Nando Hilmi Curhat Perjuangan di Balik Layar Lastri
Malam itu, lampu-lampu sorot menghiasi kawasan Senayan, Jakarta Selatan, menandai sebuah perhelatan yang tak biasa. Di tengah riuh tepuk tangan dan kilatan kamera, seorang pria berwajah tenang melangk...
Malam itu, lampu-lampu sorot menghiasi kawasan Senayan, Jakarta Selatan, menandai sebuah perhelatan yang tak biasa. Di tengah riuh tepuk tangan dan kilatan kamera, seorang pria berwajah tenang melangkah perlahan. Dialah Nando Hilmi, salah satu pemeran dalam film Lastri: Arwah Kembang Desa, yang malam itu hadir di gala premier untuk berbagi kisah lebih dalam tentang perjalanannya membangun karakter.
Duduk di kursi empuk ruang wawancara, Nando tak kuasa menahan senyum. "Malam ini, seperti mimpi yang menjadi nyata," tuturnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Film ini bukan sekadar proyek, ini adalah sebuah persembahan dari hati untuk semua yang pernah merasa kehilangan." Matanya menerawang, seolah mengingat kembali setiap momen pengambilan gambar yang penuh makna.
Di Balik Karakter yang Menyentuh
Bukan perkara mudah, kata Nando, untuk menyelami sosok yang ia perankan. Sebuah karakter dari desa yang memiliki ikatan mendalam dengan dunia arwah. "Saya harus belajar memahami rasa takut, kerinduan, dan cinta dalam bentuk yang paling purba," kenangnya. Ia bahkan rela mengisolasi diri di sebuah dusun kecil di Jawa Tengah selama hampir sebulan sebelum syuting dimulai. Di sana, ia mendengarkan cerita para sesepuh desa tentang mitos arwah penjaga kampung, dan bagaimana warga setempat memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai transisi.
"Ada satu momen ketika saya benar-benar menangis tanpa direncanakan. Itu terjadi saat adegan di dekat pohon beringin tua. Saya seperti merasakan kehadiran yang tak kasat mata, dan itu sangat mengharukan."
Proses tersebut, diakuinya, membantunya membangun kepekaan yang lebih dalam terhadap naskah dan emosi yang ingin disampaikan sutradara. Nando menekankan bahwa film ini berusaha mengangkat bagaimana masyarakat tradisional menghormati leluhur dan yang belum terlihat.
Momen Haru di Atas Karpet Merah
Di atas karpet merah, Nando tampak lebih banyak diam. Sesekali ia melambaikan tangan, tetapi matanya sering kali berkaca-kaca. Terutama saat melihat cuplikan adegan yang diputar di layar lebar sebelum sesi wawancara dimulai. "Itu bukan bangga karena saya tampil, tapi lebih karena saya merasa film ini berhasil mengingatkan kita tentang akar budaya yang mulai terlupakan," ungkapnya lirih.
Sejumlah tamu undangan pun ikut terpukau. Salah satu adegan yang paling menyedot perhatian adalah ketika tokoh Lastri—diperankan oleh aktris pendatang baru—berdialog dengan arwah di bawah cahaya bulan purnama. Nando, yang memerankan sahabat Lastri, menjadi jembatan emosi dalam adegan itu. "Banyak yang datang ke saya setelah pemutaran dan berkata mereka langsung teringat pada nenek atau kakek mereka yang sudah tiada," kata Nando.
Tak hanya dari segi cerita, film ini juga diperkuat oleh iringan musik tradisional yang menyayat hati. Nando mengaku setiap kali mendengar alunan gamelan yang diciptakan khusus untuk adegan tertentu, bulu kuduknya kembali berdiri. "Musik itu seperti menghidupkan kembali roh desa yang telah lama diam," ujarnya sambil tersenyum getir.
Pesan untuk Generasi Muda
Di tengah dominasi film-film urban, Lastri: Arwah Kembang Desa hadir sebagai napas segar yang membawa penonton kembali ke kampung halaman. Nando berharap, lewat film ini, generasi muda dapat lebih menghargai warisan cerita rakyat yang sarat makna. "Saya ingin anak-anak muda tidak malu mengakui bahwa kita punya hubungan batin dengan alam dan leluhur. Itu bukan klenik, itu bagian dari identitas kita sebagai bangsa," tegasnya.
Menjelang akhir wawancara, Nando menyempatkan diri berbagi kisah tentang salah satu penggemarnya. Seorang ibu paruh baya yang sudah kehilangan putrinya setahun lalu, menghampirinya seusai pemutaran khusus beberapa hari sebelumnya. Ibu itu menangis dan berkata bahwa film ini membuatnya yakin sang putri tetap menjaganya dari alam lain. "Dari situ saya sadar, film ini bukan untuk saya, bukan untuk box office, tapi untuk hati-hati yang sedang berduka dan mencari penghiburan," ucap Nando dengan suara hampir berbisik.
Saat ditanya tentang rencana selanjutnya, Nando hanya tersenyum. "Setelah ini, saya ingin rehat sejenak. Pulang kampung, menemui ibu, dan mungkin mendengarkan cerita-cerita lama yang mungkin masih tersimpan di sana," tutupnya penuh arti.
Malam itu, di tengah gemerlap Jakarta, Nando Hilmi membawa pulang bukan hanya tepuk tangan, melainkan juga keyakinan bahwa setiap jiwa memiliki kisah yang layak diceritakan—bahkan yang sudah tiada sekalipun. Film Lastri: Arwah Kembang Desa mungkin hanya sebuah proyek di atas kertas, tetapi bagi Nando dan banyak orang, ini adalah surat cinta yang terkirim ke masa lalu.
Baca juga:
Comments (0)