Jeritan “Siti Fatimah” dan Jenderal yang Mendengar
Langit Medan tidak selalu cerah. Di gang-gang sempit di Medan Timur, di sudut-sudut pasar tradisional yang riuh, hingga ke perkampungan nelayan di pesisir
Langit Medan tidak selalu cerah. Di gang-gang sempit di Medan Timur, di sudut-sudut pasar tradisional yang riuh, hingga ke perkampungan nelayan di pesisir Belawan, ada satu benang merah yang mengikat keresahan warga Sumatra Utara: narkoba. Ia menyusup seperti air ke celah-celah terkecil. Merenggut anak-anak muda, membunuh masa depan, dan meninggalkan luka yang seringkali tak bersuara.
Namun, di tengah kecemasan itulah sosok Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto hadir bukan sebagai nama di plakat jabatan, melainkan sebagai pendengar yang telaten. Seorang ibu rumah tangga di kawasan Marelan, sebut saja Rukiah (47), berkata dengan mata berkaca-kaca,
“Kami capek, Pak. Setiap malam ada saja kabar anak tetangga ditangkap, atau malah ditemukan tak bernyawa. Suami saya bilang, kita sudah tidak bisa lagi tidur nyenyak. Ternyata, ada yang mendengar jeritan kami.”
Rukiah adalah satu dari jutaan warga Sumut yang beberapa bulan lalu menggumamkan lagu parodi “Siti Fatimah” yang viral di media sosial. Liriknya yang memelas kepada Tuhan untuk menghabisi para bandar sabu bukanlah hiburan, melainkan sebuah doa putus asa yang disuarakan dengan getir. Ironi yang menyayat: di negeri yang konon kaya, warganya menyanyi untuk meminta pertolongan dari langit.
Dua Bintang yang Menyala di Tengah Badai Mutasi
Whisnu Hermawan bukanlah wajah baru di dunia reserse. Sebagai mantan Dirtipideksus Bareskrim Polri, ia dibesarkan oleh naluri penyelidikan yang tajam. Kini, dengan dua bintang di pundak, ia memimpin salah satu wilayah dengan tantangan kriminalitas paling kompleks di Indonesia. Saat kursi Kapolda di berbagai daerah silih berganti diduduki wajah-wajah baru, Whisnu bertahan. Bukan karena kebetulan.
Seorang pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara, Faisal Nasution, menilai bahwa kekuatan Whisnu terletak pada kemampuannya membaca gejala sosial.
“Beliau ini tipe pemimpin yang tidak hanya menunggu laporan di meja. Saya lihat sendiri bagaimana ia turun ke lapangan, mendengarkan petani yang lahannya jadi ajang transaksi narkoba, atau berdialog dengan tokoh pemuda yang resah. Itu bukan pencitraan. Itu naluri seorang serse yang sudah matang,”tutur Faisal.
Apa yang dilakukan Whisnu setelah “jeritan Siti Fatimah” menggema adalah jawaban yang ditunggu-tunggu. Ia menggelar operasi besar-besaran secara serentak di sepuluh daerah. Serbuan itu dilakukan dengan presisi. Bukan sekadar tangkap dan pamerkan barang bukti, tetapi benar-benar menyasar jaringan bandar besar yang telah lama menjadi momok. Seorang mantan pecandu yang kini menjadi relawan rehabilitasi, Dani (28), mengaku merasakan langsung dampaknya.
“Biasanya saya tahu mana kampung yang rawan. Tiba-tiba, sepi. Pemasoknya hilang. Saya sampai berpikir, akhirnya polisi benar-benar menggigit. Bukan cuma menggonggong. Dan saya rasa itu karena pimpinannya tahu persis di mana harus menggigit,”katanya.
Keamanan Bukan Hanya Soal Statistik
Di bawah kendali Whisnu, keamanan di Sumut tidak lagi diukur dari sekadar grafik penurunan angka kriminalitas. Ia menyentuh aspek yang lebih elementer: perasaan aman warga. Di kota-kota satelit seperti Binjai, Lubuk Pakam, hingga ke dataran tinggi Simalungun, kehadiran polisi dirasakan lebih membumi. Warung-warung kopi yang dulu menjadi pangkalan transaksi gelap kini kembali menjadi ruang diskusi pemuda tentang masa depan, bukan tentang cara mendapatkan barang haram.
Namun, jalan ini belum usai. Whisnu sendiri, dalam sebuah kesempatan, pernah berujar bahwa perang melawan narkoba adalah perang melawan diri sendiri. Ia sadar, selama kemiskinan dan ketimpangan sosial masih menjadi luka, akan selalu ada celah bagi kejahatan untuk tumbuh. Tapi setidaknya, di bawah langit Sumut yang sering kelam oleh kabut kejahatan, dua bintang di pundaknya terus menyala, menjadi semacam janji bahwa harapan itu belum benar-benar padam.
Malam itu, Rukiah menyudahi ceritanya dengan secangkir teh yang sudah dingin. Di teras rumahnya yang sempit, ia untuk pertama kalinya dalam setahun bisa duduk santai tanpa was-was. “Saya sadar tak ada yang instan. Tapi setidaknya, kami merasa tidak sendiri lagi.”
Comments (0)