Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Pimpin Delegasi Indonesia, Rektor Unhas Jadi Tokoh Diplomasi Sains di Prancis

ANGERS — Di era ketika tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan transformasi digital menuntut jawaban lintas batas, universitas tak

Jul 09, 2026 - 23:34
0 0

ANGERS — Di era ketika tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan transformasi digital menuntut jawaban lintas batas, universitas tak lagi sekadar menara gading. Kampus-kampus kini menjelma menjadi jembatan diplomasi yang menghubungkan ilmuwan, pemerintah, dan industri. Dalam konteks inilah Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), menapakkan kaki di Kota Angers, Prancis, memimpin delegasi Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MRPTN) Indonesia. Di pundaknya, ada amanah untuk menyuarakan kepentingan riset nasional—sekaligus membawa perspektif unik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Bagi Prof. Jompa—akrab disapa Prof JJ—perjalanan ini bukan hanya agenda seremonial. “Sains adalah bahasa universal yang bisa menyatukan negara-negara dengan sejarah dan budaya berbeda. Di situlah letak kekuatan diplomasi sains,” ujarnya di sela-sela sesi, dengan nada rendah namun penuh keyakinan.

Menyatukan Dua Peradaban dalam 12 Lokakarya

Joint Working Group (JWG) ke-14 Indonesia–Prancis yang berlangsung pada 1–3 Juli 2026 menjadi panggung utama kolaborasi ini. Forum dwitahunan tersebut dihadiri oleh 350 peserta dari 38 perguruan tinggi negeri Indonesia dan 58 universitas Prancis—sebuah angka yang menunjukkan betapa seriusnya kedua negara dalam membangun kemitraan berbasis pengetahuan.

Acara dibuka di kampus Université d’Angers, kota bersejarah di tepi Sungai Maine. Dalam tiga hari padat, para akademisi terlibat dalam 12 lokakarya tematik yang mencakup transisi energi, kecerdasan buatan, keamanan siber, teknologi nuklir, hingga maritim. Berikut kronologi partisipasi delegasi Unhas yang menonjol:

  1. 1 Juli 2026, Hari Pertama: Pembukaan resmi JWG dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi kedua negara. Delegasi Unhas—yang terdiri dari Prof. Dr. Amir Ilyas, SH, MH, Dr. Ansariadi, dan Dr. Sawedi Muhammad—langsung memetakan potensi kolaborasi dengan universitas mitra. Di penghujung hari, Prof JJ bertemu informal dengan pimpinan Naval Group dan ENSTA untuk membahas rencana lokakarya maritim esok harinya.
  2. 2 Juli 2026, Hari Kedua: Lokakarya maritim menjadi sesi yang paling dinanti. Prof JJ tampil sebagai narasumber bersama Sébastien Reymond dari ENSTA dan François-Régis Boulvert dari Naval Group. Diskusi menyorot pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan, keamanan maritim, dan pengembangan ekonomi biru di kawasan Indo-Pasifik. Data menunjukkan bahwa 70% wilayah Indonesia adalah laut, namun kontribusi ekonomi biru baru mencapai 20% dari potensi maksimal—sebuah gap yang memerlukan intervensi riset.
  3. 3 Juli 2026, Hari Ketiga: Penutupan dan penandatanganan sejumlah nota kesepahaman. Unhas berhasil mengunci kerja sama riset dengan tiga universitas Prancis: Université de Bretagne Occidentale, Sorbonne Université, dan Université de Montpellier di bidang oseanografi, biodiversitas laut, dan teknologi perikanan berkelanjutan.

Coral Triangle: Laboratorium Alam yang Bicara ke Dunia

Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika Prof. JJ memaparkan keunikan geografis kampusnya. Unhas, yang berdiri di Sulawesi Selatan, berada di jantung Coral Triangle—kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. “Laut di sekitar Makassar tidak hanya memberi makan jutaan orang, tetapi juga menyimpan data ribuan tahun tentang perubahan iklim. Setiap terumbu karang adalah arsip hidup yang bisa membantu kita memprediksi masa depan bumi,” kata Prof. JJ. Hadirin terdiam, lalu memberikan aplaus panjang. Sébastien Reymond mengakui, “Perspektif Unhas mengingatkan kami bahwa Eropa tidak bisa sendirian menghadapi krisis iklim. Kita memerlukan kearifan dari mereka yang hidup bersisian dengan laut setiap hari.”

