Subuh di Bandung masih menyisakan kabut tipis ketika sebuah mobil patroli melaju perlahan di Jalan Diponegoro. Seorang pria berperawakan tegap turun, menyapa petugas yang berjaga. Tanpa pengawalan mencolok, ia menyusuri trotoar, sesekali berhenti untuk berbincang dengan pedagang bubur yang mulai menggelar dagangannya. Pria itu adalah Inspektur Jenderal Polisi Akhmad Wiyagus, orang nomor satu di Kepolisian Daerah Jawa Barat. Bagi warga yang pagi itu berpapasan, ia bukan sekadar jenderal dengan tiga bintang di pundak. Ia adalah sosok yang memilih mendengar sebelum memberi perintah. "Polisi itu bukan menara gading," katanya lirih, suatu kali. "Kami ada di tengah rakyat, bagian dari detak keseharian mereka."
Profil Singkat
Lahir di Sukabumi, 22 Agustus 1969, Akhmad Wiyagus adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1992. Jawa Barat bukanlah tanah asing baginya — provinsi ini telah menjadi saksi dari sebagian besar masa pengabdiannya, mulai dari perwira pertama hingga kini memegang tampuk komando tertinggi. Sebelum menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat per Desember 2024, ia mengemban amanah sebagai Kepala Kepolisian Daerah Banten. Di sana, namanya mulai dikenal luas berkat pendekatan khas yang mengedepankan komunikasi sosial dan pembinaan masyarakat ketimbang sekadar penegakan hukum represif.
Jejak pendidikannya mencerminkan seorang pembelajar sejati. Selain mengenyam pendidikan kepolisian di dalam negeri, ia juga tercatat sebagai alumnus Sespimen Polri dan Sespimti Polri. Tak berhenti di situ, gelar magister ia raih dari Universitas Padjadjaran. Kombinasi antara pengalaman lapangan yang kaya dan landasan akademik yang kokoh membentuk karakter kepemimpinannya: analitis, namun tetap membumi.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier Akhmad Wiyagus terbangun perlahan, bukan dari lompatan instan, melainkan dari akumulasi penugasan yang beragam. Ia pernah menjabat sebagai Kasatreskrim Polrestabes Bandung, posisi yang menggodok insting investigasinya. Dari sana, ia bergeser ke ranah manajerial sebagai Kapolres Garut, lalu Kapolrestabes Bandung — jabatan yang memberinya pemahaman mendalam tentang kompleksitas perkotaan di salah satu kota terbesar di Indonesia.
Jalur kariernya terus menanjak. Ia dipercaya sebagai Wakapolda Jawa Barat, tempat ia belajar mengelola organisasi besar. Setelah itu, ia menjabat sebagai Karodalpers SSDM Polri di Mabes Polri, menyelami sisi pembinaan personel. Puncaknya, pada 2019, ia dilantik menjadi Kapolda Banten. Lima tahun memimpin Banten memberinya panggung untuk menguji berbagai inovasi, termasuk program "Sajadah Polisi" yang menyentuh akar rumput dan menuai apresiasi luas. Kini, sejak akhir 2024, ia kembali ke "rumah lamanya" — Jawa Barat — dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Kinerja dan Program Unggulan
Memimpin Polda Jawa Barat bukanlah tugas ringan. Dengan populasi mendekati 50 juta jiwa dan kompleksitas sosial yang tinggi, provinsi ini menyimpan segudang pekerjaan rumah. Salah satu langkah awal Akhmad Wiyagus yang paling diingat adalah pernyataan tegasnya: "Tidak ada tempat bagi anggota yang arogan." Ia merombak pola pembinaan internal, menekankan bahwa setiap personel harus menjadi pelindung, pelayan, sekaligus teladan.
Program "Sajadah Polisi" yang digagasnya di Banten ia bawa ke Jawa Barat dengan penyesuaian. Konsepnya sederhana namun mendalam: anggota kepolisian turun langsung ke komunitas, mendengarkan keluhan, dan membangun ikatan personal. Di pelosok Tasikmalaya, polisi bertandang ke pengajian ibu-ibu, mendiskusikan keamanan lingkungan sambil duduk lesehan. Di Indramayu, Bhabinkamtibmas membantu petani menyelesaikan konflik lahan tanpa harus ke kantor polisi.
Di bawah komandonya, Polda Jawa Barat juga menggencarkan patroli siber untuk menekan angka judi online dan pinjaman ilegal yang memakan korban di kalangan masyarakat kecil. Statistik menunjukkan penurunan angka kejahatan jalanan di Bandung Raya sepanjang kuartal pertama 2025. Namun, di balik angka-angka itu, Akhmad Wiyagus lebih sering berbicara tentang "rasa aman" sebagai indikator keberhasilan. "Angka bisa merekayasa. Tapi ketenangan seorang ibu menunggu anaknya pulang malam — itu yang tak bisa dimanipulasi," ujarnya dalam sebuah forum diskusi di awal 2026.
Tantangan dan Harapan
Rentetan bencana alam yang melanda Jawa Barat di penghujung 2025 menjadi ujian besar. Longsor di Sumedang dan banjir bandang di Garut menguji kecekatan institusi yang dipimpinnya. Akhmad Wiyagus memilih turun langsung, membantu evakuasi dan memastikan logistik tersalurkan. Dalam salah satu video amatir yang viral, ia terlihat menggandeng tangan seorang lansia menuju tenda pengungsian, seragam polisinya berlumpur. Bagi publik, momen-momen semacam itu seringkali berbicara lebih lantang daripada siaran pers.
"Lelah itu manusiawi. Tapi menjadi polisi artinya kita memilih untuk mengalahkan lelah demi yang tak mampu berdiri sendiri."
Kalimat itu ia ucapkan di hadapan ratusan personel yang kelelahan pasca-operasi kemanusiaan. Kini, ia menghadapi tantangan yang tak kalah pelik: menjaga kondusivitas Jawa Barat menjelang perhelatan politik 2026 yang mulai menghangat. Potensi polarisasi dan gesekan horizontal membutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjadi penyejuk, dan banyak pihak menaruh harapan besar pada pundaknya.
Di sela-sela jeda wawancara di ruang kerjanya yang tak terlalu luas, Akhmad Wiyagus memandangi foto lawas Akpol 1992 yang tergantung di dinding. "Dulu kami bermimpi jadi pahlawan," katanya, setengah berbisik. "Ternyata, jadi polisi itu lebih sederhana dari mimpi itu. Cukup hadir, cukup peduli, cukup adil."
Di luar jendela, lalu lintas Bandung mulai riuh. Sang jenderal kembali menatap layar gawainya, membaca laporan warga dari aplikasi SuperApp Polri. Hari masih panjang, dan pekerjaan rumah Jawa Barat masih menumpuk. Namun, bagi Akhmad Wiyagus, setiap laporan adalah cerita, dan setiap cerita adalah alasan mengapa ia
Comments (0)