Makassar — Gerbang Moderasi Indonesia Pertama Mulai Dibangun
Pagi itu, di bawah langit cerah Bumi Tamalanrea Permai, sebuah momen sunyi namun penuh makna berlangsung. Denting sekop menyentuh tanah mengisyaratkan lebi
Pagi itu, di bawah langit cerah Bumi Tamalanrea Permai, sebuah momen sunyi namun penuh makna berlangsung. Denting sekop menyentuh tanah mengisyaratkan lebih dari sekadar awal pembangunan fisik—ia menandai lahirnya simbol baru kerukunan Indonesia. Di sinilah, di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar bersama Wali Kota Munafri Arifuddin meletakkan batu pertama Gerbang Moderasi Indonesia, menjadikan Makassar sebagai kota pertama di Tanah Air yang memulai proyek monumental ini.
Gerbang Itu Bernama Hati
Bukan sekadar struktur beton menjulang, Gerbang Moderasi Indonesia dirancang sebagai penanda bahwa hidup bersama dalam perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman. Kawasan BTP dipilih bukan tanpa alasan: di sini, masjid, gereja, dan vihara berdiri dalam radius saling melempar senyum. Rumah ibadah yang berbeda keyakinan hidup berdampingan tanpa sekat, menjadi cermin nyata dari keindahan mozaik iman.
“Ini bukan sekadar gerbang fisik, tetapi gerbang hati. Setiap lengkungannya akan mengingatkan kita bahwa perbedaan adalah rahmat, bukan hukuman,” ujar Menteri Nasaruddin, suaranya mantap namun teduh.
Wali Kota Munafri Arifuddin—yang karib disapa Appi—tak kuasa menyembunyikan kebanggaan. Baginya, pembangunan gerbang ini adalah buah dari perjalanan panjang inklusivitas kota yang ia pimpin. Ia mengenang masa-masa ketika indeks toleransi Makassar masih tercecer di peringkat ke-49. Kini, kota ini melesat ke sembilan besar kota paling toleran di Indonesia.
Lompatan dari Peringkat 49
Raut Appi berbinar saat menceritakan transformasi tersebut. Di hadapan Menteri Agama, ia menegaskan bahwa capaian ini bukan milik pemerintah semata, melainkan hasil kerja bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh masyarakat, dan warga yang setiap hari merajut harmoni.
“Alhamdulillah, sekarang Kota Makassar berada di peringkat sembilan. Ini hasil kerja bersama seluruh pihak, termasuk FKUB, yang terus membangun komunikasi dan pendekatan di tengah masyarakat,” tutur Appi, disambut anggukan penuh arti dari hadirin.
Bagi seorang Fatimah, warga BTP yang hadir dalam acara itu, gerbang moderasi ini menjanjikan masa depan yang lebih teduh bagi anak-anaknya. “Saya ingin cucu saya nanti tak perlu bertanya lagi kenapa temannya sembahyang di tempat berbeda. Gerbang ini akan jadi pengingat bahwa kami semua satu napas Indonesia,” bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
Harmoni yang Hidup di Lorong-Lorong BTP
Tak sulit menemukan alasan mengapa BTP menjadi rumah pertama Gerbang Moderasi. Di lorong-lorongnya, aroma dupa Vihara Girinaga berpadu dengan alunan azan Masjid Al-Ikhlas. Sementara itu, lonceng Gereja Katolik Santo Paulus dan Gereja Toraja Jemaat BTP berbunyi dalam harmoni yang tak pernah tertulis, tapi selalu terasa. Kawasan ini adalah laboratorium kerukunan yang hidup, tempat keberagaman bukan sekadar jargon, melainkan napas keseharian.
Appi menambahkan, posisi Makassar sebagai gerbang Indonesia Timur membuat indeks toleransi yang tinggi menjadi modal sosial tak ternilai. “Kota kami adalah persimpangan mobilitas ekonomi dan budaya. Jika toleransi goyah, kepungan konflik hanya menunggu waktu,” tegasnya.
Peletakan batu pertama turut disaksikan Rektor UIN Alauddin Makassar Hamdan Juhannis, Kakanwil Kemenag Sulsel Ali Yafid, CEO Founder Kabar Grup Upi Asmaradhana, serta Kepala Kemenag Kota Makassar Muhammad. Kehadiran mereka meneguhkan bahwa moderasi beragama adalah pekerjaan rumah kolektif.
Kini, setelah sekop-sekop itu menancap, warga BTP menatap hari depan dengan harapan baru. Gerbang yang akan berdiri beberapa bulan lagi itu bukan hanya janji pembangunan—ia adalah ikrar bahwa di Makassar, perbedaan selalu menemukan rumah.
Comments (0)