DPRD Jabar Beri Lampu Hijau Pembahasan Nama Sunda
Di ruang rapat yang sunyi di Gedung DPRD Jawa Barat, selembar dokumen kajian bergeser dari tangan ke tangan. Tatapan para wakil rakyat tak lagi berkutat pa
Di ruang rapat yang sunyi di Gedung DPRD Jawa Barat, selembar dokumen kajian bergeser dari tangan ke tangan. Tatapan para wakil rakyat tak lagi berkutat pada angka atau proyek infrastruktur. Kali ini, yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang lebih tua dari gedung itu sendiri: sebuah nama. Saat seluruh fraksi memberikan isyarat setuju untuk membawa wacana penggantian nama provinsi ke tingkat legislasi, seorang anggota dewan bergumam lirih, "Ini bukan sekadar administrasi. Ini tentang pulang."
Wacana untuk mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda atau Sunda memang bukan kali pertama mencuat. Namun kali ini ia datang dengan bobot yang berbeda: seluruh fraksi di DPRD Jawa Barat telah memberi sinyal "lampu hijau" untuk pembahasan lebih lanjut. Bagi sebagian orang, ini sekadar penyesuaian papan nama. Bagi yang lain, ini adalah undangan untuk menggali kembali akar yang tertimbun oleh abad-abad penamaan yang serba teknis.
Nama yang Hilang, Kenangan yang Terkubur
Di sudut kota Bandung, seorang pemilik warung kopi bernama Asep (67) menuangkan kopi hitam pekat ke dalam cangkir enamel yang sudah lusuh. Tangannya sedikit bergetar ketika ditanya tentang usulan nama Sunda. "Bapa saya dulu selalu bilang, kita bukan orang Jawa Barat. Kita urang Sunda," katanya, matanya menerawang ke lukisan Gunung Tangkuban Perahu yang sudah menguning di dinding warungnya. "Kalau sekarang daerah saya disebut Jawa Barat, ada perasaan aneh. Seperti numpang di rumah sendiri."
Perasaan Asep bukan sekadar sentimentalisme tua. Ia mewakili sekelompok masyarakat yang merasa bahwa penamaan berdasarkan arah mata angin tak pernah benar-benar mewakili denyut kehidupan mereka. Provinsi ini memang berada di barat Pulau Jawa. Tapi seperti yang diingatkan oleh Guru Besar Universitas Padjadjaran, Ganjar Kurnia, ada wilayah yang lebih barat lagi: Banten. Nama "Jawa Barat", menurutnya, hanya menjadi penanda administratif yang hampa dari cerita.
"Nama Jawa Barat itu hanya menunjukkan lokasi di peta. Tapi Sunda? Sunda itu ruang hidup. Ia menyimpan lapisan-lapisan kebumian, sejarah, bahasa, dan ingatan kolektif yang telah diukir sejak zaman es," ujar Ganjar, yang tergabung dalam tim pengkaji Provinsi Sunda atau Tatar Sunda.
Dari Paparan Sunda ke Nama Provinsi
Ganjar menjelaskan, akar kata Sunda bukan sekadar milik suku atau budaya tertentu. Jauh sebelum Kerajaan Tarumanagara berdiri, sebelum aksara Pallawa ditorehkan di prasasti, konsep Sunda sudah ada dalam bentuk yang lebih purba: Paparan Sunda atau Sundaland. Ini adalah kawasan landas kontinen Asia Tenggara yang dulu menyatukan Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan jazirah Melayu sebagai satu daratan raksasa. Setelah zaman es berakhir, permukaan laut naik, dan daratan itu tenggelam, membentuk kepulauan yang kita kenal hari ini.
"Jadi ketika kita berbicara tentang Sunda, kita tidak sedang membicarakan etnosentrisme sempit," tegas Ganjar. "Kita bicara tentang ruang kebumian yang usianya jauh melampaui usia peradaban manusia di Nusantara. Nama itu menyatu dengan tanahnya, bukan hanya dengan sukunya." Fakta ini pula yang membedakan istilah Sunda dari sekadar label suku. Ia adalah penanda geologis, ruang hidup yang utuh. Dan itulah mengapa, baginya, menyematkan kembali nama Sunda pada provinsi ini adalah bentuk pengakuan atas warisan bumi yang sering terlupakan.
Suara dari Akar Rumput
Di pelosok Ciamis, seorang guru SD bernama Yayu (42) tengah mengajar murid-muridnya tentang peta provinsi. Ketika ia menunjuk kata "Jawa Barat", seorang murid bertanya, "Bu, kenapa namanya Jawa Barat? Memangnya ada Jawa Timur?" Pertanyaan polos itu membuat Yayu tertegun. "Saya sadar, anak-anak kita tumbuh dengan istilah yang tidak mereka pahami secara emosional. Mereka tahu bentuk geografisnya, tapi tidak merasakan roh tempat tinggalnya," ujarnya.
Yayu kemudian mengisahkan bagaimana kakeknya dulu menyebut kampung halaman mereka sebagai "tatar Sunda" dengan kebanggaan yang tak disembunyikan. "Nada suaranya berbeda. Ada kehangatan di situ. Ada rasa memiliki." Bagi Yayu, usulan perubahan nama ini adalah kesempatan untuk mengembalikan kebanggaan yang mulai pudar itu.
Sementara itu, Ganjar mengakui bahwa proses legislasi masih panjang. "Yang jelas, sinyal dari DPRD ini adalah langkah awal yang penting. Ini membuktikan bahwa kami tidak sedang berjalan sendiri."
Di warung kopinya, Asep menyeruput kopi yang sudah agak dingin. Matanya masih menatap gunung di lukisan itu. "Kalau nanti nama ini benar-benar berubah," katanya pelan, "mungkin bapa saya di alam sana bisa tersenyum. Akhirnya, kami resmi tinggal di tanah sendiri."
Comments (0)