Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga: Profil dan Kinerja Kapolda Nusa Tenggara Timur
Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga: Profil dan Kinerja Kapolda Nusa Tenggara Timur
Di beranda Mapolda Nusa Tenggara Timur, pagi itu angin laut Kupang menyapu pelan dedaunan pohon flamboyan yang berjajar rapi. Seorang lelaki berbadan tegap dengan rambut putih bersih melangkah masuk, memberikan hormat kepada petugas jaga sebelum menyapa seorang ibu yang menggendong anaknya di ruang tunggu pelayanan publik. "Anaknya sakit, Bu?" tanyanya lembut. Lelaki itu tidak lain adalah Inspektur Jenderal Polisi Daniel Tahi Monang Silitonga, Kapolda NTT yang baru menginjak bulan keempat masa jabatannya. Momen kecil pagi itu bukanlah pertunjukan. Bagi para ajudannya, pemandangan seperti itu sudah biasa: seorang jenderal bintang dua yang lebih suka turun ke lapangan daripada mengurung diri di balik meja besar.
Lelaki kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, pada 24 Februari 1970 ini membawa angin kepemimpinan yang berbeda di jajaran kepolisian. Sebagai lulusan Akademi Kepolisian tahun 1992, Irjen Daniel telah menapaki lebih dari tiga dekade pengabdian dengan sejumlah jabatan kunci di tubuh Polri. Namanya mulai menjadi perbincangan ketika ia didapuk sebagai Kepala Biro Pengamanan Internal (Karopaminal) Divisi Propam Polri pada 2023 silam—posisi yang menuntut ketegasan tanpa kompromi. Di bawah kendalinya, sejumlah oknum polisi yang menyimpang dari kode etik harus merasakan dinginnya sel khusus. Publik mulai mengenalnya sebagai perwira tinggi yang bersih dan berani menindak anak buahnya sendiri tanpa pandang bulu.
Namun, perjalanan karier putra Batak ini tak melulu di pusaran pusat. Sebelum memimpin NTT, Daniel pernah menjabat sebagai Wakapolda Papua Barat. Di tanah Papua yang kerap bergejolak itulah ia mengasah naluri diplomatiknya: merangkul tokoh adat, berbicara dengan kepala dingin, dan merumuskan pendekatan kultural yang kemudian menjadi bekal berharga saat ia dilantik sebagai Kapolda Nusa Tenggara Timur pada 5 April 2025.
Profil Singkat
Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga bukanlah figur yang gemar tampil di panggung media. Ia lebih banyak "bersuara" melalui keputusan-keputusan tegas dan program konkret di lapangan. Rekam jejak pendidikannya cukup gemilang: selepas Akpol 1992, ia melanjutkan ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri, yang membentuknya sebagai pemikir strategis sekaligus eksekutor ulung. Di luar ruang rapat, ia adalah seorang penggemar sejarah kemiliteran dan pencinta sastra Batak klasik—warisan leluhur yang ia yakini mengajarkan nilai hamoraon, hagabeon, hasangapon (kekayaan, keturunan, kehormatan) yang ia terjemahkan dalam kode etik pelayanan publik.
Menikah dengan seorang perempuan asal Medan, Hetty Panjaitan, pasangan ini dikaruniai tiga orang anak yang kini beranjak dewasa. Dalam beberapa kesempatan langka, Daniel menyebut bahwa dukungan keluarga menjadi jangkar moral yang menjaganya tetap lurus di pusaran politik dan tekanan jabatan. "Rumah harus selalu jadi tempat pulang yang jujur," katanya suatu kali, mengutip pesan mendiang ayahnya yang seorang pendeta sederhana di Humbang Hasundutan.
Karier dan Riwayat Jabatan
Menelusuri lembar karier Irjen Daniel sama dengan membaca sejarah modern Polri pasca-reformasi. Setelah mengawali karier sebagai perwira pertama di Satuan Brimob, ia memasuki dunia reserse dan pelan-pelan merangkak naik. Jabatan strategis pertama yang mengasah insting penyidiknya adalah sebagai Kasubdit III Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Utara. Namun, bakat sesungguhnya terlihat ketika ia dipercaya menjadi Kapolrestabes Medan pada 2011, memimpin langsung pengungkapan jaringan narkotika lintas provinsi yang kala itu menggemparkan.
Dari Sumatera, orbitnya beralih ke Jakarta. Sebagai Wadirkrimum Polda Metro Jaya (2015) dan kemudian menjadi Dirreskrimum
Comments (0)