Profil Singkat
Di sebuah rumah panggung sederhana di lereng Pegunungan Arfak, pada 23 Desember 1959, seorang bayi laki-laki lahir dari pasangan petani subsisten. Mereka memberinya nama Dominggus. Tak ada yang menyangka bahwa anak yang tumbuh dengan berjalan kaki berkilo-kilometer menuju sekolah di Manokwari itu kelak akan menjadi orang nomor satu di tanah kelahirannya. Dominggus kecil tumbuh dalam ritme adat suku Arfak—bangun sebelum fajar, membantu orang tua di kebun, lalu menyusuri jalan setapak berbatu menuju ruang kelas yang berdinding papan.
Darah pejuang mengalir dalam tubuhnya. Ayahnya, Marthen Mandacan, adalah seorang pemimpin adat yang ikut bergerilya melawan penjajah. Dari sang ayah, Dominggus belajar tentang keteguhan dan pengabdian. "Hidup ini bukan tentang siapa yang paling keras berteriak, tapi siapa yang paling setia melayani," demikian petuah yang kerap ia kenang hingga kini. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Manokwari, ia melanjutkan studi ke Universitas Cenderawasih. Gelar sarjana hukum ia raih dengan kerja keras sambil tetap menjaga hubungan dengan kampung halamannya.
Karier dan Riwayat Jabatan
Perjalanan kariernya dimulai dari koridor birokrasi. Dominggus mengawali semuanya sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Manokwari. Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tak segan turun ke lapangan. Jabatan demi jabatan ia emban: dari staf biasa, Kepala Dinas Pendapatan Daerah, hingga akhirnya dipercaya menjadi Wakil Bupati Manokwari pada 2001 mendampingi Bupati Dominggus Mandacan—ya, kebetulan nama yang sama, tetapi bukan dirinya, melainkan kerabatnya.
Pada 2005, masyarakat Manokwari memilihnya langsung sebagai Bupati. Dua periode ia pimpin kabupaten terluas di Papua Barat itu. Di bawah kepemimpinannya, Manokwari bertransformasi: jalan-jalan diaspal, pasar tradisional dibangun, dan akses pendidikan mulai menjangkau distrik-distrik terpencil. Kiprahnya di tingkat kabupaten menghantarkannya ke panggung yang lebih besar. Pada 2017, ia terpilih sebagai Gubernur Papua Barat yang ketiga.
Petahana tak membuatnya berpuas diri. Menjelang Pilkada 2024, di usianya yang ke-65, Dominggus kembali mendaftarkan diri didampingi Mohammad Lakotani, seorang birokrat berpengalaman dari Teluk Wondama. Meski sempat diterpa isu kesehatan dan persaingan sengit dari tiga pasangan lain, kemenangan tetap berpihak padanya. KPU Papua Barat menetapkan pasangan ini sebagai pemenang dengan perolehan suara yang meyakinkan. Kini, ia memimpin "Bumi Cenderawasih" untuk periode keduanya, 2025-2030.
"Saya ini pemimpin yang lahir dari rakyat. Kemenangan ini bukan milik saya, tapi milik seluruh
Comments (0)