Profil Singkat
Udara pagi di Wamena masih menyimpan dingin yang menusuk tulang ketika John Tabo melangkah masuk ke sebuah honai sederhana di Distrik Kurulu. Pagi itu, awal Maret 2025, ia tidak datang sebagai gubernur. Ia datang sebagai anak suku Hubula yang pulang. Ditemani secangkir kopi panas dan ubi bakar, ia mendengarkan keluhan seorang kepala suku tentang jalan yang putus, tentang anak-anak yang harus berjalan empat jam untuk mencapai sekolah. Momen sederhana ini, bagi banyak orang, adalah potret paling jujur tentang John Tabo: pemimpin yang masih merasa canggung di kursi birokrasi tetapi sangat fasih membaca lanskap batin masyarakatnya.
John Tabo lahir di Lembah Baliem pada 5 April 1972. Ia adalah generasi pertama keluarganya yang mengenyam pendidikan formal hingga perguruan tinggi. Lulus dari Universitas Cenderawasih jurusan Antropologi, ia sebenarnya dibesarkan untuk menjadi penjaga tradisi, bukan birokrat. Namun sejarah dan dinamika pemekaran wilayah membawanya ke panggung politik yang jauh lebih besar. Sejak 2022, ia memimpin Provinsi Papua Pegunungan — sebuah provinsi yang bahkan lebih muda dari masa jabatannya sendiri — sebagai penjabat gubernur sebelum akhirnya dilantik sebagai gubernur definitif pertama provinsi itu pada tahun 2024.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier John Tabo adalah narasi tentang kesabaran yang berbuah. Selama dua dekade, ia bergerak di jalur birokrasi yang sunyi. Dari staf di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Jayawijaya, ia perlahan menapaki posisi-posisi strategis: Kepala Distrik, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda, hingga akhirnya menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Jayawijaya. Di posisi Sekda inilah namanya mulai disebut-sebut sebagai teknokrat bersih yang memahami kompleksitas pegunungan tanpa kehilangan ketegasan.
Poin balik terjadi pada 2022. Ketika Papua dimekarkan dan Provinsi Papua Pegunungan lahir, John Tabo dipilih sebagai Penjabat Gubernur. Banyak yang ragu. Provinsi baru ini adalah salah satu yang termiskin secara infrastruktur, dengan medan yang brutal dan konflik sosial yang masih menyala. Namun pada 2024, ia memenangkan kontestasi politik dan menjadi gubernur definitif. Sebuah transisi yang nyaris mulus, menandakan kepercayaan publik yang tidak tiba-tiba.
Kinerja dan Program Unggulan
Ada tiga kata yang menjadi mantra kepemimpinannya: akses, pangan, dan keamanan. Tiga hal yang di wilayah lain mungkin sudah menjadi standar, tetapi di Papua Pegunungan masih menjadi kemewahan.
- Trans-Papua Pegunungan: Proyek paling ambisius dalam masa jabatannya adalah membuka keterisolasian. Dari 2023 hingga 2026, pemerintah provinsi menggenjot pembangunan dan perintisan jalan yang menghubungkan delapan kabupaten. Bukan sekadar aspal dan beton, tetapi jalan yang memotong rantai kemahalan. Di Distrik Okbibab, harga semen yang dulu mencapai dua juta rupiah per sak, kini turun hingga 60 persen sejak akses jalan terbuka.
- Ketahanan Pangan Lokal: John Tabo percaya bahwa beras bukan jawaban. Ia mendorong program "Sagu, Ubi, dan Babi" sebagai poros pangan lokal. Program ini bukan hanya menyediakan bibit, tetapi juga membangun sistem distribusi dan pasar. Data Dinas Pertanian 2025 mencatat peningkatan produksi ubi jalar sebesar 22 persen dibandingkan 2023.
- Pendekatan Kultural Keamanan: Di wilayah yang sering dilanda konflik bersenjata, John Tabo memilih jalur dialog adat daripada operasi militer sepenuhnya. Ia rutin mempertemukan tokoh adat, gereja, dan pihak keamanan. Strategi ini berhasil menurunkan intensitas kekerasan di sejumlah distrik rawan.
Tantangan dan Harapan
Tidak semua cerita berjalan sesuai rencana. Papua Pegunungan masih menjadi provinsi dengan Indeks Pembangunan Manusia terendah di Indonesia pada 2025. Kasus malnutrisi di beberapa kampung terpencil masih menjadi berita yang menyakitkan. Kepemimpinan John Tabo juga diuji oleh praktik korupsi oknum bawahannya dan lambatnya penyerapan anggaran — masalah klasik daerah pemekaran. Dalam beberapa kali kesempatan, ia menyampaikan kefrustasiannya secara terbuka: "Kita punya uang, tapi tidak bisa dibelanjakan cepat karena rantai birokrasinya panjang sekali."
"Saya ini hanya anak kampung yang kebetulan dipercaya. Saya tidak janji Papua Pegunungan akan seperti Jawa dalam lima tahun. Tapi saya janji, anak-anak di sini tidak akan lagi menangis karena perut kosong sebelum berangkat sekolah." – John Tabo dalam pidato HUT Provinsi 2025
Di tengah keterbatasan, harapan itu tetap menyala. Seperti kopi pagi yang selalu ada di honai-honai Lembah Baliem — sederhana, hangat, dan mampu membangunkan kesadaran bahwa perubahan memang harus dimulai dari hal-hal kecil. John Tabo mungkin bukan pemimpin sempurna, tetapi ia adalah cermin dari tanahnya sendiri: keras, rentan, namun selalu mampu menumbuhkan kehidupan di tempat yang paling tidak mungkin sekalipun.
Comments (0)