Elly Sugigi Oplas Hidung dan Mata: Kisah dan Biayanya
Di balik tirai jendela kamar yang sedikit temaram, Elly Sugigi menatap cermin dengan senyum tipis yang baru pertama kali ia rasakan. Bekas jahitan di sudut hidung dan kelopak matanya masih terlihat, n...
Di balik tirai jendela kamar yang sedikit temaram, Elly Sugigi menatap cermin dengan senyum tipis yang baru pertama kali ia rasakan. Bekas jahitan di sudut hidung dan kelopak matanya masih terlihat, namun alih-alih cemas, ada lega yang membuncah. “Aku sudah lama ingin melakukan ini, tapi baru sekarang ada keberanian,” ucapnya lirih. Keputusan untuk menjalani operasi plastik pada hidung dan mata bukanlah semata mengikuti tren selebritas, melainkan puncak dari pergulatan panjang tentang rasa percaya diri yang kerap goyah di bawah sorotan publik.
Bukan Sekadar Estetika
Bagi Elly, panggung hiburan adalah rumah keduanya, tapi juga menjadi ruang yang paling tajam mengkritik fisik. Sejak lama ia merasa bentuk hidungnya yang sedikit lebar dan kelopak mata yang turun membuat penampilannya kurang segar di kamera. Bukan sekali dua kali ia membaca komentar pedas netizen tentang wajahnya. “Di dunia ini, orang lebih dulu melihat fisik sebelum mendengar isi hati,” katanya dengan nada getir. Namun, keinginan untuk mengubah penampilan tidak datang dari komentar negatif semata. Lebih dari itu, Elly ingin memberi hadiah untuk dirinya sendiri—sebuah bentuk cinta setelah bertahun-tahun berjuang sebagai single parent dan seniman yang kerap dipandang sebelah mata.
Prosedur ini, jelasnya, adalah bagian dari perjalanan menerima diri. Ia tidak ingin terjebak dalam standar kecantikan yang semu, melainkan ingin menonjolkan versi terbaik dari dirinya. “Aku tetap Elly yang dulu. Hidungku mungkin lebih mancung, mataku lebih terbuka, tapi hati dan semangatku tidak berubah. Malah makin kuat,” ungkapnya sambil tertawa kecil. Di sinilah titik balik itu terjadi—sebuah keputusan yang lahir dari ruang perenungan, bukan tekanan.
Di Balik Pintu Ruang Operasi
Langkah Elly menuju klinik kecantikan di kawasan Jakarta Selatan disambut oleh tim dokter yang sudah dikenalnya melalui konsultasi intensif selama tiga bulan. Ia memilih untuk melakukan rhinoplasty pada hidung dan blepharoplasty pada kelopak mata atas agar hasilnya tampak alami. “Dokter bilang, jangan sampai wajahku jadi seperti orang lain. Harus tetap ada ciri khas Elly,” kenangnya. Operasi berlangsung sekitar empat jam dengan persiapan mental yang tidak main-main. Elly mengaku sempat gemetar saat jarum bius pertama masuk, namun ia mengingat wajah anak-anaknya di rumah—dan itu cukup untuk menguatkan.
Biaya yang dikeluarkan untuk kedua prosedur tersebut mencapai angka yang tidak sedikit. Elly sendiri enggan menyebut nominal pasti, namun sumber di lingkarannya mengungkapkan bahwa ia menghabiskan sekitar Rp85 juta untuk seluruh prosedur, termasuk konsultasi, obat, dan perawatan pascaoperasi. “Uang bukan segalanya. Ini soal investasi untuk kebahagiaan batin,” ucap Elly bijak. Di tengah pemulihan yang menuntutnya beristirahat selama dua pekan, dukungan keluarga menjadi penghangat. Anak-anaknya kerap bergantian membuatkan bubur hangat dan menyemangati agar sang ibu tetap sabar melewati masa bengkak dan lebam.
Air Mata dan Senyum Baru
Momen paling mengharukan terjadi saat perban pertama dibuka. Dengan tangan bergetar, Elly kembali menatap cermin, kali ini dengan refleksi wajah yang sedikit berbeda. “Aku nangis. Bukan karena sakit, tapi karena aku merasa akhirnya bisa jatuh cinta pada bayangan sendiri,” katanya. Bukan perubahan drastis yang ia dapat, melainkan penyempurnaan kecil yang justru membuatnya tampak lebih segar dan muda. Rekan-rekan artis pun memberikan pujian, namun yang lebih penting adalah bagaimana Elly kini merasa lebih berani tampil di depan publik tanpa keraguan.
Kisah Elly Sugigi mengajarkan bahwa transformasi fisik bisa menjadi jalan untuk menyembuhkan luka batin yang lama dipendam. Ia tidak lagi bersembunyi di balik riasan tebal atau sudut kamera yang aman. Di usianya yang kini memasuki 46 tahun, Elly justru menemukan versi dirinya yang lebih utuh. “Aku cuma ingin bilang ke orang-orang, jangan takut berubah kalau itu demi kebaikanmu. Tapi pastikan kamu melakukannya karena cinta, bukan karena benci pada diri sendiri,” pesannya menutup perbincangan sore itu. Dari ruangan sederhana itulah sebuah babak baru dimulai—bukan dengan wajah sempurna, melainkan dengan hati yang jauh lebih lapang.
Baca juga:
Comments (0)