Pagi itu, udara Maumere masih tipis dan dingin. Di sebuah balai desa sederhana, seorang laki-laki berperawakan tegap melepas sepatu dinasnya. Ia duduk bersila di antara para tetua adat, mendengarkan dengan saksama kisah tentang sengketa tanah yang telah merenggut nyawa dua warga. Tidak ada sekat meja, tidak ada podium. Hanya ada daun sirih dan pinang yang diangsurkan, diterima dengan tangan terbuka, dikunyah perlahan. Laki-laki itu adalah Inspektur Jenderal Polisi Daniel Tahi Monang Silitonga. Bagi masyarakat Sikka, ia bukan sekadar Kapolda Nusa Tenggara Timur. Hari itu, ia adalah saudara yang pulang membawa pesan damai.
Pemandangan seperti itu bukanlah penggalan drama yang direkayasa. Sejak dilantik pada Maret 2025, Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga memang memilih untuk membumikan pendekatan kepolisian yang melampaui seremonial. Baginya, seragam khaki dengan bintang dua di pundak bukanlah tembok pemisah, melainkan tiket untuk masuk ke bilik-bilik bambu terdalam di pelosok Flobamora.
Jejak Panjang Sang Negosiator Andal
Nama Daniel Silitonga bukanlah nama asing di koridor Markas Besar Polri. Sebelum menghirup udara NTT, perwira kelahiran Sumatera Utara ini telah ditempa oleh berbagai penugasan strategis yang mengasah insting lapangannya. Kariernya diwarnai oleh dinamika keamanan di beberapa titik rawan konflik di Indonesia. Ia adalah tipikal perwira "medan", yang jauh lebih fasih membaca peta sosial masyarakat dibandingkan sekadar menandatangani berkas di balik meja.
Salah satu babak penting dalam riwayat jabatannya adalah ketika ia menjabat sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Kamneg dan Konflik (Sespim Lemdiklat Polri) serta pengalaman panjangnya di jajaran Baintelkam. Di posisi itu, ketajaman intelijen tidak ia maknai secara konvensional sebagai alat mencari kesalahan, melainkan sebagai radar untuk mendeteksi potensi kerawanan dan mendamaikannya sebelum meledak. Banyak pihak mencatat, Daniel memiliki kemampuan langka: menerjemahkan bahasa hukum yang kaku menjadi bahasa kultural yang luwes.
Riwayat penugasannya yang melanglang dari Tanah Karo, Jakarta, hingga kini ke ujung selatan Indonesia, membentuk karakter kepemimpinannya yang unik: tegas tanpa kehilangan empati, hierarkis namun tetap rendah hati. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tidak alergi terhadap kritik dan gemar berdiskusi dengan siapa saja—dari akademisi, aktivis, hingga pastor dan pendeta di gereja-gereja tua di Larantuka.
Melampaui Penegakan Hukum: Merajut Kembali Tenun yang Robek
Kinerja Irjen Daniel di NTT tidak bisa diukur semata dari statistik penurunan kriminalitas, meski angka kejahatan konvensional memang menunjukkan tren penurunan sepanjang semester pertama 2026. Pendekatan yang ia usung lebih dalam dari itu. Ia mewarisi "pekerjaan rumah" klasik NTT: kemiskinan struktural, rentannya perdagangan orang (TPPO), serta potensi konflik horizontal berbasis identitas dan sumber daya alam.
"Kita tidak bisa memerangi kejahatan hanya dengan pistol dan borgol. Kejahatan tumbuh subur di tanah yang gersang oleh harapan. Tugas kami adalah menyirami tanah itu," begitu ucapnya dalam sebuah sesi tatap muka dengan mahasiswa di Kupang, awal tahun ini.
Program unggulan yang ia canangkan bukanlah gebrakan sensasional. Ia menyebutnya "Polisi Hadir", sebuah konsep yang terdengar sederhana tetapi berimplikasi luas. Di era kepemimpinannya, setiap Bhabinkamtibmas tidak hanya dituntut mendata penduduk, tetapi wajib melek terhadap potensi desanya: apakah ada ancaman tengkulak ilegal, kerawanan pangan, atau anak putus sekolah yang rawan menjadi korban jaringan TPPO.
Pada pertengahan 2025, di bawah komandonya, Polda NTT berhasil mengungkap jaringan perdagangan manusia yang melibatkan calon pekerja migran ke beberapa negara. Lebih dari sekadar menangkap pelaku, Daniel menginstruksikan jajarannya untuk fokus pada pemulihan korban. Polisi bekerja sama dengan psikolog dan Dinas Sosial untuk memastikan para penyintas—yang sebagian besar adalah perempuan muda dari pedalaman Timor—tidak kembali jatuh ke lubang yang sama. Langkah ini menuai apresiasi karena menempatkan korban sebagai pusat, bukan sekadar objek statistik.
Di sektor pengamanan perbatasan, ia memperkuat sinergi dengan TNI. Baginya, tapal batas negara di Pulau Timor dan Rote bukan hanya garis demarkasi politik, melainkan garis depan kedaulatan dan harga diri bangsa. Patroli perbatasan tidak lagi dilakukan secara monoton, melainkan dibalut dengan kegiatan sosial seperti pengobatan gratis, yang perlahan menghilangkan kesan militeristik dan membangun kepercayaan warga perbatasan.
Harapan di Atas Karang yang Keras
Memimpin NTT tidak seperti memimpin metropolitan. Medannya ekstrem, dari gugusan pulau kecil hingga tebing-tebing karang yang kering. Tantangan infrastruktur adalah kenyataan sehari-hari. Irjen Daniel menyadari, kehadirannya yang hanya hitungan tahun mungkin belum cukup untuk menyelesaikan seluruh luka lama di bumi Cendana ini. Namun, ia percaya pada fondasi.
Warisan terbesar yang ingin ia tinggalkan bukanlah bangunan megah atau sekadar jumlah tersangka yang ditangkap. Ia ingin mewariskan sebuah budaya polisi yang memanusiakan manusia. Sebuah institusi yang ketika dilihat oleh warga terpencil di puncak bukit, tidak membuat mereka lari ketakutan, melainkan merasa aman dan terlindungi.
Di akhir percak
Comments (0)