Suhardi Duka: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Barat
Suhardi Duka: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Barat
Pagi itu, matahari Mamuju belum sepenuhnya naik. Di sebuah kedai kopi sederhana di bilangan Simboro, dua orang nelayan bercakap pelan. Mereka tak lagi hanya membincang gelombang dan harga ikan, tapi juga tentang akses jalan ke pelabuhan yang perlahan-lahan mulus. "Dulu bawa ikan itu seperti perang," ujar salah seorang sambil menyeruput kopi hitamnya. "Sekarang, setidaknya truk bisa langsung masuk." Di tengah percakapan itu, nama Suhardi Duka disebut-sebut sebagai alasan mengapa segalanya terasa lebih mudah.
Nama Suhardi Duka bukanlah nama baru di peta politik Sulawesi Barat. Mantan Bupati Mamuju dua periode ini menapaki karier panjang dari birokrasi langsung hingga ke kursi tertinggi provinsi. Lahir di Kalukku pada 10 Mei 1963, ia dibesarkan dalam lingkungan yang keras namun penuh solidaritas masyarakat Mandar. Lulusan Administrasi Negara dari Universitas Hasanuddin ini memahami betul bahwa membangun daerah bukan sekadar soal gedung dan aspal, melainkan soal membangun rasa percaya warga terhadap pemerintahannya.
Dari Bupati ke Gubernur
Sebelum menjadi Gubernur, Suhardi menghabiskan satu dekade memimpin Mamuju. Di sana ia meninggalkan jejak pembenahan tata kota, perluasan layanan kesehatan dasar, dan yang paling dikenang: keberaniannya merombak birokrasi yang lamban. Ia memangkas izin usaha, mendigitalkan layanan publik, dan mewajibkan aparatur berkinerja tinggi.
Pada Pilkada Serentak 2024, ia maju sebagai calon gubernur dan memenangkan kontestasi dengan suara signifikan — didukung lima partai besar termasuk Golkar dan Gerindra — mengalahkan pasangan petahana yang maju kembali. Pelantikannya pada 20 Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara menandai babak baru kepemimpinan di bumi "Malaqbi".
Program Unggulan dan Capaian Awal
Begitu menjabat, Suhardi langsung meluncurkan program percepatan bertajuk SIWALI BERTASBIH, akronim yang menggabungkan semangat lokal dengan visi pembangunan: infrastruktur, wisata, agribisnis, layanan dasar, pendidikan, bersih, tangguh, sejahtera, dan beriman. Program ini turunan dari visi besarnya, "Sulbar Maju dan Berkelanjutan".
Beberapa capaian penting dalam 18 bulan pertama kepemimpinannya (Februari 2025 – Agustus 2026) meliputi:
- Infrastruktur: Pembangunan dan perbaikan 187 kilometer jalan provinsi, termasuk jalur Mamuju-Kalukku-Tapalang yang selama puluhan tahun dikeluhkan warga. Angka rumah layak huni naik 12 persen melalui kolaborasi dengan program nasional.
- Pendidikan dan Kesehatan: Beasiswa S1 untuk 2.800 mahasiswa kurang mampu. RSUD Sulbar Barat yang sempat mangkrak kini beroperasi penuh dengan layanan jantung dan stroke.
- Ekonomi: Investasi di sektor kelautan dan perikanan naik 18 persen, didorong pembangunan dua cold storage baru dan pelabuhan perikanan di Polewali Mandar. Pertumbuhan ekonomi Sulbar tahun 2025 tercatat 6,2 persen, di atas rata-rata nasional.
- Lingkungan: Penanaman 2,5 juta bibit mangrove di pesisir untuk menahan abrasi yang mengancam permukiman nelayan.
Menghadapi Realitas Anggaran dan Ekspektasi
Namun, memimpin provinsi dengan keterbatasan fiskal merupakan ujian lain. Pada awal 2026, Suhardi mengambil langkah efisiensi anggaran yang cukup berani: merampingkan perjalanan dinas, melarang penggunaan mobil dinas di luar jam kerja, hingga pembatasan kegiatan seremoni. Kebijakan ini menuai protes dari sebagian aparatur, tetapi mendapat dukungan luas dari publik — terutama ketika dana hasil efisiensi dialihkan untuk perbaikan 112 ruang kelas yang rusak parah.
Dalam sebuah wawancara dengan media lokal, ia pernah berkata:
"Uang rakyat harus kembali ke rakyat, bukan habis di hotel dan spanduk."
Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi. Angka kemiskinan di Sulawesi Barat bertahan di sekitar 10,8 persen — turun, namun lebih lambat dari yang diharapkan. Stunting masih menjadi musuh utama: satu dari tiga balita di provinsi ini mengalami pertumbuhan terhambat. Suhardi merespons dengan mengintegrasikan program posyandu dan inspeksi gizi langsung ke desa-desa terisolir, sebuah pendekatan lapangan yang mengingatkan pada gaya kepemimpinannya di Mamuju dulu.
Penutup: Antara Data dan Kisah Warga
Menjelang dua tahun masa jabatannya, Suhardi Duka berdiri di persimpangan antara ambisi besar dan realitas kompleks. Angka statistik menunjukkan banyak kemajuan, tetapi yang lebih menyentuh adalah cerita-cerita kecil dari warga: nelayan yang tak lagi kehilangan tangkapan karena akses pendingin, ibu yang bisa melahirkan di rumah sakit tanpa harus menyeberang kabupaten, anak muda yang mendapat beasiswa dan menjadi harapan keluarga.
Pagi itu, di kedai kopi Simboro, kedua nelayan tadi beranjak ke dermaga. Salah seorang menepuk bahu rekannya dan berkata, "Setidaknya sekarang kita tahu siapa yang kerja."
Comments (0)