Irjen Pol. Rusdi Hartono: Profil dan Kinerja Kapolda Jambi
Irjen Pol. Rusdi Hartono: Profil dan Kinerja Kapolda Jambi
Pagi itu, halaman Mapolda Jambi masih basah oleh embun. Sekelompok petani dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat duduk gelisah di teras, memegang erat berkas laporan yang sudah lusuh diperjalanankan. Mereka datang bukan untuk berdemonstrasi, melainkan diundang. Beberapa menit kemudian, seorang pria berbadan tegap dengan senyum teduh berjalan menghampiri, tidak dari balik meja kerja, melainkan langsung duduk di samping mereka, menyalakan rokok khas daerah, dan membuka percakapan dengan bahasa Melayu Jambi yang fasih: "Apo kabar, Datuk? Ceritokan samo kami, apo yang jadi beban di hati."
Pria itu bukanlah mediator atau pekerja sosial. Ia adalah Inspektur Jenderal Polisi Rusdi Hartono, Kepala Kepolisian Daerah Jambi. Momen tersebut bukanlah operasi pencitraan, melainkan cerminan dari filosofi kepemimpinannya yang telah ia tanamkan sejak pertama menginjakkan kaki di provinsi berjuluk "Bumi Melayu" itu pada awal 2025. Di era di mana jarak antara aparat dan warga sering kali terasa renggang, Rusdi memilih untuk mempersempitnya, duduk sejajar, mendengar langsung denyut keresahan rakyatnya.
Dari "Polisi Gaul" ke Kursi Kapolda
Lahir dari keluarga sederhana, Rusdi Hartono adalah wajah yang tidak asing di korps Bhayangkara, terutama bagi mereka yang akrab dengan dunia reserse. Sebelum menjabat sebagai Kapolda Jambi, namanya telah terpatri sebagai salah satu perwira menengah terbaik lulusan Akademi Kepolisian yang merintis karier dari bawah. Ia dikenal sebagai "polisi gaul" yang mampu beradaptasi dari warung kopi pinggir jalan hingga ruang sidang.
Kariernya melesat signifikan saat dipercaya menjabat sebagai Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri. Di posisi itu, ia berhadapan langsung dengan kartel narkoba kelas kakap, membongkar jaringan yang nyaris tak tersentuh, dan tak jarang ia sendiri yang turun memimpin penggerebekan di tengah malam. Prestasi cemerlangnya dalam membongkar kasus-kasus narkotika transnasional menjadi alasan kuat Polri menempatkannya sebagai orang nomor satu di Polda Jambi per akhir 2024, menggantikan pejabat sebelumnya.
Namun, bagi Rusdi, Jambi bukan sekadar kenaikan pangkat. "Ini ladang pengabdian. Saya mau polisi di Jambi ini menjadi bagian dari solusi peradaban, bukan cuma penegak hukum yang kaku," ucapnya dalam sebuah wawancara di awal masa jabatannya.
Kinerja dan Program Unggulan: Represif yang Humanis
Di bawah komandonya, wajah Polda Jambi mulai berubah. Rusdi sadar betul, karakteristik Jambi yang agraris, dipenuhi perkebunan sawit dan karet, tidak bisa disamakan dengan penanganan keamanan Jakarta. Alih-alih hanya mengejar target penindakan, ia mencetuskan program "Polisi Jalanan yang Humanis". Program ini menitikberatkan pada patroli dialogis di desa-desa rawan konflik lahan, bukan patroli dengan senjata lengkap yang gagah namun menakutkan.
Kinerja gemilang langsung ia torehkan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau 2025. Saat asap mulai mengepung, Rusdi tidak hanya menginstruksikan penegakan hukum bagi pembakar lahan korporasi, tetapi ia mendorong pendekatan restoratif. Ia memanggil para pemilik modal dan petani kecil, memfasilitasi mereka untuk membuat parit sekat bakar bersama-sama. Hasilnya, penindakan terhadap korporasi tetap berjalan tegas, namun tidak menimbulkan gejolak sosial seperti tahun-tahun sebelumnya.
Dalam konteks kriminalitas, fokusnya terpusat pada pemberantasan jaringan narkoba yang menjadikan jalur lintas timur Sumatera sebagai tempat peredaran. Secara tegas, ia mencopot beberapa anggotanya yang kedapatan bermain mata dengan bandar. "Saya tidak butuh polisi yang hebat di atas kertas tapi mempermainkan kepercayaan rakyat," tegasnya. Berdasarkan data internal tahun 2026, kepercayaan publik terhadap Polda Jambi merangkak naik signifikan, khususnya terkait transparansi penanganan perkara.
Tantangan dan Pekerjaan Rumah yang Belum Usai
Memimpin Polda Jambi bukan tanpa riak. Rusdi dihadapkan pada potensi konflik horizontal menjelang Pilkada Serentak 2024 dan dinamika politik lokal yang kerap memanas. Namun, ia konsisten berdiri di tengah, netral, sembari memastikan keamanan tetap terkendali. Ada pula tantangan laten berupa ketimpangan ekonomi di wilayah barat Jambi, yang sering menjadi pemicu kejahatan konvensional.
Rekan-rekannya sesama perwira menyebut Rusdi sebagai pribadi yang cenderung pendiam namun meledak saat berhadapan dengan ketidakadilan. "Ia itu pemimpin yang tidak bisa tidur nyenyak kalau tahu ada anggotanya kelaparan atau ada rakyatnya yang dizalimi," kata salah seorang ajudannya. Kedekatannya dengan personel bawah juga terlihat dari kebiasaannya mengunjungi polsek-polsek terpencil, memastikan kesejahteraan anggota terpenuhi.
Kini, saat langit Jambi kembali cerah, Irjen Rusdi Hartono kerap terlihat bersepeda di pagi hari, menyusuri Jembatan Gentala Arasy, menyapa para pedagang pasar, dan sesekali berhenti untuk sekadar bertukar cerita. Mungkin itulah gaya kepemimpinannya yang sejati: menjadi pengayom yang melindungi, namun tetap membumi. Masyarakat Jambi kini menaruh harapan besar di pundaknya, agar keamanan yang ia bangun bukan hanya sekadar statistik tanpa jiwa, melainkan nafas perdamaian yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Comments (0)