Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Makassar — 30 Sekolah Disetujui Revitalisasi dari 79 Usulan

Rabu pagi di Jalan Pongtiku, Kecamatan Bontoala, terik matahari tak menyurutkan langkah puluhan orang yang berkumpul di halaman SD Muhammadiyah Mimbar Baru

Jul 09, 2026 - 14:09
0 0

Rabu pagi di Jalan Pongtiku, Kecamatan Bontoala, terik matahari tak menyurutkan langkah puluhan orang yang berkumpul di halaman SD Muhammadiyah Mimbar Baru. Di antara debu dan retakan dinding tua, sebuah ritual penuh harap digelar: peletakan batu pertama revitalisasi sekolah. Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Moch. Salim Somad, berdiri di samping Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, disaksikan guru-guru yang wajahnya campur aduk antara lega dan tak percaya. Bagi mereka, pagi itu bukan sekadar seremoni—melainkan titik balik dari penantian panjang akan ruang kelas yang tak lagi bocor saat hujan dan tak lagi berdebu saat kemarau.

Achi Soleman, yang sehari-hari bergelut dengan data puluhan sekolah rusak di ibu kota Sulawesi Selatan ini, tak bisa menyembunyikan getar suaranya. “Kami mengusulkan 79 sekolah ke pusat. Tujuh puluh sembilan,” katanya kemudian, menekankan angka itu seolah ia ingin kami merasakan beratnya beban yang ia pikul. Dari jumlah itu, hanya segelintir yang awalnya dijanjikan. Namun kabar dari Jakarta membawa angin segar: 30 sekolah di Makassar kini telah masuk daftar penerima program revitalisasi.

Mimpi yang Tertunda, Kini Menemui Jalan

Di salah satu sudut ruang guru SD Mimbar Baru, Nurhayati (47), guru kelas 3, mengelap kacamatanya yang berembun. “Kalau hujan, anak-anak harus minggir ke pojok. Ember plastik kami taruh di bawah lubang atap. Saya kadang mengajar sambil menahan tangis,” tuturnya lirih. Ia sudah 15 tahun mengajar di sekolah itu, menyaksikan dinding yang makin retak dan langit-langit yang mulai rapuh. “Saya hanya ingin anak-anak bisa belajar tanpa takut atap ambruk.”

Mimpi yang sama juga tersimpan di dada Arman (10), siswa kelas 5 yang bercita-cita menjadi arsitek. “Saya mau gambar gedung sekolah yang bagus. Biar adik-adik nanti nggak kepanasan lagi di dalam kelas,” katanya, matanya berbinar. Bagi Arman, bangunan baru bukan sekadar fisik; ia adalah janji bahwa masa depannya layak diperjuangkan.

Dari 11 ke 30: Verifikasi yang Mengubah Nasib

Titik terang mulai muncul ketika tim dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melakukan verifikasi lapangan. “Awalnya hanya 11 sekolah yang dapat. Tapi kami tidak berhenti mendorong, memastikan data riil kondisi sekolah tersampaikan dengan benar,” ujar Achi Soleman. Ia mengingatkan agar tak ada pihak yang coba-coba memanipulasi tingkat kerusakan. “Itu justru merugikan kita sendiri. Bantuan bisa meleset, dan anak-anak kita yang jadi korban,” tegasnya.

“Revitalisasi sekolah ini merupakan program prioritas Bapak Presiden untuk perbaikan gedung sekolah. Sekolah-sekolah dengan kategori rusak berat menjadi prioritas utama yang kami perbaiki.” — Moch. Salim Somad, Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen.

Salim, yang hadir langsung memantau peletakan batu pertama, menekankan bahwa program ini adalah bagian dari mandat presiden. Namun ia juga mengingatkan, akurasi data adalah kunci. “Kami ingin ketika sekolah diundang tanda tangan PKS, semuanya siap. Jangan sampai diundang tapi belum penuhi syarat, lalu gagal,” katanya. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tahap pertama dijadwalkan berlangsung pada 16–20 Juli 2026, memberi tenggat waktu yang mepet bagi Dinas Pendidikan untuk merampungkan administrasi 19 sekolah di tahap awal.

Lebih dari Sekedar Tembok dan Atap

Revitalisasi ini bukan hanya soal beton dan genteng. Kemendikdasmen juga mencanangkan program digitalisasi pembelajaran yang akan melengkapi sekolah-sekolah terpilih. Harapannya, ketika bangunan berdiri lebih kokoh, kualitas belajar-mengajar pun ikut terdongkrak. “Kami ingin sekolah-sekolah di Makassar tidak hanya aman, tapi juga modern dan nyaman. Anak-anak berhak mendapatkan itu,” ujar Salim.

Meski baru 30 sekolah yang pasti, peluang penambahan kuota masih terbuka. Achi Soleman berjanji akan terus mengawal hingga tak ada lagi siswa yang harus belajar di bawah ancaman atap runtuh. “Ini capaian yang sangat baik, tapi perjuangan belum selesai. Masih ada 49 sekolah lain yang menunggu giliran,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User