John Tabo: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Pegunungan
John Tabo: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Pegunungan
Pagi itu, kabut masih menggantung rendah di atas landasan Bandara Wamena. Seorang pria berambut keriting dengan tas ransel lusuh turun dari pesawat perintis. Tidak ada ajudan. Tidak ada protokoler. Ia berjalan kaki menuju pasar Jibama, menyapa para mama penjual ubi jalar dengan logat Lembah Baliem yang kental. Pria itu adalah John Tabo, gubernur yang pernah berucap, "Saya tidak butuh kursi empuk di kantor. Saya butuh duduk di atas batu bersama rakyat saya."
Adegan itu bukan rekaan tim humas. Bukan pula pencitraan politik yang disusun rapi. Bagi warga Pegunungan Tengah Papua, John Tabo adalah cermin dari tanah mereka sendiri: keras, jujur, dan tak banyak bicara.
Profil Singkat: Anak Guru yang Memilih Jalan Sunyi
John Tabo lahir pada 12 April 1978 di Kurulu, sebuah distrik kecil di jantung Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Ayahnya seorang guru sekolah dasar, ibunya petani ubi. Dari keduanya, John kecil belajar dua hal paling elementer: pentingnya akal dan keutamaan tanah.
Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Wamena. Nilai-nilainya biasa saja, kenang seorang gurunya dalam wawancara dengan media lokal, tetapi ia selalu menjadi yang pertama hadir dan terakhir pulang ketika kerja bakti. Selepas SMA, ia melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Karya Kasih di Jayapura. Gelar strata satu ia selesaikan dengan skripsi tentang pemerintahan kampung, lalu ia kembali ke tanahnya.
John menikah dengan Yuliana Wenda, seorang bidan puskesmas yang ia temui saat bertugas di pedalaman. Mereka memiliki empat anak yang semuanya bersekolah di Wamena — keputusan sadar, katanya, "supaya mereka tidak lupa suara burung pagi di halaman rumah."
Karier dan Riwayat Jabatan: Dari Balai Kampung ke Lantai Gubernuran
Karier birokrasi John Tabo dimulai bukan dari meja rapat ber-AC, melainkan dari balai-balai kampung yang bocor ketika hujan. Ia menjadi Kepala Kampung Walesi pada 2005, lalu Kepala Distrik Kurulu pada 2011. Di sinilah jejak pertamanya terukir: ia membangun sistem air bersih gravitasi dari mata air pegunungan, mengalirkan air ke 12 kampung tanpa bergantung pada listrik atau mesin pompa. Sistem itu masih berfungsi hingga kini.
Pada 2016, Bupati Jayawijaya menunjuknya sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda). Empat tahun kemudian, ia terpilih sebagai Wakil Bupati Jayawijaya mendampingi Jhon Richard Banua. Duet ini fokus pada pembukaan isolasi wilayah — jalan setapak diperlebar, jembatan gantung dibangun ulang — dan pengiriman guru-guru kontrak ke distrik terpencil.
Ketika Provinsi Papua Pegunungan resmi dibentuk pada 2022 sebagai pemekaran dari Papua, John Tabo melihatnya bukan semata soal administrasi baru. "Ini tentang membangun rumah sendiri," katanya saat deklarasi pencalonan. Pada pemilihan gubernur perdana yang berlangsung 27 November 2024, pasangan John Tabo – Ones Pahabol menang dengan suara signifikan. Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025.
Kinerja dan Program Unggulan: Membangun dari Ketinggian 1.600 Meter
Memimpin provinsi yang lebih dari 90 persen wilayahnya adalah pegunungan terjal bukanlah pekerjaan romantis. Hingga pertengahan 2026, pemerintahan John Tabo bergerak dalam tiga poros besar.
- Program "Satu Kampung, Satu Motor Kampung" — pengadaan motor bebek tangguh untuk menghubungkan kampung-kampung yang tidak bisa dijangkau mobil. Dilengkapi pelatihan bengkel dasar bagi pemuda setempat.
- Bantuan "Peti Kemas Dingin" untuk para mama pedagang sayur di delapan sentra produksi. Ini menjawab keluhan lama: sayur segar busuk sebelum sampai ke pasar kota.
- Jalur konsultasi medis bernama "Dokter Terbang", layanan telekonsultasi mingguan via radio VHF ke puskesmas-puskesmas yang tidak memiliki dokter tetap.
"Kita tidak bisa menunggu aspal mulus untuk mulai menyehatkan warga. Kalau dokter tidak bisa datang, suaranya harus bisa datang," ujar John dalam rapat koordinasi dengan Dinas Kesehatan, September 2025.
Ia juga menghidupkan kembali lahan pertanian adat berbasis keluarga besar (sili), mengintegrasikannya dengan program lumbung pangan provinsi. Hasilnya: pada masa paceklik panjang akhir 2025, tiga distrik di Kabupaten Nduga berhasil bertahan tanpa bantuan pangan darurat.
Tantangan dan Harapan: Di Atas Batu, Di Bawah Kabut
Tantangan John Tabo tidak ringan. Infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah paling elementer: hujan tiga jam bisa memutus akses ke ibu kota provinsi. Anggaran provinsi pemekaran pun terbatas, dan ekspektasi publik menggantung tinggi. Lalu ada dinamika lokal yang rumit — kepentingan adat, politik marga, dan kadang tarikan konflik di wilayah-wilayah tertentu.
Namun, di mata para pendukungnya, John Tabo memegang satu modal yang tidak
Comments (0)