Mahasiswa doktoral Unhas yang ikut serta, Fikri (bukan nama sebenarnya), berbisik kepada koleganya: “Saya tidak menyangka riset tentang lamun di perairan Spermonde bisa menarik perhatian ilmuwan sekelas ENSTA. Ini memotivasi saya untuk melanjutkan.”

Lebih dari Sekadar MoU: Harapan untuk Generasi Muda

Di balik capaian formal, ada kisah-kisah kecil yang menghangatkan. Di sela istirahat, Prof. JJ terlihat berbincang akrab dengan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di Prancis. “Rektor banyak bertanya tentang kehidupan kami di sini, tentang tantangan riset, dan bagaimana kami bisa berkontribusi untuk Indonesia kelak,” ujar Sari, mahasiswi program master di Université de Nantes.

Ketika ditanya soal dampak nyata kolaborasi ini, Prof. JJ menjawab dengan retoris: “Apa gunanya kerja sama jika tidak ada perubahan yang bisa dirasakan oleh nelayan kecil di Sulawesi atau mahasiswa yang ingin mengakses laboratorium berstandar global?” Jawabannya terletak pada komitmen baru yang dibangun di Angers: pertukaran mahasiswa dan dosen, akses pendanaan riset bersama, serta pengembangan program studi kembar di bidang kelautan.

Ketika pesawat delegasi lepas landas dari Paris pada 4 Juli dini hari, membawa pulang banyak dokumen kerja sama, Prof. JJ menyimpan satu keyakinan: diplomasi sains bukan tentang pertemuan elite, melainkan tentang menjadikan pengetahuan sebagai jalan untuk memanusiakan hubungan antarbangsa. Dan dari Kampus Tamalanrea, harapan itu kini berlayar lebih jauh.

[SOCIAL_TWEET]: Dari Makassar ke Prancis, Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa memimpin diplomasi sains lewat riset maritim dan ekonomi biru. Coral Triangle jadi pusat perhatian ilmuwan dunia. Sains menyatukan, bukan? 🌊🤝 #DiplomasiSains #UnhasGlobal #IndonesiaPrancis [SOCIAL_FB]: Laut Sulawesi ternyata menginspirasi ilmuwan Prancis. Lewat Joint Working Group di Angers, Unhas membawa kisah Coral Triangle dan menggandeng kampus top Eropa. Bagaimana pertemuan ini mengubah wajah kolaborasi riset Indonesia? Klik untuk cerita lengkapnya. [SOCIAL_TG]: 🇮🇩🤝🇫🇷 Rektor Unhas pimpin delegasi Indonesia di Prancis, hadirkan perspektif laut Sulawesi ke forum global. Hasilnya: kerja sama riset dengan 3 universitas top Prancis! 🌊📚 [FAQ_JSON] [{"q":"Apa itu Joint Working Group (JWG) Indonesia-Prancis?","a":"Forum dwitahunan yang mempertemukan perguruan tinggi Indonesia dan Prancis untuk merancang kerja sama di bidang pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan kewirausahaan."},{"q":"Mengapa Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tokoh utama dalam JWG ke-14?","a":"Unhas mewakili kepentingan riset maritim Indonesia karena lokasinya di Coral Triangle, kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, sehingga memberi perspektif unik dalam pengelolaan laut berkelanjutan."},{"q":"Apa hasil konkret dari JWG ke-14 bagi Unhas?","a":"Unhas menandatangani nota kesepahaman riset dengan Université de Bretagne Occidentale, Sorbonne Université, dan Université de Montpellier di bidang oseanografi, biodiversitas laut, dan teknologi perikanan berkelanjutan."}] [TAGS]: Unhas, diplomasi sains, Indonesia Prancis, riset maritim, Prof Jamaluddin Jompa

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User