Dominggus Mandacan: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Barat
Dominggus Mandacan: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Barat
Suatu pagi di Manokwari, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik lengan panjang melangkah masuk ke sebuah warung kopi sederhana di tepi jalan. Bukan untuk inspeksi mendadak, bukan pula untuk pencitraan. Ia duduk, memesan kopi hitam, lalu terlibat obrolan ringan dengan beberapa warga tentang harga ikan dan kondisi jalan. Pria itu adalah Dominggus Mandacan, Gubernur Papua Barat. Momen-momen seperti ini, kata orang-orang dekatnya, bukan rekayasa politik. Ia memang seperti itu: pendiam, namun matanya selalu merekam; sederhana, namun pikirannya terus merangkai solusi.
Profil Singkat: Dari Lembah Arfak untuk Tanah Papua
Dominggus Mandacan lahir pada 16 Desember 1959, di lingkungan masyarakat Arfak yang memegang teguh adat dan falsafah leluhur. Ia bukan tipe birokrat yang tumbuh dari ruang-ruang ber-AC di ibu kota provinsi. Masa kecilnya dihabiskan di antara lembah dan pegunungan, membentuk karakter tangguh yang kelak menjadi bekal saat ia meniti karier panjang di birokrasi Papua Barat. Pendidikan formalnya ditempuh di Sekolah Pemerintahan Dalam Negeri, sebuah pilihan yang mengabdi pada jalur administrasi publik sejak awal.
Sosoknya sering digambarkan oleh kolega sebagai pemimpin yang tenang, namun memiliki ketegasan baja. "Bapak itu kalau bicara jarang keras, tapi sekali bilang A, ya A," ujar seorang staf senior di lingkungan Pemprov Papua Barat. Prinsip ini yang mengantarnya melangkah dari eselon rendah hingga akhirnya dipercaya memimpin provinsi termuda di Indonesia ini.
Karier dan Riwayat Jabatan: Jejak Panjang Sang Birokrat
Sebelum menduduki kursi gubernur, Dominggus Mandacan adalah birokrat sejati. Ia memulai karier sebagai PNS pada era 1980-an, dan berangsur naik melalui pos-pos strategis. Jabatan sebagai Kepala Dinas di beberapa instansi, hingga puncaknya sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, memberinya pemahaman menyeluruh tentang mesin pemerintahan. Pengalaman panjang ini membuatnya paham seluk-beluk birokrasi, bukan hanya secara teori, tapi dari praktik bertahun-tahun.
- Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat (periode awal)
- Penjabat Bupati Manokwari
- Kepala Badan Kepegawaian Daerah Papua Barat
Pada 2017, ia terpilih sebagai Gubernur Papua Barat periode 2017–2022. Kepemimpinannya dinilai berhasil meletakkan fondasi pembangunan, hingga kemudian ia kembali terpilih untuk periode kedua 2022–2025, kali ini berpasangan dengan Mohamad Lakotani. Kini, di tahun 2025, ia tengah menuntaskan periode terakhirnya dengan fokus pada konsolidasi program-program unggulan.
Kinerja dan Program Unggulan: Membangun dari Pinggiran
Jika ada satu benang merah dari seluruh kebijakan Dominggus, itu adalah keberpihakan pada wilayah pedalaman dan masyarakat adat. Program "Petani Milenial Papua Barat" yang digulirkan pada 2023 menjadi salah satu terobosannya. Program ini bukan sekadar bagi-bagi bibit, melainkan ekosistem lengkap: pelatihan, pendampingan teknologi tepat guna, hingga akses permodalan bagi anak muda asli Papua. Di Kabupaten Pegunungan Arfak, misalnya, kelompok tani muda kini mulai mengekspor kopi arabika organik ke pasar Australia dalam jumlah terbatas—sebuah capaian yang tak terbayangkan lima tahun lalu.
Pembangunan infrastruktur dasar juga menjadi prioritas. Pemerintahannya menggenjot pembangunan rumah layak huni di distrik-distrik terpencil. Data per akhir 2024 menunjukkan lebih dari 1.500 unit rumah tipe 36 telah terbangun dan terdistribusi di tujuh kabupaten. Dominggus kerap menegaskan bahwa rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol martabat dan pusat peradaban keluarga.
Di sektor konektivitas, pemerintahannya bekerja sama dengan operator seluler dan Kementerian Kominfo untuk membangun menara BTS di 115 titik blank spot sepanjang 2024–2025. Proyek ini membawa perubahan nyata: seorang bidan di Kampung Esyom, Maybrat, kini bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis di Manokwari melalui video call—teknologi yang dulu hanya angan-angan.
"Kita tidak bisa mimpi bangun smart city kalau warganya saja belum bisa telepon. Maka itu yang kami selesaikan dulu." – Dominggus Mandacan, dalam rapat koordinasi pembangunan, akhir 2024.
Sektor pendidikan tak luput dari perhatiannya. Beasiswa unggulan bagi putra-putri asli Papua Barat untuk melanjutkan studi S1 dan S2 ke universitas ternama di Jawa dan luar negeri terus dikucurkan. Yang menarik, penerima beasiswa ini diikat dengan kontrak moral untuk kembali mengabdi di Papua Barat selama minimal dua kali masa studi. Sebuah strategi untuk mencegah brain drain dan memastikan transfer pengetahuan.
Tantangan dan Harapan: Menjelang Senja Periode
Namun, perjalanan Dominggus tidak mulus. Tantangan klasik Papua Barat membayangi: luasnya wilayah dengan medan ekstrem, disparitas ekonomi antara kawasan pesisir dan pegunungan, serta isu sosial yang sesekali mencuat. Salah satu ujian terberat adalah penyesuaian Dana Otonomi Khusus yang pada 2025 mengalami efisiensi dari pemerintah pusat. Dominggus merespons dengan pragmatis: mengencangkan ikat pinggang birokrasi, memangkas perjalanan dinas, dan merealokasi anggaran ke program prioritas langsung ke masyarakat.
Harapan kini tertuju pada transisi kepemimpinan. Dominggus berulang kali menyatakan keinginannya agar gubernur selanjutnya melanjutkan apa yang sudah dibangun, bukan memulai lagi dari nol. Ia ingin memastikan fondasi pertanian modern, infrastruktur dasar, dan pendidikan yang sudah ia letakkan tidak terbengkalai oleh pergantian rezim politik.
Di akhir masa jabatannya, Dominggus Mandacan mungkin akan dikenang sebagai gubernur yang tidak terlalu pandai bersilat lidah di depan kamera, namun meninggalkan jalan mulus di Arfak, sinyal telepon di Maybrat, dan secangkir kopi yang kini bisa dinikmati para petani milenial sambil memandang masa depan yang lebih benderang.
Comments (0)