Irjen Pol. Akhmad Wiyagus: Profil dan Kinerja Kapolda Jawa Barat
Irjen Pol. Akhmad Wiyagus: Profil dan Kinerja Kapolda Jawa Barat
Langkahnya terseok di antara lumpur dan puing rumah warga. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan air setinggi lutut orang dewasa di Desa Cibeber, Sukabumi. Di tengah bau anyir tanah basah dan isak tangis anak-anak yang kehilangan rumah, seorang jenderal bintang dua itu justru duduk bersila di atas tikar plastik, mendengarkan keluh-kesah warga korban banjir bandang. Tidak ada sekat, tidak ada podium. Hanya ada suara lirih, sesekali dijawab dengan anggukan tegas: "Kami akan pastikan bantuan sampai malam ini juga." Pemandangan itu bukan kali pertama. Bagi warga Jawa Barat, sosok Irjen Pol. Akhmad Wiyagus adalah potret pemimpin yang tak sungkan berkotor-kotor, menolak jarak antara seragam polisi dan rakyat biasa.
Cerita tentang kedekatan sang kapolda dengan masyarakat bukanlah isapan jempol. Pada suatu kunjungan ke pesantren di Tasikmalaya, ia memilih menginap di asrama santri, berbagi nasi bungkus, dan mengajar ngaji subuh. "Polisi itu bukan menara gading. Kami adalah bagian dari kampung-kampung ini," ujarnya saat itu, di depan para kiai dan santri yang semula kaku, lalu perlahan tersenyum.
Profil Singkat
Lahir di Jakarta pada 21 Maret 1968, Akhmad Wiyagus tumbuh di lingkungan yang keras namun menjunjung tinggi kedisiplinan. Ayahnya seorang pensiunan tentara, ibunya guru sekolah dasar. Darah pendidik dan prajurit mengalir sekaligus dalam nadinya. Setelah menamatkan SMA, ia masuk Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada 1990. Sejak awal, senior-seniornya sudah membaca bakatnya: ia bukan tipe polisi yang hanya berkutat di balik meja, melainkan petarung lapangan dengan naluri tajam membaca situasi sosial.
Wajahnya teduh, tetapi sorot matanya menyimpan ketegasan. Tubuhnya tegap dengan tinggi sekitar 175 sentimeter, didukung suara bariton yang tenang. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimat yang keluar terukur dan sering kali menusuk tepat ke akar masalah. "Kapolda yang satu ini tidak suka basa-basi. Kalau rapat, lima menit pertama langsung tanya: 'Apa masalahnya? Apa solusinya?'," bisik seorang ajudannya.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier Akhmad Wiyagus adalah tangga panjang yang diisi oleh pos-pos strategis di kepolisian. Selepas Akpol, ia menghabiskan tahun-tahun awal di reserse kriminal, mengasah insting investigasi di jalanan Jakarta. Ia pernah menjabat Kapolres di beberapa daerah, termasuk Kapolres Metro Jakarta Selatan pada 2012, di mana ia memimpin pengamanan sejumlah demonstrasi besar tanpa satu pun peluru tajam melukai warga sipil. Prinsipnya: "Peluru terakhir polisi adalah peluru karet, dan itu pun hanya dalam skenario paling buruk."
Puncak kariernya mulai tampak saat ia dipercaya menjadi Wakapolda Metro Jaya pada 2021. Di bawah tekanan ibu kota yang tak pernah tidur, ia menunjukkan kemampuannya mengelola krisis, dari terorisme hingga pengamanan Pilkada. Lalu pada 2023, ia naik pangkat menjadi Kapolda Banten, dan hanya setahun kemudian, ia digeser ke pos yang lebih menantang: Kapolda Jawa Barat, provinsi terpadat dengan 50 juta jiwa dan dinamika sosial-politik yang sangat kompleks.
Pelantikannya sebagai Kapolda Jabar pada Mei 2024 disambut harapan besar. Gubernur saat itu, dalam sambutannya, menyebut Akhmad Wiyagus sebagai "jenderal yang mendengar, bukan sekadar memerintah." Sejak hari pertama, ia langsung memetakan titik rawan: konflik agraria di Subang, peredaran narkoba di Bandung Raya, dan potensi radikalisme di kawasan selatan.
Kinerja dan Program Unggulan
Tidak butuh waktu lama bagi Akhmad Wiyagus untuk menancapkan taring. Program pertamanya yang menyita perhatian publik adalah "Jabar Zero Bullying," sebuah inisiatif kolaboratif dengan Dinas Pendidikan dan komunitas sekolah yang berhasil menekan angka kekerasan di lingkungan pendidikan hingga 40 persen dalam setahun. Ia tidak hanya mengirim polisi ke sekolah sebagai penjaga, tetapi juga melatih guru dan orang tua agar menjadi detektor dini perundungan.
Di bidang penegakan
Comments (0)