Aug 25, 2026
Politik

Elisa Kambu: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Barat Daya

Elisa Kambu: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Barat Daya

Elisa Kambu: Profil dan Kinerja Gubernur Papua Barat Daya

Aroma asin laut masih melekat di ingatannya. Di sudut dermaga tua Sorong, bocah bernama Elisa Kambu biasa duduk berjam-jam menyaksikan kapal-kapal kayu bersandar, membongkar ikan dan cerita dari pulau-pulau jauh. Tak ada yang menyangka, bocah yang tumbuh di antara deburan ombak dan anyir ikan itu kelak memimpin salah satu provinsi termuda di Indonesia—Papua Barat Daya—sebagai gubernur definitif pertama hasil pemilihan langsung.

Perjalanan ke kursi gubernur bukan jalan tol bagi pria kelahiran 14 Desember 1964 ini. Ia meniti dari bawah: guru, birokrat, hingga akhirnya dipercaya memimpin daerah istimewa yang kaya sumber daya namun menyimpan luka kantung-kantung kemiskinan.

Dari Ruang Kelas ke Ruang Kebijakan

Sebelum menjadi orang nomor satu di Papua Barat Daya, Elisa Kambu lebih dulu menjadi "orang nomor satu" di ruang kelas. Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ini mengawali karier sebagai pengajar. Darah pendidik mengalir kuat—ia memahami bahwa kemajuan Papua tidak bisa dilepaskan dari bangku sekolah. Pengalaman di dunia pendidikan inilah yang kemudian mewarnai kebijakan-kebijakannya.

Jenjang birokrasi ia tapaki perlahan. Ia pernah menjabat Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Sorong, lalu menjadi Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Posisi terakhir sebelum menjabat gubernur adalah Penjabat Bupati Sorong pada 2023, tempat ia belajar langsung bagaimana memutar roda pemerintahan di tengah keterbatasan.

Titik balik terjadi pada Pilkada Serentak 2024. Berpasangan dengan Ahmad Nausrau, Elisa Kambu memenangkan kontestasi dan resmi dilantik oleh Presiden pada 20 Februari 2025 sebagai Gubernur Papua Barat Daya periode 2025-2030. Provinsi yang merupakan pemekaran dari Papua Barat ini menjadi panggung pengabdian terbesarnya.

Seribu Hari Pertama: Fondasi yang Dibangun Tergesa

Memimpin provinsi baru ibarat membangun kapal sambil berlayar. Infrastruktur pemerintahan masih setengah jadi, alokasi anggaran belum sepenuhnya tertata, sementara ekspektasi publik membumbung tinggi. Namun justru di situlah karakter Elisa diuji.

Salah satu langkah awal yang menjadi perhatian publik adalah penataan ulang struktur organisasi perangkat daerah. Kambu bergerak cepat mengisi pos-pos strategis dengan birokrat berpengalaman. Ia juga mempercepat pembangunan kantor gubernur dan fasilitas pemerintahan lain yang menjadi simbol kehadiran negara di tanah rantau paling timur.

"Kita tidak bisa menunggu sempurna untuk memulai. Provinsi ini adalah kepercayaan yang harus kami jawab dengan kerja, bukan janji."

Ucapan ini ia lontarkan dalam sebuah rapat koordinasi awal kepemimpinannya, dan menjadi semacam mantra yang menggerakkan mesin birokrasi yang masih merangkak.

Program Unggulan: Menganyam Asa di Atas Realitas

Pemerintahan Kambu-Nausrau membawa visi yang bertumpu pada tiga pilar: pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi kerakyatan, dan percepatan pembangunan manusia.

Di sektor infrastruktur, ia mendorong penyelesaian pembangunan Bandara Siboru di Kabupaten Fakfak yang sempat mandek—proyek senilai Rp 14,7 triliun yang diharapkan menjadi gerbang konektivitas baru. Sementara itu, jalan-jalan poros yang menghubungkan enam kabupaten/kota terus digesa perbaikannya. Jalan bukan sekadar aspal baginya; jalan adalah urat nadi ekonomi dan pendidikan.

Yang lebih sunyi namun krusial adalah program Kredit Mikro Papua Barat Daya Bangkit. Program ini menyasar pelaku UMKM, petani, dan nelayan—wajah-wajah yang dulu mungkin mirip dirinya semasa kecil di pesisir Sorong. Bunga rendah dan persyaratan sederhana menjadi tarikan utama. Pada akhir 2025, lebih dari 5.000 pelaku usaha mikro telah menerima manfaat.

Di bidang pendidikan, Kambu meluncurkan beasiswa afirmatif bagi putra-putri asli Papua untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri ternama di Jawa dan luar negeri. Ia percaya, investasi terbesar bukan pada beton, melainkan pada otak dan karakter generasi muda. Tercatat 200 mahasiswa baru menerima beasiswa ini pada tahun ajaran 2025.

Sektor kesehatan juga tak luput dari perhatian. Program Dokter Terbang diperluas cakupannya menjangkau distrik-distrik terisolasi di Kepulauan Raja Ampat dan Tambrauw. Di wilayah di mana akses jalan tak selalu ramah, pesawat kecil dan perahu cepat menjadi ambulans dan apotek berjalan.

Di Persimpangan Tambang dan Hutan

Papua Barat Daya berdiri di atas tanah yang menyimpan bertriliun rupiah nilai tambang. Namun Kambu berada di posisi yang rumit: di satu sisi ia butuh pendapatan daerah, di sisi lain ia menyaksikan bagaimana rakusnya eksploitasi bisa melukai lingkungan dan masyarakat adat.

Ia kerap berada di tengah negosiasi alot antara investor dan para kepala suku. Pendekatan dialog lebih ia pilih ketimbang konfrontasi. Hasilnya belum sempurna, namun sejumlah investasi baru akhirnya menyertakan klausul kemitraan dengan pengusaha lokal dan dana pengembangan masyarakat yang lebih konkret.

Tantangan lain adalah polarisasi politik pasca-pilkada. Luka perpecahan di tingkat akar rumput masih terasa. Kambu mencoba merangkul dengan membentuk semacam dewan adat lintas daerah yang difungsikan sebagai jembatan komunikasi informal antara pemerintah dan komunitas adat.

Manusia di Balik Jabatan

Orang-orang dekatnya menyebut Kambu sebagai pribadi yang tenang namun keras dalam prinsip. Ia bukan tipe pemimpin yang meledak-ledak di podium. Diplomasi ruang tamu lebih menjadi gayanya—duduk bersama, mendengar, lalu memutuskan. Di sela-sela kesibukan, ia masih menyempatkan diri mengunjungi sekolah-sekolah dan berbincang langsung dengan guru dan murid, seolah kembali ke akarnya.

Namun

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User