Senja mulai merunduk di balik rimbun karet dan sawit di kawasan Sarolangun. Di sebuah pos pengamanan, lelaki dengan seragam kelabu berbintang dua itu berjongkok sederhana di tepi jalan. Ia bukan sedang menggelar rapat, melainkan menyapa sopir truk sawit yang mengeluhkan pungutan liar. Sambil membagikan kopi saset dan biskuit, dengan logat Melayu yang kental, ia berjanji akan membereskan “preman-premannya” dalam dua kali dua puluh empat jam. Adegan itu, yang terekam kamera ponsel warga, adalah potret paling jujur dari gaya kepemimpinan Irjen Pol. Rusdi Hartono: dekat, cair, namun tetap setegar baja di lapangan.
Mengawali April dengan langkah pasti, Irjen Rusdi Hartono resmi menyandang tampuk tertinggi di Korps Bhayangkara Jambi sejak 12 Maret 2025. Ia bukan nama antah-berantah. Sebelumnya, ia adalah Karobinopsnal Baharkam Polri, posisi yang menuntut otot dan otak, mengurus operasi keamanan nasional. Jejaknya di Polda Jambi pun bukan kali pertama. Hampir satu dekade lalu, ia pernah bertugas sebagai Dirreskrimum pada 2014, saat maraknya kejahatan ilegal drilling dan pencurian minyak. Jika dulu ia berperang dengan para pembobol pipa di hutan Jambi, kini ia kembali sebagai “orang tua” bagi seluruh personel dan masyarakat setempat.
Darah Intel dan Karier Emas di Dunia Reserse
Kelahiran Palembang, 3 Desember 1969, darah polisi sejati mengalir dari akademi kepolisian angkatan 1991. Laki-laki yang kini menginjak usia 56 tahun ini adalah produk terbaik dari jalur profesional reserse. Pria bertubuh tegap ini bukan tipe pemimpin yang gemar duduk manis di kursi. Catatan dinasnya adalah medan perang melawan kriminal kelas tinggi. Sebut saja saat ia menjabat Dirresnarkoba Polda Sumsel dan kemudian Dirreskrimum Polda Metro Jaya pada 2017 silam. Di Jakarta, ia dikenal sebagai algojo bagi sindikat kejahatan jalanan dan begal bersenjata tajam pada zamannya.
Lintasan kariernya kaya akan jabatan strategis. Dari Kapolres hingga analis kebijakan di Baharkam, namanya dikenal sebagai birokrat Polri yang paham seluk-beluk teknis. Riwayat penugasan panjangnya terangkai dalam posisi-posisi vital:
- Analis Kebijakan Madya Bidang Jianbang Lemdiklat Polri (2022)
- Dirreskrimum Polda Metro Jaya (2017–2019)
- Analis Kebijakan Madya Bidang Sespimti Sespim Lemdiklat Polri (2019)
- Dirresnarkoba Polda Sumatera Selatan (2016)
- Dirreskrimum Polda Jambi (2014), momen pertamanya menyentuh bumi “Tanah Pilih Pesako Betuah”
“Jumat Berkah” dan Detak Jantung Pencegahan
Kembali ke Jambi, Irjen Rusdi tidak membawa pedang, melainkan solusi. Dengan cepat, ia membumikan program Command Center dan memperkuat “Jumat Berkah” sebagai kultur humanis Polri. Ia sering terlihat menyambangi pelosok dusun, bukan dengan pengawalan ketat, melainkan untuk sekadar mendengar. “Kalau warga takut lapor, kita yang harus lebih dulu hulurkan tangan,” ujarnya suatu kali di hadapan awak media. Baginya, keamanan bukan hanya soal penegakan hukum di hilir, melainkan tentang memastikan perut anak-anak di hulu tidak kelaparan.
“Kita bukan hanya penegak hukum. Di sini kita adalah bapak, saudara, dan teman. Saya ingin personel saya dikenal karena kebaikannya, bukan sekadar karena seragamnya.” – Irjen Pol. Rusdi Hartono di sela bakti sosial.
Kinerja Polda Jambi di bawah komandonya mulai menunjukan tren positif, khususnya di bidang lalulintas dan penurunan angka kriminalitas konvensional. Namun yang paling menonjol adalah pendekatan persuasifnya dalam menyelesaikan konflik agraria antara perusahaan perkebunan dan masyarakat adat. Ia membangun ruang mediasi yang adil, sebuah langkah yang jarang dilakukan oleh penegak hukum di masa lalu.
Teropong Masa Depan di Bumi Angso Duo
Ujian terberat seorang Kapolda Jambi terletak pada pengelolaan konflik sumber daya alam dan penjagaan ketat jalur lintas Sumatera yang menjadi nadi ekonomi pulau. Rusdi sadar betul, kredibilitas institusinya dipertaruhkan dalam setiap insiden perambahan dan transaksi ilegal. “Mata saya tidak akan tertutup, dan saya sudah bilang ke jajaran, jika ada yang main belakang, saya sendiri yang akan turun,” katanya dengan nada tenang namun menusuk.
Kini, di usia yang tak lagi muda, Irjen Rusdi Hartono tampak menikmati perannya sebagai nahkoda kapal Bhayangkara Jambi. Dari pos pengamanan hingga kantor teras di Jalan Soekarno-Hatta, ia ada di mana-mana. Bagi masyarakat Jambi, kehadiran Rusdi adalah nostalgia manis akan pemimpin yang merakyat—sosok jenderal bintang dua yang lebih suka berlumpur di lapangan ketimbang berkilau di balik panggung seremoni. Dan selama aroma kopi tubruk dari pos-pos polisi masih mengepul hangat untuk para sopir yang lewat, selama itulah harapan akan keamanan yang manusiawi terus terjaga di dataran Jambi.
Comments (0)