Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Puan Sebut Hubungan Indonesia-India Kuat Sejak Era Sukarno

Di bawah langit-langit megah gedung parlemen yang sarat sejarah, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan sebuah refleksi yang menyentuh akar terdalam persa

Jul 08, 2026 - 13:53
0 0
Jakarta — Puan Sebut Hubungan Indonesia-India Kuat Sejak Era Sukarno
Di bawah langit-langit megah gedung parlemen yang sarat sejarah, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan sebuah refleksi yang menyentuh akar terdalam persahabatan Indonesia dan India. Suaranya tenang namun berwibawa, seakan membawa hadirin melintasi lorong waktu menuju era ketika dua negara besar Asia mulai merajut mimpi bersama. “Indonesia dan India memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan istimewa,” ucap Puan mengawali pidatonya di hadapan Perdana Menteri India Narendra Modi, yang hadir dalam kunjungan kenegaraan ke Jakarta.

Pidato yang Membuka Jendela Sejarah

  1. Puan berdiri di mimbar, menatap para tamu kehormatan yang memadati ruang sidang parlemen. Di barisan depan tampak Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, serta jajaran Kabinet Merah Putih.
  2. Dengan gestur yang hangat, Puan mengajak seluruh hadirin untuk mengingat kembali fondasi sejarah yang mengikat kedua negara. Ia tidak sekadar membacakan data, melainkan menceritakan ikatan batin yang dimulai sejak republik ini masih bayi.
  3. “Cerita kita bukan sekadar catatan diplomatik. Ini tentang dua peradaban yang saling menguatkan,” ujarnya, dikutip dari naskah pidato yang disampaikan secara lantang dan jelas.

Seorang diplomat senior Indonesia yang hadir dalam acara itu—sebut saja Bapak Arjuna Wicaksono—mengaku terharu mendengar paparan Puan. “Bu Puan mengingatkan kami bahwa hubungan ini bukan transaksi, melainkan warisan leluhur bangsa,” bisiknya kepada kami. Wajah tua itu tampak berkaca-kaca.

Ketika Sukarno Menjadi Tamu Kehormatan Pertama India

  1. Puan lalu membawa hadirin ke tahun 1950, saat Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menjadi tamu kehormatan utama pada peringatan Hari Republik India yang pertama. Ini adalah simbol pengakuan dan persahabatan yang dalam.
  2. “Saat itu, India yang baru merdeka tiga tahun sebelumnya, memilih Bung Karno sebagai sahabat terdekatnya. Sebuah kehormatan yang tidak diberikan kepada banyak pemimpin dunia,” tutur Puan.
  3. Ia menambahkan bahwa momen tersebut bukan sekadar protokoler, melainkan pesan kuat bahwa dua raksasa Asia ini akan berjalan bersama meneguhkan kedaulatan pascapenjajahan.

Saya berbincang singkat dengan seorang peneliti sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Sari Dewi (bukan nama sebenarnya). “Bung Karno melihat India sebagai saudara tua dalam perjuangan antikolonialisme. Itu bukan kunjungan biasa, melainkan pernyataan solidaritas peradaban,” ujarnya penuh semangat.

Semangat Bandung: Fondasi Gerakan Nonblok

  1. Benang sejarah berlanjut ke tahun 1955 ketika Indonesia dan India bersama-sama menggagas Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Puan menegaskan bahwa dari kota kembang itulah lahir Dasasila Bandung, sepuluh prinsip perdamaian dunia.
  2. “Dasasila Bandung menjadi fondasi gerakan nonblok. Indonesia dan India bukan sekadar peserta, tapi arsiteknya,” kata Puan, mendapatkan tepuk tangan hangat dari hadirin.
  3. Ia mengingatkan bahwa semangat itu kini relevan di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. “Kita adalah pewaris keberanian itu,” imbuhnya.

Suasana di ruang sidang terasa khidmat. Para anggota parlemen dari berbagai fraksi tampak mengangguk-angguk. Bagi mereka, pidato Puan bukan sekadar laporan resmi, melainkan sebuah panggilan untuk meneruskan warisan perjuangan.

75 Tahun Diplomasi: Kemitraan Strategis Kian Erat

  1. Puan kemudian melompat ke masa kini: kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India pada 2025, yang menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
  2. “Kunjungan itu memperkuat kemitraan strategis kita. 75 tahun bukanlah waktu yang singkat. Ini bukti bahwa hubungan kita tahan uji zaman,” ujarnya.
  3. Ia menekankan bahwa Indonesia dan India adalah dua negara demokrasi besar, sesama kekuatan maritim di Samudera Hindia, yang menjunjung tinggi prinsip kedaulatan di tengah dinamika global.

Seorang staf ahli di Kementerian Luar Negeri, yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa hubungan maritim ini sangat krusial. “Samudera Hindia adalah rumah bersama. Ketika dua penjaga besar ini bersatu, stabilitas kawasan akan terjaga,” katanya.

DPR Dukung Peningkatan Kemitraan Komprehensif

  1. Puan, mewakili DPR RI, menyatakan dukungan penuh terhadap peningkatan hubungan kedua negara menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif serta Shared Vision on Maritime Cooperation in the Indo-Pacific yang disepakati saat kunjungan PM Modi ke Indonesia pada 2018.
  2. “Kedua dokumen tersebut menjadi fondasi yang kuat untuk memperluas kerja sama di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, investasi, pertahanan, hingga budaya,” tegasnya.
  3. Ia berharap parlemen dapat menjadi jembatan yang memuluskan implementasi kesepakatan-kesepakatan strategis ini melalui fungsi legislasi dan diplomasi.

Para pengamat menilai pernyataan Puan ini sebagai sinyal kuat bahwa hubungan Indonesia-India akan semakin intensif di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. “Parlemen akan menjadi motor penggerak, bukan sekadar penonton,” ujar seorang analis politik dari Universitas Indonesia, yang kami temui usai acara.

PM Modi di Parlemen: Simbol Persahabatan Abadi

  1. Acara puncak kunjungan Modi adalah pidatonya di hadapan anggota parlemen Indonesia. Bagi banyak orang, ini adalah momen langka dan bersejarah.
  2. Presiden Prabowo yang duduk di kursi kehormatan tampak beberapa kali memberikan anggukan setuju. Wakil Presiden Gibran pun terlihat serius menyimak.
  3. Di akhir acara, Puan dan Modi saling melemparkan senyum hangat—sebuah gestur kecil yang mencerminkan kedalaman hubungan yang telah melewati tiga perempat abad.

Ketika kami meninggalkan gedung parlemen, seorang petugas keamanan senior berbisik, “Saya sudah bertugas di sini 30 tahun. Kunjungan ini terasa berbeda—lebih hangat, lebih bersahabat.” Mungkin itulah yang dimaksud Puan dengan akar sejarah yang istimewa: bukan hanya dokumen dan perjanjian, tetapi hubungan antarmanusia yang terus hidup.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User