Andi Sumangerukka: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Tenggara

Andi Sumangerukka: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Tenggara

Jul 11, 2026 - 09:51
Updated: 6 hours ago
0 0
Andi Sumangerukka: Profil dan Kinerja Gubernur Sulawesi Tenggara

Pagi itu, matahari Kendari belum sepenuhnya naik ketika seorang pria berbadan tegap dengan kemeja putih lengan panjang melangkah masuk ke sebuah warung kopi sederhana di Pasar Baruga. Tak ada pengawalan ketat, tak ada sirine meraung. Hanya satu dua ajudan yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Ia duduk di bangku kayu, memesan kopi hitam, lalu bercakap dengan tukang ojek yang kebetulan duduk di meja sebelah. "Bagaimana tangkapan ikan minggu ini, Pak?" tanyanya polos. Si tukang ojek yang asyik menyeruput kopinya tak segera sadar sedang berbicara dengan Gubernur Sulawesi Tenggara. Begitulah Andi Sumangerukka, seorang jenderal purnawirawan yang lebih memilih turun ke pasar dan kampung daripada berlama-lama di balik meja birokrasi.

Lahir di Kabupaten Muna, 8 Juni 1963, Andi Sumangerukka menapaki jalan hidup yang jauh dari gemerlap politik sejak muda. Ia adalah potret anak negeri yang menempa diri dalam disiplin militer, menghabiskan lebih dari tiga dasawarsa sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Ketegasan dan kecintaannya pada dunia logistik membawanya ke posisi strategis: Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XIV/Hasanuddin, dan puncaknya sebagai Panglima Kodam XIII/Merdeka. Di balik seragam loreng itu, rekan-rekannya mengenang Andi sebagai komandan yang tak segan ikut mengangkat karung beras saat pendistribusian bantuan, atau tidur di tenda pengungsian bersama prajuritnya saat bencana melanda.

Namun, disiplin militer itu bukan berarti kaku. Ketika masa purnanya tiba pada 2021, banyak yang mengira ia akan memilih hidup tenang. Andi justru mengambil jalan yang lebih berliku: politik. Keputusannya maju dalam Pemilihan Gubernur 2024 sempat menimbulkan tanya—masyarakat Sulawesi Tenggara bertanya-tanya, akankah sang mantan jenderal mampu bertransformasi menjadi pemimpin sipil yang merangkul semua kalangan?

Jawabannya mulai terbaca pada November 2024, ketika ia bersama pasangannya, dr. Hugua, dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara untuk periode 2025-2030. Kemenangannya bukan semata soal popularitas, melainkan harapan rakyat akan hadirnya pemimpin yang lugas dan dekat dengan persoalan nyata. Dalam seratus hari pertamanya, Andi tak banyak bicara. Ia justru banyak berjalan. Dari Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari yang semrawut, ke pelosok Konawe Utara yang warganya masih kesulitan air bersih, hingga ke kepulauan Wakatobi yang butuh sentuhan infrastruktur pariwisata.

Dari Logistik ke Visi Tata Kelola

Kalangan birokrat di lingkungan Pemprov Sultra kerap menyebut Andi dengan istilah "Komandan Logistik". Julukan itu bukan tanpa alasan. Latar belakangnya sebagai perwira di korps perbekalan dan angkutan membentuk caranya memandang pemerintahan: semua harus terukur, efisien, dan tepat sasaran. "Pemerintahan itu seperti merancang operasi militer," katanya suatu kali dalam rapat dengan jajaran Organisasi Perangkat Daerah. "Kita harus tahu berapa jumlah amunisi, medan seperti apa, dan yang paling penting, anak buah kita siap atau tidak." Metafora itu kemudian ia terjemahkan ke dalam program yang ia sebut sebagai tiga pilar: infrastruktur konektivitas, penguatan pangan lokal, dan reformasi layanan publik berbasis data.

Mereka yang pernah bekerja dengannya di militer ingat bagaimana Andi selalu menekankan pentingnya rantai pasok. Kini, sebagai gubernur, obsesinya adalah memutus rantai kemiskinan yang melilit 11,6 persen penduduk Sultra, terutama di wilayah kepulauan dan pedalaman. Ia kerap mengulangi satu kalimat di berbagai forum: "Jangan biarkan petani kita panen raya tapi menangis karena harga jatuh, sementara ibu-ibu di kota menangis karena harga cabai melambung." Dari situlah lahir program Sultra Agro Maritim yang ia canangkan pada pertengahan 2025, sebuah inisiatif yang mencoba menghubungkan langsung petani dan nelayan dengan pasar melalui platform digital yang dikelola BUMD.

Kinerja dan Program Unggulan

Memasuki tahun 2026, pemerintahan Andi-Hugua telah meninggalkan sejumlah jejak yang mulai terlihat. Berikut sederet program yang menjadi sorotan:

  • Satu Desa Satu Embung – Hingga kuartal pertama 2026, sebanyak 127 embung desa telah rampung dibangun dari target 580 desa prioritas, difokuskan di wilayah rawan kekeringan seperti Bombana dan Konawe Selatan. Program ini didesain bukan hanya untuk irigasi, tetapi juga budidaya perikanan air tawar skala kecil.
  • Kartu Sultra Sehat Semesta – Masyarakat miskin dan pekerja informal kini memiliki akses layanan kesehatan penuh hanya dengan menunjukkan kartu yang terintegrasi dengan data DTKS. Klaimnya sederhana: satu kartu, semua terlayani, tanpa harus mengurus rujukan berbelit.
  • Rumpon Cerdas untuk Nelayan – Bekerja sama dengan Badan Riset Daerah, pemprov memasang alat pendeteksi ikan di 30 titik perairan Teluk Bone dan Laut Banda, terhubung langsung ke ponsel kelompok nelayan. Hasilnya, tangkapan naik rata-rata 25 persen di semester akhir 2025.
  • Pendidikan Vokasi Maritim – Revitalisasi 10 SMK Kelautan dengan kurikulum teknis perkapalan dan perhotelan bahari, mempersiapkan anak muda Sultra mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor pariwisata Wakatobi dan industri galangan kapal.

Nam

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User