbuka, dan ia sendiri sering kali yang paling pagi menyeduh kopi. Itulah Irjen Pol. Mohammad Iqbal — Kapolda Riau yang barangkali lebih suka dipanggil "Uda" ketimbang "Jenderal" oleh anak buahnya. Dalam dunia korps yang terkenal dengan hierarki kaku, Iqbal justru membangun kepemimpinan lewat kehadiran: hadir di warung kopi dekat markas, hadir di tengah unjuk rasa yang memanas, hadir ketika seorang warga kehilangan harapan. Kepadanya, polisi bukanlah menara gading, melainkan pelayan publik yang harus turun ke selokan kalau perlu.

Lahir di tanah Sumatera Barat yang melahirkan banyak pembesar republik, Iqbal tidak menapaki jalur akademi sejak awal. Ia adalah produk dari Sekolah Perwira Militer Sukarela (Sepamilsuk) yang kemudian menempa dirinya di berbagai medan tugas. Ditempa di Detasemen Khusus 88 Antiteror, Iqbal paham betul bagaimana memburu teroris tanpa kehilangan rasa. Ia pernah bertugas di jantung konflik Poso, mengendus pelaku bom, tetapi malah pulang dengan cerita tentang anak-anak yang kehilangan sekolah. "Tugas kami bukan cuma menangkap, tapi memastikan anak-anak itu tidak membenci kami," katanya suatu kali, sederhana tapi menusuk. Gemblengan di Densus dan Reserse Kriminal menjadikannya polisi yang punya insting tajam, tapi hatinya tetap milik rakyat kecil.

"Jangan karena pangkat di pundak, lalu lupa bahwa dulu kita juga anak kampung. Tugas kita itu menyejukkan, bukan menakut-nakuti."

Prinsip itu ia bawa ketika dilantik sebagai Kapolda Riau pada pertengahan 2025, menggantikan pendahulunya yang dipromosikan. Datang dengan membawa koper besar berisi filosofi "Kamar, Koper, Komando" — menginap di kamar rakyat, membuka koper bantuan, dan memberikan komando yang tegas. Di masa kepemimpinannya yang memasuki tahun kedua, kinerja Iqbal mulai terlihat dari beberapa terobosan nyata. Program "Polisi RW Digital" menjadi unggulan — di mana setiap polisi di tingkat paling bawah dibekali perangkat dan pelatihan untuk menjadi problem solver digital: dari laporan kehilangan dompet daring, hingga mediasi konflik antar-tetangga via grup WhatsApp. Bagi Iqbal, pendekatan ini adalah jawaban atas perubahan zaman tanpa kehilangan sentuhan manusiawi.

Namun, ujian terberat justru datang dari masalah yang telah mengakar di Bumi Lancang Kuning: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap tahunan yang menyesakkan rakyat kecil, juga menjadi koreng bagi citra Indonesia di mata tetangga. Di sinilah Iqbal memainkan strategi berbeda. Alih-alih bertindak represif pasca-kebakaran, ia membentuk Satuan Tugas Partisipatif yang melibatkan kepala suku, petani, hingga korporasi dalam pencegahan. "Jangan nunggu asap sudah tebal baru ribut. Kita harus duduk satu meja, cari solusi sebelum api menyala," tegasnya. Hasilnya, data sementara pada kuartal akhir 2025 dan awal 2026 menunjukkan penurunan titik panas yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angkanya turun, tapi yang lebih penting, kepercayaan warga terhadap polisi justru naik.

Di balik semua capaian itu, ada sisi lain dari jenderal bintang dua ini: ia adalah pendengar yang baik. Pernah suatu kali, seorang ibu tua menunggunya sejak subuh di depan Mapolda, membawa karung berisi bukti sengketa tanah yang tak kunjung usai selama dua dekade. Iqbal menghentikan seluruh agenda rapat paginya, duduk di bawah pohon, mendengarkan cerita ibu itu hampir satu jam. Tiga minggu kemudian, kasus itu menemui titik terang. Bagi sang ibu, Iqbal adalah malaikat penolong; bagi Iqbal sendiri, ia hanya mengatakan, "Itu memang tugas kami." Cerita-cerita seperti ini bukan anomali, melainkan keseharian yang ia bangun melalui program "Jumat Curhat" yang rutin ia pimpin langsung.

  • Pengembangan program Polisi RW Digital di lebih dari 1.700 desa dan kelurahan
  • Inisiasi Satgas Karhutla Partisipatif lintas-pemangku kepentingan
  • Gelar rutin "Jumat Curhat" dan "Ngopi Kamtibmas" turun langsung ke masyarakat
  • Penurunan angka kejahatan jalanan melalui pendekatan preventif berbasis komunitas
  • Pengungkapan jaringan narkoba internasional di perairan Riau

Di tengah gempuran modernisasi alat utama sistem persenjataan dan kriminalitas yang kian mutakhir, Iqbal masih memegang teguh satu keyakinan sederhana: secanggih apa pun teknologi, alat paling kuat seorang polisi tetaplah hati dan empati. Refleksinya tentang masa depan Kepolisian Republik Indonesia sederhana. Ia berharap kelak ketika ia pensiun, orang tidak mengingatnya sebagai jenderal yang garang, tetapi sebagai polisi yang meninggalkan warisan polisi-polisi muda yang humanis. Matahari terik di Riau menyaksikan itu semua — seorang jenderal yang menolak jemawa, berjalan di tengah rakyatnya, dengan bintang dua di pundak yang terasa ringan karena dipikul bersama. "Pada akhirnya," begitu katanya dalam sebuah sesi tatap muka dengan mahasiswa, "polisi yang baik itu bukan yang paling ditakuti, tapi yang paling dipercaya. Titik."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User