Lantai markas Polda Riau masih basah oleh sisa gerimis subuh ketika langkah-langkah cepat itu terdengar di koridor, Rabu pagi. Tepat pukul 07.15 WIB, lima belas menit sebelum apel pagi dimulai. Irjen Pol Mohammad Iqbal sudah berdiri di depan meja kerjanya, satu tangan memegang cangkir kopi hitam tanpa gula, tangan lainnya mengetuk layar ponsel untuk membaca laporan situasi terkini dari Polres jajaran.
Bagi banyak anggota yang baru berdinas di Riau, kebiasaan ini sempat membuat kaget. Tapi setelah dua tahun lebih memimpin Polda Riau, pola kerja Kapolda sudah menjadi irama yang familier: hadir lebih awal, mendengar lebih banyak, dan bergerak lebih dulu sebelum masalah membesar.
Profil Singkat
Inspektur Jenderal Polisi Mohammad Iqbal lahir di Palembang, 1 Maret 1973. Lulusan Akademi Kepolisian tahun 1995 ini menapaki karier dari bawah, menghabiskan sebagian besar masa dinasnya di fungsi reserse. Pria bertubuh tegap dengan kumis rapi dan suara bariton ini dikenal sebagai perwira yang cermat membaca data kriminal dan tak segan turun langsung ke lapangan.
Pengalaman panjang di Densus 88 Antiteror Polri membentuk karakternya sebagai pemimpin yang tenang tapi tegas. Ia memimpin operasi penindakan beberapa sel teroris di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa-masa krusial, pengalaman yang kelak mempengaruhi pendekatannya di Riau dalam menangani berbagai dinamika keamanan. Sarjana hukum ini kemudian meraih gelar magister ilmu kepolisian dari Universitas Indonesia, membekalinya dengan perspektif akademik yang melengkapi insting lapangannya.
Karier dan Riwayat Jabatan
Jejak karier Iqbal mencatat posisi-posisi strategis yang langka dimiliki banyak perwira. Ia pernah menjabat sebagai Dirreskrimum Polda Metro Jaya pada periode 2018-2020, memimpin langsung pengungkapan sejumlah kasus besar yang menjadi perhatian nasional. Kemampuannya mengelola tekanan publik dan media di Jakarta menjadi modal penting saat ia kemudian dipercaya sebagai Karopenmas Divhumas Polri.
Tahun-tahun di Divisi Humas Polri membentuk Iqbal sebagai komunikator ulung. Dalam setiap konferensi pers, ia selalu hadir dengan data di tangan dan narasi yang terstruktur. "Transparansi adalah peluru yang bisa membungkam lebih banyak spekulasi daripada karet peluru yang kita punya," begitu kalimatnya yang kerap dikutip para wartawan kepolisian. Juli 2023 menjadi titik baru dalam perjalanannya: Presiden memercayakan kursi Kapolda Riau kepadanya, menggantikan Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi yang dimutasi menjadi Kapolda Sumatera Utara.
Kinerja dan Program Unggulan
Memimpin Riau bukan sekadar soal menekan angka kriminalitas. Provinsi dengan bentang geografis yang mencakup pesisir, perkotaan, dan pedalaman ini menyimpan tantangan keamanan yang berlapis: kebakaran hutan dan lahan, perdagangan narkotika di jalur perairan, hingga konflik agraria antara korporasi dan masyarakat adat. Iqbal merespons dengan pendekatan yang ia sebut sebagai "senyum sebelum senjata"—mengedepankan preemtif dan preventif sebelum represif.
Beberapa program unggulan yang terlihat hasilnya sepanjang 2025 hingga awal 2026:
- Kampung Tangguh Narkoba di sepanjang pesisir Bengkalis dan Dumai. Program ini memberdayakan masyarakat pesisir sebagai mata dan telinga kepolisian, memutus rantai penyelundupan narkotika dari jalur laut. Angka pengungkapan kasus narkoba di jalur perairan meningkat signifikan, sementara jumlah tersangka dari kalangan nelayan justru menurun, menandakan program ini berhasil mengalihkan potensi ekonomi masyarakat dari jeratan bandar.
- Quick Response Karhutla yang terintegrasi dengan BMKG dan Manggala Agni. Patroli udara menggunakan drone termal dilakukan setiap hari selama musim kemarau, hasilnya: luas area terbakar pada periode 2025 turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Generasi baru polisi kehutanan dilatih di bawah program ini, menciptakan kemampuan deteksi dini yang sebelumnya bergantung pada laporan warga.
- Balai Pemulihan Trauma di setiap Polres, khusus menangani korban kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Program ini lahir setelah Iqbal menemukan fakta bahwa banyak korban di pedalaman Riau tidak melanjutkan proses hukum karena trauma dan ketiadaan pendampingan. Ruang pemeriksaan khusus dengan desain ramah anak dan psikolog siaga menjadi standar baru yang diadopsi Polda lain di Sumatera.
Tantangan dan Harapan
Tidak semua berjalan mulus. Provinsi Riau masih berkutat dengan posisi sebagai salah satu wilayah dengan peredaran narkotika tinggi di Sumatera. Pelabuhan tikus di pesisir timur masih menjadi titik masuk yang sulit ditutup sepenuhnya. Iqbal mengakui bahwa selama permintaan masih tinggi dan kemiskinan struktural belum terurai, pertempuran melawan narkoba akan tetap menjadi perang panjang.
"Saya tidak janji Riau akan bebas narkoba. Tapi saya janji, selama saya di sini, tidak akan pernah ada ruang nyaman bagi bandar dan pengedar. Kami akan terus mengganggu tidur mereka."
Suatu sore di bulan Januari 2026, Iqbal menghadiri acara sederhana di salah satu Kampung Tangguh Narkoba di Bengkalis. Di hadapan para nelayan dan ibu-ibu yang berkumpul, seorang tokoh masyarakat menyampaikan sesuatu dalam bahasa Melayu yang membuat ruangan hening: "Pak Kapolda, kami dulu takut lapor. Sekarang kami berani. Karena kami tahu polisi tidak akan menjual laporan kami ke bandar." Iqbal hanya mengangguk.
Comments (0)