Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Swiss Menang Adu Penalti, Tantang Argentina di Perempat Final

Tetesan keringat dan air mata bercampur di tengah sorak-sorai yang menggetarkan stadion. Di bawah langit yang mulai gelap, para pemain Swiss berlarian ke a

Jul 08, 2026 - 13:50
0 0
Swiss Menang Adu Penalti, Tantang Argentina di Perempat Final
Tetesan keringat dan air mata bercampur di tengah sorak-sorai yang menggetarkan stadion. Di bawah langit yang mulai gelap, para pemain Swiss berlarian ke arah Gregor Kobel, sang pahlawan yang baru saja menepis tendangan penalti penentu. Sejarah baru terukir. Swiss melaju ke perempat final untuk pertama kalinya dalam lebih dari 70 tahun. "Ini belum selesai," bisik Granit Xhaka, kapten tim, kepada rekan-rekannya di tengah pelukan bersama. "Kami sudah menulis sejarah, sekarang kami ingin satu babak lagi."

Babak Pertama: Kebuntuan dan Mistar Gawang

Sejak peluit pertama, aroma ketegangan sudah terasa. Kolombia, dengan dukungan mayoritas suporter yang memadati stadion, tampil dominan. Mereka mengalirkan bola dengan cepat dan berulang kali menggedor pertahanan Swiss.
  1. Menit ke-18: Sebuah umpan silang berbahaya dari sisi kanan berhasil dipotong oleh Manuel Akanji, namun hanya menghasilkan sepak pojok.
  2. Menit ke-32: Peluang emas Kolombia datang. Sepak pojok melambung ke mulut gawang dan disambut sundulan Jhon Lucumí. Bola meluncur deras, tapi hanya membentur mistar gawang. Skor tetap 0-0 hingga turun minum.
"Kami sedikit beruntung malam ini," aku Murat Yakin, pelatih Swiss, seusai pertandingan. "Mistar itu milik kami. Namun, kami juga bertahan dengan luar biasa."

Babak Kedua: Swiss Mulai Berani

Memasuki babak kedua, Swiss tak lagi sekadar bertahan. Granit Xhaka mengambil alih kendali permainan dari lini tengah. Umpan-umpan panjangnya mulai merepotkan barisan belakang Kolombia.
  1. Menit ke-58: Zeki Amdouni melepaskan tendangan kaki kiri dari luar kotak penalti, namun masih melebar.
  2. Menit ke-76: Kolombia kembali mengancam. Tendangan keras dari luar kotak penalti ditepis oleh Gregor Kobel dengan satu tangan.
"Kami tahu mereka akan terus menekan, tapi kami percaya pada pertahanan kami," kata Xhaka. "Kobel tampil tenang, dia memberi kami keyakinan." Hingga 90 menit berakhir, papan skor tetap menunjukkan angka nol. Pertandingan pun berlanjut ke babak tambahan waktu.

Babak Tambahan Waktu: Drama 30 Menit

Keletihan mulai terlihat di wajah para pemain, namun semangat pantang menyerah terus membara. Kolombia hampir memecah kebuntuan.
  1. Menit ke-108: Tendangan keras Jaminton Campaz memaksa Kobel melakukan penyelamatan gemilang. Bola seolah akan masuk ke sudut kiri gawang, namun ujung jari Kobel berhasil mengubah arah bola.
  2. Menit ke-118: Kesalahan lini belakang Swiss memberi Campaz peluang emas lagi. Sayang, sepakannya melambung di atas mistar.
"Di momen itu, saya hanya berpikir: kami tidak bisa kalah. Tidak malam ini," kenang Kobel sambil tersenyum kecil. "Tapi jujur, jantung saya sempat berhenti sejenak." Setelah 120 menit tanpa gol, pertandingan harus diakhiri lewat adu penalti yang mendebarkan.

Adu Penalti: Panggung Kobel, Patah Hati Kolombia

Drama adu penalti menjadi pentas terakhir yang memisahkan mimpi kedua tim. Satu per satu algojo maju, membawa harapan seluruh bangsa.
  1. Davinson Sánchez (Kolombia) – Tendangannya membentur mistar gawang. Swiss unggul momentum.
  2. Granit Xhaka (Swiss) – Sukses mengeksekusi dengan tenang.
  3. Manuel Akanji (Swiss) – Tendangannya melambung jauh di atas gawang. Skor kembali seimbang.
  4. Cucho Hernández (Kolombia) – Kobel menepis tendangan kerasnya! Swiss kembali di atas angin.
  5. Cedric Itten (Swiss) – Menjalankan tugas dengan sempurna.
  6. Ruben Vargas (Swiss) – Penendang terakhir, mencetak gol kemenangan. Swiss menang 4-3 dalam adu penalti.
"Ketika saya melihat bola dari tendangan Vargas masuk, rasanya seperti mimpi," ujar seorang suporter Swiss yang menyaksikan dari bangku penonton, air mata mengalir di pipinya. "Kami sudah menunggu ini sejak 1954. Kakek saya mungkin menyaksikan dari atas sana." Bagi Kolombia, kekalahan ini mengulang kekecewaan di Piala Dunia 2018, saat mereka juga tersingkir lewat adu penalti. Ironisnya, tim ini hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, namun gagal memanfaatkan peluang untuk mengakhiri laga sebelum adu tos-tosan. "Sakit. Sangat sakit," lirih seorang gelandang Kolombia, wajahnya tertunduk. "Kami memberikan segalanya, tapi sepak bola kadang kejam." Kini Swiss bersiap menatap tantangan terberat: menghadapi juara bertahan Argentina—yang baru saja bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menyingkirkan Mesir 3-2—di perempat final. Sebuah duel dengan Lionel Messi sudah menanti. "Kami tak gentar," tegas Xhaka. "Kami datang sejauh ini bukan untuk sekadar numpang lewat. Argentina yang harus bersiap menghadapi kami."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User