Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

SEMARANG — Ratusan ASN Belajar AI Generatif Aman dan Etis

Ruangan kecil itu biasanya sunyi. Namun pagi itu, Nurul—seorang staf administrasi di BNN Kabupaten Tegal—menatap layar laptopnya dengan campuran rasa ingin

Jul 08, 2026 - 05:15
0 0

Ruangan kecil itu biasanya sunyi. Namun pagi itu, Nurul—seorang staf administrasi di BNN Kabupaten Tegal—menatap layar laptopnya dengan campuran rasa ingin tahu dan gamang. Ia baru saja mendengar istilah “AI Generatif” untuk pertama kali. “Jujur, saya takut pekerjaan saya bakal digantikan robot,” akunya lirih. Beberapa jam kemudian, setelah mengikuti webinar dari ruang kerjanya, Nurul justru tersenyum lega. “Ternyata AI itu asisten, bukan pesaing. Tapi kita harus tahu aturan mainnya.”

Kegalauan seperti yang dialami Nurul ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng) sebagai sinyal penting: literasi kecerdasan buatan di kalangan aparatur sipil negara harus segera dikuatkan. Maka, pada Selasa (30/6), BNNP Jateng menggelar Webinar “Penggunaan AI Generatif secara Aman dan Etis bagi ASN” dalam program BNNP Jawa Tengah CERDAS (Corporate Education and Resource Development/BNN CORPU). Kegiatan yang digelar secara hybrid dari Aula Bharadaksa BNNP Jateng ini menjangkau 320 peserta—mulai dari ASN BNN di seluruh Jawa Tengah, hingga perwakilan BNN dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia yang mengikuti via Zoom dan kanal YouTube. Bagi banyak dari mereka, ini adalah kali pertama mendengar istilah “AI Generatif” dibedah secara gamblang dan langsung dihubungkan dengan tugas sehari-hari.

Kepala BNNP Jateng, Brigjen Pol. Dr. H. Agus Rohmat, S.I.K., S.H., M.Hum., hadir bukan sekadar untuk membuka acara. Dengan nada tenang namun tegas, ia melukiskan realitas baru yang tak terelakkan. “Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan AI, mulai dari penyusunan konsep surat, pembuatan presentasi, analisis data, hingga penyusunan laporan. Namun demikian, AI bukanlah pengganti manusia, melainkan alat bantu yang harus dimanfaatkan secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas kinerja ASN.” Suaranya menekankan: berpikir kritis dan integritas tak boleh luruh hanya karena teknologi kian canggih. “Setiap aparatur dituntut tetap mengedepankan kemampuan berpikir kritis, integritas, serta profesionalisme dalam setiap proses pengambilan keputusan sehingga teknologi benar-benar menjadi pendukung peningkatan pelayanan publik, bukan justru menimbulkan ketergantungan.”

Di tengah sesi, seorang peserta dari BNN Kota Semarang, Budi, menceritakan pengalamannya saat pertama kali mencoba aplikasi pembuat teks otomatis untuk laporan. “Waktu itu saya coba buat laporan singkat, hasilnya bagus, tapi ada data yang salah. Kalau saya tidak verifikasi ulang, bisa bahaya. Sekarang saya sadar, AI itu seperti asisten yang harus selalu diawasi.” Sementara itu, pengamat transformasi digital publik, Dr. Andri Wicaksono, saat dihubungi terpisah menilai bahwa langkah BNNP Jateng patut direplikasi. “Tanpa literasi etis yang memadai, ASN bisa terjerumus dalam kemudahan yang menyesatkan. Mereka perlu paham bahwa setiap kata yang dihasilkan mesin harus melalui filter akal sehat dan regulasi,” ujarnya.

Transformasi Digital di Birokrasi: Peluang dan Risiko

Webinar ini menegaskan bahwa adopsi AI Generatif di birokrasi adalah keniscayaan. Namun, tanpa panduan etis yang kokoh, ia bisa menjadi pedang bermata dua. BNNP Jateng merumuskan tiga prinsip yang menjadi fondasi peserta dalam menggunakan AI. Ketiganya bukan sekadar teori, melainkan jawaban atas keresahan ASN seperti yang dirasakan Nurul dan Budi.

Prinsip Penjelasan Contoh Konkret
Tingkatkan Produktivitas, Jangan Gantikan Kemampuan Berpikir AI untuk mempercepat tugas administratif, tetapi keputusan substantif tetap di tangan manusia. Menyusun draf surat dengan AI, namun struktur argumen dan verifikasi data tetap oleh ASN.
Jaga Keamanan Informasi Kedinasan Data internal dan rahasia tidak boleh dimasukkan ke platform AI publik. Tidak pernah menyalin naskah dinas ke chatbot daring untuk diringkas.
Verifikasi dan Junjung Etika Setiap output AI harus diverifikasi, tidak digunakan untuk plagiat atau manipulasi informasi. Mengecek keakuratan kutipan yang dihasilkan AI sebelum dicantumkan dalam laporan resmi.

Di penghujung acara, Kepala BNNP Jateng kembali menekankan bahwa arah pengembangan ASN bukanlah menciptakan aparatur yang bisa bersaing dengan mesin, melainkan aparatur yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. “ASN yang unggul adalah yang mampu memanfaatkan AI dengan bijak untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya. Bagi Nurul, webinar itu bukan sekadar menambah pengetahuan—ia adalah ritual peresmian kawan baru bernama AI, dengan aturan yang jelas dan batasan yang manusiawi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User