Irjen Pol. Imam Sugianto: Profil dan Kinerja Kapolda Jawa Timur

Irjen Pol. Imam Sugianto: Profil dan Kinerja Kapolda Jawa Timur

Jul 11, 2026 - 12:40
Updated: 3 hours ago
0 0
Irjen Pol. Imam Sugianto: Profil dan Kinerja Kapolda Jawa Timur

Matahari Surabaya belum genap satu jam di atas kepala ketika seorang lelaki berperawakan sedang dengan kemeja putih lengan panjang itu berjalan menyusuri deretan los Pasar Turi. Tidak ada sirine, tidak ada pengawalan mencolok. Pedagang sayur dan penjual ikan awalnya hanya melirik sekilas, mengira dia petugas pasar biasa. Namun saat seorang pedagang emas tua berteriak, “Lho, Pak Kapolda!”, barulah suasana sedikit riuh. Irjen Pol. Imam Sugianto hanya tersenyum kecil, melambaikan tangan, dan kembali melanjutkan percakapannya dengan seorang penjual cabai tentang harga yang sedang melambung.

Adegan sederhana di pasar tradisional itu bukanlah operasi pencitraan sesaat. Bagi banyak warga Jawa Timur, justru di situlah letak kekhasan Imam: kemampuannya hadir tanpa sekat, mendengar tanpa menggurui. Sejak dilantik sebagai Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur pada penghujung 2024, perwira tinggi kelahiran Madiun, 8 Maret 1970, ini membawa serta gaya kepemimpinan yang bertumpu pada kedekatan personal dan pembacaan persoalan secara manusiawi.

Profil Singkat: Anak Madiun yang Kembali ke Rumah

Imam Sugianto adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1993. Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya di Madiun, kota yang membentuk karakternya yang tenang namun tegas. Mengabdi sebagai Kapolda Jatim terasa seperti perjalanan pulang. “Setiap sudut kota ini, gang-gang kecil di perkampungan, bahkan bau tanahnya, mengingatkan saya pada masa kecil. Ini bukan sekadar tempat bertugas, ini rumah,” ujarnya dalam sebuah bincang santai dengan komunitas jurnalis di Surabaya, awal 2026.

Sebelum menduduki posisi strategis ini, Imam telah menapaki berbagai jabatan penting di kepolisian. Ia dikenal sebagai perwira yang matang di reserse, dengan rekam jejak panjang menangani kejahatan transnasional dan narkotika. Jabatan sebelumnya sebagai Kapolda Kalimantan Selatan dan sejumlah posisi di Bareskrim Polri memberinya perspektif luas tentang kompleksitas keamanan dari hulu ke hilir. Rekan-rekannya mengenang Imam sebagai pemimpin yang tak segan turun langsung ke lapangan, bahkan saat masih berpangkat komisaris besar sekalipun.

Karier dan Riwayat Jabatan: Dari Reserse ke Pucuk Pimpinan

Jejak karier Imam Sugianto dibangun di atas fondasi kerja yang sunyi namun pasti. Berikut sejumlah posisi kunci yang pernah diembannya:

  • Kasat Reskrim Polrestabes Semarang
  • Wadirreskrimsus Polda Metro Jaya
  • Analis Kebijakan Madya Bidang Pidana Narkoba Bareskrim Polri
  • Dirresnarkoba Polda Sumatera Utara (2019—2020)
  • Wakapolda Kalimantan Selatan (2021)
  • Kapolda Kalimantan Selatan (2022—2024)
  • Kapolda Jawa Timur (November 2024—sekarang)

Di setiap penempatan, Imam selalu meninggalkan warisan reformasi di bidang penegakan hukum yang lebih transparan. Saat menjabat Dirresnarkoba Polda Sumut, ia mempelopori sistem pemetaan digital jaringan pengedar yang kemudian diadopsi secara nasional. Koleganya di Bareskrim menyebutnya sebagai “arsitek di balik layar” karena banyak terobosan besar yang ia gagas justru tidak pernah ia klaim sendiri.

Kinerja dan Program Unggulan: Mendengar, Baru Bertindak

Memimpin Polda Jatim, salah satu polda tipe A dengan wilayah terluas di Indonesia, Imam Sugianto langsung menghadapi ujian kompleks: angka kecelakaan lalu lintas yang tinggi di jalur pantura, konflik agraria di beberapa daerah, serta masifnya peredaran narkoba melalui jalur laut dan pelabuhan kecil. Responsnya tidak reaktif, melainkan terstruktur dan berbasis data.

Salah satu program unggulannya adalah “Jatim Call 110 Presisi Responsif”, yang ia benahi agar waktu tanggap laporan masyarakat dipangkas secara signifikan. Dalam kurun 2025, rata-rata waktu respons turun dari 18 menit menjadi 9 menit untuk perkara darurat. Program ini dipadukan dengan “Polisi RW”, di mana satu personel Bhabinkamtibmas ditempatkan secara khusus untuk mendeteksi dini potensi konflik sosial di tingkat rukun warga.

Namun, yang paling menyita perhatian publik adalah pendekatannya terhadap kejahatan jalanan dan geng motor yang sempat meresahkan warga Surabaya dan Malang pada pertengahan 2025. Alih-alih menggelar razia besar-besaran yang kerap memicu gesekan, Imam memilih jalur dialog dengan komunitas pemuda, menggandeng tokoh agama, dan membuka ruang ekspresi legal melalui balap resmi dan wirausaha kecil. “Anak-anak muda ini kebanyakan korban lingkungan. Kalau kita pukul rata, kita justru menciptakan musuh permanen,” ucapnya dalam sebuah rapat koordinasi yang dihadiri tokoh masyarakat Madura.

Di bidang penindakan korupsi dan mafia tanah, Imam juga menunjukkan ketegasan tanpa kompromi. Pada awal 2026, Polda Jatim di bawah komandonya membongkar sindikat pemalsuan sertifikat tanah yang melibatkan oknum pejabat daerah dan notaris. Kasus ini menyelamatkan aset masyarakat senilai lebih dari Rp300 miliar. Keberanian menindak kasus besar yang menyentuh lingkaran kekuasaan lokal inilah yang membuat banyak pihak menaruh hormat sekaligus waspada padanya.

Tantangan dan Harapan: Menjaga Api Kecil di Tengah Badai

Mengelola Jawa Timur ibarat menakhodai kapal besar di selat yang ramai dan cuaca tak menentu. Keberagaman budaya, bentang geografis dari kota metropolitan hingga pulau-pulau terpencil, serta dinamika politik lokal yang kuat menjadi tantangan yang tak bisa dijawab hanya dengan instruksi dari atas. Imam menyadari betul hal ini.

Salah satu ujian terbesar sepanjang 2025 adalah mengelola keamanan selama rangkaian Pilkada serentak di 38 kabupaten/kota. Di tengah polarisasi politik yang memanas, ia menerapkan strategi “cooling system” berbasis kearifan lokal: menggandeng para sesepuh, kiai

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User