Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Maros — Kalapas Narkotika Dukung Turnamen Futsal Anak Binaan LPKA

Di balik tembok tinggi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Maros, sorak-sorai menggema pada Rabu (8/7) siang. Bukan teriakan khas keseharian, mel

Jul 09, 2026 - 14:01
0 0

Di balik tembok tinggi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Maros, sorak-sorai menggema pada Rabu (8/7) siang. Bukan teriakan khas keseharian, melainkan teriakan semangat dari para pemain futsal belia yang berlaga di lapangan. Debu beterbangan, keringat bercucuran, namun mata mereka berbinar penuh antusias. Ini bukan sekadar pertandingan biasa—ini adalah “Gelora Anak Bangsa”, turnamen futsal U-17 yang menjadi napas segar dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2026.

Di tribun, deretan kursi undangan terisi oleh figur-figur penting. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan, Mulyadi, duduk bersebelahan dengan Bupati Maros, Chaidir Syam, yang siang itu bertindak membuka turnamen secara resmi. Tak ketinggalan, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Sungguminasa, Gunawan, hadir bukan sebagai tamu formalitas, melainkan sebagai sosok yang percaya bahwa masa depan seorang anak tidak pernah benar-benar pudar, meski mereka tengah berada dalam proses hukum.

Lebih dari Sekadar Skor di Papan Angka

Turnamen ini bukanlah kompetisi yang hanya mencari siapa yang tercepat menggiring bola atau paling tajam mencetak gol. Lebih dalam dari itu, “Gelora Anak Bangsa” dirancang sebagai ruang terapi jiwa. Bagi anak-anak binaan yang sehari-hari bergulat dengan rasa bersalah dan stigma, lapangan futsal seolah menjelma menjadi zona netral di mana status mereka hanya satu: pemain yang berjuang untuk timnya.

Di sela-sela pertandingan, seorang anak binaan bernisial Rian (17) terlihat berdoa khusyuk di bangku pemain cadangan. Tangannya terkatup erat, bibirnya komat-kamit. Rekan-rekannya menepuk pundaknya—sebuah gestur sederhana yang menunjukkan bahwa di tempat ini, solidaritas tumbuh lebih kuat dari beton bangunan yang mengelilingi mereka.

“Saya pernah merasa sudah tidak berguna. Tapi di lapangan, saya merasa sama seperti anak-anak lain di luar sana. Saya bisa dihargai, saya bisa bikin tim saya menang,”

bisik Rian, matanya menerawang jauh ke lapangan hijau yang menjadi saksi bisu kebangkitannya.

Dukungan dari Hati, Bukan Seremoni

Kehadiran Gunawan di LPKA Maros memiliki makna simbolis yang kuat. Di tengah hiruk-pikuk pengelolaan Lembaga Pemasyarakatan Narkotika yang keras, ia menyempatkan diri menyaksikan wajah-wajah belia itu bertanding. Baginya, ini bukan tentang lintas instansi, melainkan tentang memastikan bahwa hak anak untuk berkembang tidak pernah hilang, meski dalam jeruji pembinaan.

Dengan nada bicara yang teduh, Gunawan berbagi pandangannya. Ia tak berbicara tentang angka statistik kriminalitas atau target pembinaan. Ia berbicara tentang harapan.

“Kegiatan seperti ini patut kita apresiasi karena memberikan kesempatan kepada anak-anak binaan untuk terus berkembang dan menunjukkan potensi terbaik yang mereka miliki. Meskipun sedang menjalani masa pembinaan, mereka tetap merupakan bagian dari generasi penerus bangsa yang memiliki hak untuk tumbuh, belajar, berkreasi, dan meraih masa depan yang lebih baik,”

ujar Gunawan.

Pernyataan itu bukan kata-kata kosong. Sorot matanya mengikuti gerak bola yang dimainkan dengan penuh semangat oleh para pemain. Ia melihat disiplin saat pemain bertahan mengambil posisi, kerja sama saat bola dioper ke lini depan, dan sportivitas saat seorang pemain membantu lawannya bangkit setelah terjatuh. Nilai-nilai yang, menurut Gunawan, jauh lebih penting dari sekadar skor akhir di papan angka.

“Melalui kegiatan olahraga seperti futsal, nilai-nilai disiplin, kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, serta semangat pantang menyerah dapat terus ditanamkan. Kami berharap anak-anak binaan di LPKA Maros tidak kehilangan harapan maupun kesempatan untuk mengukir prestasi,”

tambahnya.

Bibit-Bibit Kepercayaan Diri yang Kembali Disemai

Turnamen “Gelora Anak Bangsa” menjadi bukti bahwa kebijakan pemasyarakatan modern tak lagi hanya soal penghukuman, tapi juga pemulihan. Setiap operan bola, setiap selebrasi gol, adalah terapi kecil yang perlahan merekatkan kembali serpihan kepercayaan diri mereka yang sempat retak.

Di sudut lapangan, seorang pelatih berkaos olahraga lusuh berteriak memberikan instruksi. Matanya berbinar. Ia tahu, anak-anak yang kini diasuhnya suatu hari akan kembali ke tengah masyarakat. Bekal karakter yang mereka dapat dari turnamen ini mungkin tidak akan tercatat di rapor atau ijazah, tetapi akan terpatri dalam ingatan.

Saat matahari mulai condong ke barat dan pertandingan hari itu berakhir, tak ada yang berjalan dengan kepala tertunduk. Hanya ada pelukan, tos-tosan, dan tawa. Sebuah pemandangan yang membuktikan bahwa anak tetaplah anak: mereka butuh dicintai, diakui, dan diberi kesempatan kedua. Hari Anak Nasional 2026 di LPKA Maros bukanlah perayaan seremonial, melainkan deklarasi bahwa secercah harapan selalu punya tempat, bahkan di tempat yang paling tak terduga sekalipun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User