Senyum Warga Simpang Tiga Sambut Gerakan Pangan Murah
Pagi itu, Rabu (8/7), halaman Kantor Camat Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar, berubah menjadi lautan manusia. Deru suara antrean bercampur tawa kecil para
Pagi itu, Rabu (8/7), halaman Kantor Camat Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar, berubah menjadi lautan manusia. Deru suara antrean bercampur tawa kecil para ibu yang berharap. Sejak pukul 09.00 WIB, ratusan warga sudah memadati lokasi. Mereka datang bukan untuk berdesak-desakan tanpa alasan—melainkan demi sepaket bahan pokok bersubsidi yang harganya jauh lebih bersahabat dari harga pasar.
Awal Mula Antusiasme
- Hembusan angin pagi masih terasa ketika warga mulai berdatangan dengan langkah sigap. Beberapa membawa tas anyaman, yang lain menggenggam erat lembaran uang pas.
- “Saya sudah jam delapan di sini, takut kehabisan,” celetuk seorang ibu paruh baya sambil menyeka peluh. Ia mengaku mendengar kabar dari tetangganya tadi subuh. Kabar itu menyebar cepat seperti api di musim kering.
- Panitia membuka secara simbolis kegiatan yang dihadiri Sekretaris Camat Simpang Tiga, Mirza Fahlevi, SE, didampingi Wakapolsek Simpang Tiga, Aiptu Mukhtar. Senyum lega langsung merekah begitu pintu pendaftaran dibuka.
Subsidi yang Mengangkat Beban
Gerakan Pangan Murah ini adalah napas kolaborasi antara Dinas Pangan Kabupaten Aceh Besar, Perum Bulog Kantor Wilayah Aceh, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bank Indonesia, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Mirza Fahlevi menyampaikan rasa syukurnya atas kepercayaan yang kembali diberikan. “Kami berharap ini bukan yang terakhir. Program ini sungguh menolong warga kami,” ucapnya, dan kata-katanya disambut anggukan penuh makna dari para penerima manfaat.
Koordinator Lapangan Dinas Pangan Aceh Besar, Nurbayani SP MP, menjelaskan bahwa sebanyak 300 paket pangan bersubsidi disediakan khusus untuk warga Kecamatan Simpang Tiga. Setiap paket dijual seharga Rp215.000, dengan isi yang menggiurkan: satu papan telur, beras 5 kilogram, minyak goreng 2 kilogram, gula pasir 2 kilogram, cabai merah setengah kilogram, serta bawang merah setengah kilogram. “Subsidi ini ibarat oase di tengah harga yang terus berubah,” kata Nurbayani menyederhanakan misinya.
Cerita Juariah, dari Gelisah ke Lega
Di sudut antrean, tampak Juariah, warga Gampong Batee Linteng. Tangannya gemetar ketika akhirnya menerima satu paket. “Biasanya belanja segini bisa habis tiga ratus ribu lebih. Sekarang, saya bisa menyimpan sisa uang untuk beli buku anak,” tuturnya dengan mata berkaca. Ia bukan satu-satunya. Para perempuan lain saling bersitatap dan melempar senyum—sebuah bahasa universal yang lebih lantang dari kata-kata.
Gerakan ini bukan sekadar bazar murah, melainkan bukti nyata bahwa di balik kebijakan makro, ada denyut keseharian yang terbantu. Stabilitas harga dan daya beli bukan hanya angka di layar, melainkan cerita manusia seperti Juariah yang kini bisa pulang dengan kantong lebih ringan dan hati lebih lapang.
Comments (0)