Mahyeldi Ansharullah: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Barat
Mahyeldi Ansharullah: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Barat
Pagi itu, di sebuah kedai kopi sederhana di kawasan Pasar Raya, Padang, seorang pria berpeci hitam duduk menyilakan kaki. Ia menyeruput kopi tubruk panas sambil mendengarkan keluhan seorang pedagang kain yang mengeluh soal harga sewa los yang melonjak. Tanpa banyak bicara, ia mencatat sesuatu di buku kecilnya, lalu berjanji akan memanggil dinas terkait keesokan harinya. Pria itu bukanlah staf biasa—dialah Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat yang memilih memulai harinya dengan turun langsung ke pasar, mendengar denyut nadi rakyatnya sebelum duduk di balik meja besar di kantor gubernur.
Perjalanan politik Mahyeldi adalah kisah tentang konsistensi, bukan lompatan instan. Lahir di Lubuk Basung, Kabupaten Agam, pada 25 Desember 1966, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga religius dan sederhana. Ayahnya adalah seorang guru mengaji, dan sejak kecil Mahyeldi sudah akrab dengan langgar dan surau. Nilai-nilai Islam dan budaya Minangkabau—dua hal yang tak terpisahkan bagi masyarakat Sumatera Barat—tertanam kuat dalam dirinya. Tak heran, ketika ia melangkah ke dunia politik, orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang tenang, santun, dan jarang sekali meninggikan suara, namun punya pendirian sekuat karang di Pantai Padang.
Dari Mimbar ke Panggung Politik
Sebelum menjadi orang nomor satu di Sumatera Barat, Mahyeldi adalah seorang pendakwah dan aktivis dakwah. Ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Darul Ulum, lalu melanjutkan pendidikan di IAIN Imam Bonjol Padang. Panggilan hatinya ada di jalan dakwah, namun ia menyadari bahwa untuk membawa perubahan yang lebih luas, mimbar masjid saja mungkin tidak cukup. Maka, ia pun melangkah ke dunia politik dengan bergabung bersama Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Karirnya menanjak perlahan, setahap demi setahap. Ia memulainya sebagai anggota DPRD Kota Padang periode 2004–2009. Energinya yang tak kenal lelah dan kedekatannya dengan warga di lorong-lorong sempit membuat namanya semakin dikenal. Pada 2010, ia terpilih sebagai Wakil Wali Kota Padang mendampingi Fauzi Bahar. Empat tahun kemudian, ia naik satu tingkat menjadi Wali Kota Padang dan memimpin ibu kota provinsi itu selama dua periode penuh, hingga 2021. Di sinilah fondasi kepemimpinannya diuji dan dibentuk.
"Saya tidak pandai beretorika, tapi saya bisa bekerja. Bagi saya, janji adalah hutang yang harus dibayar di akhir masa jabatan."
Kota Padang dan Jejak Pembangunan
Selama menjabat sebagai Wali Kota Padang, Mahyeldi meninggalkan warisan yang masih bisa dilihat hingga kini. Ia fokus pada pembangunan infrastruktur pascagempa 2009, yang hingga ia menjabat masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Kawasan Pantai Padang yang dulu kusam kini lebih tertata, menjadi ruang publik yang ramah bagi keluarga di akhir pekan. Ia juga menginisiasi program "Padang Bersih, Sehat, dan Hijau", sebuah gerakan yang mengajak masyarakat menjaga kebersihan mulai dari tingkat RT hingga RW.
Namun, warisan yang paling dikenang adalah gaya kepemimpinannya yang membumi. Mahyeldi dikenal sering menggelar salat subuh berjamaah di masjid-masjid yang berbeda setiap minggunya, lalu sarapan bersama warga. Di momen-momen informal itulah ia menyerap aspirasi yang tidak pernah sampai ke meja rapat formal.
Memimpin Ranah Minang: Kinerja dan Program Unggulan
Pada tahun 2021, Mahyeldi terpilih sebagai Gubernur Sumatera Barat berpasangan dengan Audy Joinaldy. Naik ke tampuk yang lebih tinggi, tantangan yang dihadapi pun kian kompleks. Ekonomi Sumatera Barat yang masih bergantung pada sektor pertanian dan pariwisata memerlukan terobosan. Di tengah tekanan pandemi yang mereda, ia meluncurkan sejumlah program unggulan yang terangkum dalam visi "Sumatera Barat Madani".
Salah satu program yang menjadi sorotan adalah Pengembangan Kawasan Industri Rendang. Mahyeldi melihat potensi besar kuliner Minang yang mendunia, namun selama ini belum terstandarisasi secara masif. Ia mendorong pembangunan sentra industri rendang terpadu di Payakumbuh, lengkap dengan pusat sertifikasi halal dan sistem rantai dingin. Hasilnya, ekspor rendang mengalami kenaikan signifikan, menembus pasar Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika pada 2025.
Di sektor infrastruktur, proyek Jalan Tol Padang–Pekanbaru yang sempat tersendat kembali mendapatkan napas baru di era kepemimpinannya. Mahyeldi aktif melobi pemerintah pusat dan investor, sehingga pada awal 2026, ruas Padang–Sicincin akhirnya beroperasi penuh, memangkas waktu tempuh sekaligus membuka koridor ekonomi baru di Sumatera bagian tengah.
Program pendidikan dan keagamaan juga menjadi penekanan utama. Beasiswa untuk hafiz dan hafizah Al-Qur'an ditingkatkan, sementara ribuan guru mengaji di surau-surau kini mendapat insentif bulanan dari pemerintah provinsi. Kebijakan ini mendapat pujian luas, meski ada kritik soal keberagaman dan inklusivitas, yang dijawabnya dengan tenang bahwa program tersebut tidak mengurangi porsi bantuan untuk sekolah negeri dan madrasah.
Tantangan dan Harapan di Ujung Masa Bakti
Memasuki tahun 2026, Mahyeldi menghadapi ujian besar: bencana alam. Sumatera Barat kembali diguncang banjir bandang dan longsor di beberapa kabupaten pada awal tahun. Respons cepat tanggap daruratnya diuji. Ia turun langsung ke lokasi bencana di Limapuluh Kota dan Tanah Datar, memastikan logistik tiba dan tenda pengungsian berdiri. Namun, kritikus menilai mitigasi bencana jangka panjang Pemprov Sumbar masih lemah, terutama dalam penataan ruang di kawasan hulu.
Selain itu, persiapan Pilkada serentak 2026 mulai memanaskan suhu politik lokal. Isu regenerasi kepemimpinan mengemuka. Sebagian kalangan menilai sudah saatnya muncul figur baru, sementara pendukung setia Mahyeldi merasa program-program strategisnya belum sepenuhnya tuntas.
Di tengah silang pendapat itu, Mahyeldi tetap menjalani hari-h
Comments (0)