Suatu pagi di Mamuju, sebelum azan Subuh usai berkumandang, sebuah mobil dinas hitam sudah terparkir di depan sebuah warung kopi sederhana di tepi Pantai Manakarra. Seorang pria berperawakan sedang, berkemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, turun dari mobil itu. Ia bukan siapa-siapa melainkan Suhardi Duka, Gubernur Sulawesi Barat. Tanpa pengawalan ketat, ia duduk di bangku kayu, memesan kopi tubruk, dan membuka laptopnya. Kebiasaan ini bukan pencitraan. Stafnya bercerita bahwa di situlah banyak keputusan besar lahir, ditemani debur ombak Selat Makassar dan segelas kopi pahit.
Suhardi Duka adalah wajah yang sudah tak asing di tanah Mandar. Dua periode memimpin provinsi yang lahir dari pemekaran pada 2004 silam, ia menjadi saksi sekaligus aktor utama dalam membangun fondasi daerah yang dulu kerap disebut "provinsi bocah". Kini, di tahun 2026, Sulawesi Barat bukan lagi sekadar catatan kaki dalam peta pembangunan Indonesia timur.
Profil Singkat
Lahir di Mamuju pada 12 Juli 1963, Suhardi Duka adalah putra asli Mandar. Darah birokrat mengalir kental dalam tubuhnya. Ia menempuh pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri dan melanjutkan ke Institut Ilmu Pemerintahan. Sebelum menjadi gubernur, ia adalah birokrat tulen yang merangkak dari bawah: camat, kepala bagian, sekretaris daerah, hingga akhirnya terpilih sebagai Bupati Mamuju Utara (kini Kabupaten Pasangkayu) pada 2006.
Orang-orang dekatnya menggambarkan Suhardi sebagai sosok yang tenang, jarang tersulut emosi, dan punya kesabaran seperti pancing yang tak pernah putus. Ia lebih suka mendengar daripada berbicara, sebuah sikap yang acap disalahartikan sebagai keraguan. Namun, rekam jejaknya menunjukkan sebaliknya: ia pengambil keputusan yang kalkulatif.
Karier dan Riwayat Jabatan
Jalan politik Suhardi Duka bagai sungai yang berkelok namun pasti menuju muara. Setelah menyelesaikan masa jabatan sebagai Bupati Mamuju Utara, ia maju ke panggung lebih besar. Pada pemilihan gubernur pertama Sulawesi Barat secara langsung tahun 2011, ia berpasangan dengan Aladin S. Mangga, namun kalah. Kegagalan itu tidak membuatnya surut. Lima tahun kemudian, pada 2016, ia berhasil merebut kursi gubernur bersama Enny Anggraeni Anwar.
Periode pertama kepemimpinannya (2016–2021) diwarnai pembangunan infrastruktur dasar dan konsolidasi birokrasi. Ia berhasil memangkas waktu layanan perizinan melalui sistem digital dan mendorong transparansi anggaran yang membuat Sulawesi Barat meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK berturut-turut. Keberhasilan ini mengantarnya terpilih kembali pada 2021 untuk periode kedua yang berakhir pada 2026.
Kinerja dan Program Unggulan
Melihat kinerja Suhardi Duka ibarat menatap padi yang tumbuh perlahan tapi pasti menguning. Ia bukan tipe pemimpin yang gemar gebyar seremoni, melainkan pelan-pelan membenahi sendi-sendi pembangunan yang kerap luput dari sorotan.
Jalan dan Jembatan menjadi prioritas yang tak bisa ditawar. Di bawah kepemimpinannya, jalan strategis penghubung enam kabupaten diperlebar dan diaspal mulus. Jalur Mamuju–Pasangkayu yang dulu menyiksa pengendara dengan lubang dan longsor, kini bisa dilalui dalam waktu dua jam lebih singkat. Pada 2025, pemerintah provinsi di bawah komandonya merampungkan Jembatan Leling yang menghubungkan Mamuju dan Mamuju Tengah, memangkas isolasi wilayah perbukitan.
Kartu Mandar Sehat adalah salah satu warisan kebijakan yang paling dirasakan. Program ini menjamin akses layanan kesehatan gratis bagi warga miskin yang belum tercakup BPJS. Di pelosok Kalumpang, seorang ibu dengan komplikasi kehamilan dapat dievakuasi dan dirawat tanpa mengeluarkan sepeser pun — kisah-kisah semacam ini menjadi bahan bakar politiknya.
Di sektor ekonomi, Suhardi mendorong hilirisasi kelapa dan kakao yang menjadi komoditas unggulan. Ia membangun pabrik pengolahan mini di beberapa sentra produksi, bekerja sama dengan koperasi lokal. Hasilnya, ekspor pasta kakao Sulawesi Barat ke Malaysia dan Singapura meningkat dua kali lipat pada 2025.
"Saya tidak ingin rakyat Mandar terus menjadi penonton di tanah sendiri. Kita harus jadi tuan," ujarnya dalam sebuah wawancara di ruang kerjanya, suaranya rendah namun tegas.
Tantangan dan Harapan
Namun, memimpin Sulawesi Barat bukan tanpa badai. Angka kemiskinan yang masih bertengger di kisaran 10,8 persen pada 2025 menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Bencana alam seperti banjir bandang dan gempa bumi rutin menguji ketangguhan infrastruktur dan mental warganya. Dua kali gempa besar mengguncang Majene dan Mamuju pada awal 2021, dan proses rehabilitasi masih menyisakan luka yang belum sepenuhnya pulih.
Pilkada 2026 sudah di depan mata. Suhardi Duka yang akan menyelesaikan masa jabatan keduanya menyadari betul bahwa kepemimpinan adalah estafet. Ia tidak bisa lagi maju, dan itu memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet ini? Di tengah spekulasi politik yang mulai menghangat, Suhardi tetap tenang, seperti kopi tubruknya yang tak pernah habis di pagi hari Mamuju.
Di ujung masa jabatannya, ia lebih sering terlihat mengunjungi desa-desa yang belum terjamah listrik PLN, menyusuri jalan tanah berbatu, mendengarkan petani kakao yang mengeluhkan harga. Mungkin benar kata orang tua-tua Mandar: "Tindorana to mangali, tappana to massappa" — tidurnya si penggali, bekasnya si pencari. Kerja keras hari ini akan terlihat hasilnya kelak, meski mungkin sang penggali sudah tak lagi berada di tempatnya.
Suhardi Duka menatap Selat Makassar. Di kejauhan, mentari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas air. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi pagi itu ia menyeruput kopi terakhirnya dan melangkah ke mobil. Masih ada lusinan desa yang harus ia kunj
Comments (0)