Aug 25, 2026
Politik

Irjen Pol. Suwondo Nainggolan: Profil dan Kinerja Kapolda DI Yogyakarta

Irjen Pol. Suwondo Nainggolan: Profil dan Kinerja Kapolda DI Yogyakarta

Irjen Pol. Suwondo Nainggolan: Profil dan Kinerja Kapolda DI Yogyakarta

Pagi itu di sudut Malioboro, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik lengan panjang berdiri di depan gerobak angkringan. Tak banyak yang mengenalinya. Ia bukan turis, bukan pula pedagang. Tapi ketika seorang mahasiswa yang tengah menyeruput kopi dari gelas plastik menoleh, ia langsung tegak. "Loh, Pak Kapolda?" Suwondo Nainggolan hanya tersenyum, lalu duduk di samping mahasiswa itu dan bertanya, "Kuliah jurusan apa? Kost-nya di mana?" Percakapan sederhana itu mungkin tampak sepele, tapi di sanalah letak karakter kepemimpinan seorang jenderal bintang dua yang kini memimpin Polda DI Yogyakarta. Baginya, mendengar langsung denyut kehidupan masyarakat bukan sekadar seremoni jabatan — ia adalah metode.

Profil Singkat

Inspektur Jenderal Polisi Suwondo Nainggolan bukanlah nama asing di korps bhayangkara. Lahir dari keluarga Batak yang teguh memegang nilai kerja keras, Suwondo membawa darah Sumatera Utara ke dataran rendah Yogya yang penuh tata krama. Lulusan terbaik Akademi Kepolisian tahun 1991 ini memiliki wajah yang teduh namun menyimpan ketajaman naluri penyelidik yang terasah sejak ia bertugas di Satuan Reserse Kriminal. Perawakannya yang tenang seringkali mengecoh lawan bicaranya, namun di balik kacamata itu tersimpan rekam jejak seorang perwira yang menghabiskan puluhan tahun memburu pelaku kejahatan transnasional, korupsi, hingga narkotika.

Sejak dilantik sebagai Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta pada penghujung tahun 2024, Suwondo langsung dihadapkan pada ekspektasi tinggi masyarakat Yogya yang mendambakan polisi humanis sekaligus tegas. Di usianya yang kini menginjak pertengahan lima puluhan, ia membawa serta pengalaman panjang yang tak hanya berisi tinta emas operasi kepolisian, tapi juga kebijaksanaan seorang pemimpin yang paham bahwa keamanan adalah seni merawat rasa.

Karier dan Riwayat Jabatan

Perjalanan karier Suwondo Nainggolan adalah potret seorang polisi "lapangan sejati". Memulai karier sebagai Perwira Pertama di Polda Sumatera Utara, ia tumbuh dalam atmosfer reserse. Namanya mulai mencuat ketika bertugas di Bareskrim Polri, di mana ia terlibat dalam pengungkapan beberapa kasus besar yang melibatkan jaringan internasional. Puncaknya, Suwondo dipercaya menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Narkoba di Bareskrim, sebuah posisi yang membuatnya akrab dengan kompleksitas peredaran gelap narkotika di era digital.

Sebelum akhirnya mendapat bintang dua dan ditugaskan ke Yogyakarta, Suwondo sempat menempati posisi strategis sebagai Wakapolda Jawa Tengah. Di sana ia belajar banyak tentang dinamika masyarakat Jawa yang mengedepankan keharmonisan. Pengalaman ini membentuk gaya komunikasinya yang luwes — tegas dalam prinsip, tapi lentur dalam pendekatan. Jabatan demi jabatan yang ia emban menunjukkan pola yang konsisten: ia bukan tipe pemimpin yang hanya duduk di belakang meja. Hampir di setiap posnya, Suwondo dikenal sering turun langsung ke TKP, memimpin penggerebekan, sekaligus duduk lesehan dengan warga.

Kinerja dan Program Unggulan

Memimpin Polda DIY, Suwondo langsung merevolusi konsep keamanan di kota pelajar ini. Ia mencetuskan program "Jogja Berhati Nyaman", sebuah inisiatif yang memadukan teknologi command center modern dengan sambang warga berbasis komunitas. Program ini banyak dipuji karena tak menjadikan polisi semata-mata sebagai aparat penegak hukum, melainkan sebagai bagian dari ekosistem warga. CCTV terintegrasi di titik keramaian dipadukan dengan patroli dialogis yang menghidupkan kembali peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak deteksi dini konflik sosial.

Di era 2025 ini, rekam jejak Polda DIY di bawah komandonya cukup bersih dari sorotan negatif. Angka kejahatan jalanan yang biasanya mengiringi geliat pariwisata Malioboro berhasil ditekan melalui strategi preventif yang rapi. Media dan aktivis hak asasi manusia memberikan kredit khusus pada pendekatan Suwondo dalam menangani demonstrasi mahasiswa. Alih-alih bentrokan, negosiasi menjadi ritual wajib sebelum aksi massa berlangsung. "Mahasiswa itu anak-anak kita," ujarnya suatu kali, membuat para demonstran justru segan untuk bertindak anarkis.

Tak hanya itu, Suwondo juga menyulap gedung-gedung pelayanan publik di satuan wilayah menjadi ruang yang lebih inklusif. Layanan pembuatan SKCK dan SIM dipermudah secara daring, mengurangi praktik percaloan yang selama ini menjadi keluhan klasik masyarakat. Dedikasinya dalam transparansi internal juga patut dicatat: ia tak segan mencopot anak buah yang ketahuan bermain-main dengan laporan masyarakat.

Tantangan dan Harapan

Namun, langit Yogyakarta tidak selalu cerah. Ancaman laten radikalisme dan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Suwondo paham, DIY yang menjadi miniatur Indonesia dengan jutaan mahasiswanya adalah lahan basah bagi ideologi transnasional. Di sinilah ia mengerahkan seluruh kemampuan intelijen dan sosiologisnya, merangkul para rektor, tokoh agama, hingga seniman untuk membangun benteng kebangsaan.

Kini, menjelang purnabakti yang masih menyisakan waktu, Suwondo Nainggolan tak banyak beretorika. Baginya, keamanan Yogyakarta yang guyub adalah tentang menjaga Yogyakarta tetap menjadi rumah yang hangat — tempat turis merasa aman, seniman bebas berekspresi, dan penjual angkringan bisa tersenyum tanpa rasa was-was. Seperti pagi itu di Malioboro, di mana ia memilih duduk bukan di podium tinggi, melainkan di kursi plastik sederhana, menyamakan tinggi mata dengan rakyatnya. Di situlah letak seluruh strateginya: hadir, mendengar, dan melindungi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User