Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Pematangsiantar — Pria Mabuk Lempari Rumah, Polisi Respons Laporan Call Center 110

Malam di Kelurahan Parhorasan Nauli, Kecamatan Siantar Marihat, biasanya lelap dalam sunyi. Namun Selasa (7/7) malam itu, bunyi batu yang menghantam atap d

Jul 09, 2026 - 06:38
0 0

Malam di Kelurahan Parhorasan Nauli, Kecamatan Siantar Marihat, biasanya lelap dalam sunyi. Namun Selasa (7/7) malam itu, bunyi batu yang menghantam atap dan dinding rumah HS memecah ketenangan. Lemparan-lemparan itu datang bertubi-tubi, membuat penghuni rumah dan warga sekitar berang. Bukannya tersulut amarah yang meledak-ledak, HS justru memilih langkah tenang: ia meraih ponsel dan menekan nomor darurat Call Center 110 Polres Pematangsiantar.

Di balik laporan singkat itu tersimpan keresahan yang sudah tak tertahankan. “Saya tidak kenal orang itu, tahu-tahu rumah saya dilempari. Suara pecahan genting itu bikin anak-anak ketakutan,” kenang HS, suaranya masih menyisakan guncangan yang sulit disembunyikan.

Respons Kilat di Ujung Telepon

Laporan HS diterima operator Call Center 110 yang langsung meneruskannya ke personel piket Polsek Siantar Marihat. Tak butuh waktu lama, petugas tiba di lokasi. Di tengah lelahnya malam, langkah sigap itu terasa seperti angin segar bagi warga yang mulai berkumpul di depan rumah HS. “Saya tak menyangka polisi bisa datang secepat itu. Biasanya laporan seperti ini dianggap sepele, tapi malam itu berbeda,” ujar HS dengan nada haru.

Di tempat kejadian, personel mendapati seorang pria yang belakangan diketahui berinisial JS dalam kondisi mabuk. Tangannya masih berkeringat, tapi pandangannya mulai meredup ketika dihadapkan pada seragam cokelat polisi dan wajah-wajah warga yang kecewa.

Maaf di Tengah Malam: Ketegangan Mencair

Saat diinterogasi ringan di lokasi, JS menunduk. Suaranya parau, bukan hanya karena alkohol, tapi karena rasa bersalah yang tumpah. “Saya khilaf, Pak. Saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya tidak akan mengulangi lagi,” katanya lirih. Permohonan maaf itu tidak disambut dengan cacian. Sebaliknya, Ketua RT setempat dan warga memilih mengedepankan musyawarah kecil di bawah sorot lampu jalan.

“Kami melihat JS benar-benar menyesal. Apalagi tidak ada korban materil maupun luka. Tapi kami tidak mau kecolongan. Kami beri toleransi dengan catatan, kalau kejadian seperti ini terulang lagi, kami akan bawa dia ke jalur hukum,” ujar Ketua RT yang memimpin kesepakatan malam itu.

Warga menerima permohonan maaf JS, mencatatnya sebagai ikrar yang disaksikan banyak orang. Kelegaan tampak di wajah-wajah yang sebelumnya tegang. Tak ada batu lagi yang melayang malam itu, hanya jabat tangan yang menutup peristiwa dengan damai.

Gema Call Center 110: Ketika Laporan Menjadi Penolong

Kapolres Pematangsiantar AKBP Sah Udur Togi Marito Sitinjak, melalui Kasi Humas Iptu Agustina Triyadewi, menegaskan bahwa peristiwa ini adalah bukti nyata fungsi Call Center 110 sebagai jembatan cepat antara warga dan kepolisian. “Layanan ini kami siagakan 24 jam. Begitu laporan masuk, operator langsung mendisposisikan ke unit terdekat. Respons seperti inilah yang terus kami dorong,” jelasnya.

Bagi warga Parhorasan Nauli, kepingan malam yang sempat pecah itu kini menjadi cerita tentang bagaimana suara telepon mampu meredam amarah, dan ketenangan memilih kata maaf melahirkan penyelesaian yang manusiawi. Di sudut jalan yang kembali sepi, tersimpan janji: bahwa hukum bisa ditegakkan, tapi adakalanya ia diawali dengan laporan tenang dan sebuah pengampunan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User