Sehari Menjadi Petugas Stasiun: Kisah dari Balik Seragam Kecil
Denting suara bel perlintasan berpadu dengan deru mesin yang mulai menderu. Di sudut Stasiun Cirebon, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun menarik napas panjang. Tangannya yang masih mungil c...
Denting suara bel perlintasan berpadu dengan deru mesin yang mulai menderu. Di sudut Stasiun Cirebon, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun menarik napas panjang. Tangannya yang masih mungil coba meniru gerakan tegas petugas stasiun: mengangkat tongkat sinyal, kemudian mengayunkannya perlahan, memberi isyarat bahwa kereta siap diberangkatkan. Binar di matanya tak bisa disembunyikan—hari itu, ia bukan lagi sekadar pemimpi yang hanya memandangi kereta dari balik pagar. Namanya Raka, dan inilah cerita tentang pagi yang akan selalu diingatnya.
Ketika Mimpi Bertemu Rel
Kecintaan Raka pada kereta api berawal dari sebuah mainan kayu pemberian sang kakek. Sejak saat itu, kamarnya dipenuhi gambar lokomotif, buku tentang sejarah perkeretaapian, dan tiket-tiket usang yang ia kumpulkan dari setiap perjalanan. Namun, seperti banyak anak sebayanya, ia hanya bisa menonton dari kejauhan: melihat petugas berseragam rapi mondar-mandir di peron, mendengar suara peluit yang tegas, tapi tak pernah benar-benar menyentuh dunia itu. Hingga suatu hari, ibunya menemukan sebuah program yang akan mengubah segalanya.
Program itu, yang digagas oleh PT Kereta Api Indonesia, ibarat sebuah undangan ajaib: anak-anak diajak untuk tidak hanya melihat, tetapi benar-benar terjun langsung ke peran petugas stasiun selama satu hari. Bukan sekadar tur biasa, melainkan sebuah pengalaman menyeluruh yang melibatkan seragam, perangkat kerja, dan tugas-tugas autentik. Bagi Raka, ini adalah jawaban atas doa-doanya yang paling dalam.
Langkah Kecil di Antara Rel Besar
Pagi itu, Raka tiba di Stasiun Cirebon bersama belasan anak lain yang memiliki antusiasme serupa. Mereka disambut oleh para petugas senior yang ramah, yang segera membagikan seragam mini—lengkap dengan topi dan papan nama. Raka memandangi seragam biru itu dengan takjub, seolah sedang menerima baju tempur seorang pahlawan. “Ini rasanya seperti mimpi,” bisiknya pelan pada ibunya sebelum melangkah ke area yang sebelumnya hanya bisa ia pandangi dari balik kaca.
Kegiatan dimulai dengan pengenalan tentang keselamatan di stasiun: bagaimana cara berdiri di belakang garis kuning, pentingnya tidak menyeberang rel sembarangan, dan arti setiap bunyi sirene. Namun, bagian yang paling dinanti tiba ketika mereka diajak masuk ke ruang kendali—sebuah ruangan penuh tombol dan layar monitor yang menampilkan posisi kereta secara langsung. Di sana, mata Raka membelalak. Ia bahkan diizinkan untuk mengumumkan jadwal keberangkatan melalui pengeras suara, suaranya yang masih cadel menggema ke seluruh stasiun: “Kereta Argo Bromo Anggrek tujuan Jakarta akan segera tiba di jalur dua.” Para penumpang mungkin tak menyadari bahwa yang berbicara adalah seorang bocah yang sedang memegang mik dengan tangan gemetar—namun bagi Raka, momen itu tak ternilai.
Tugas berikutnya adalah membantu pemeriksaan tiket di pintu masuk. Dengan sigap, Raka memindai kode batang dari ponsel seorang penumpang, lalu mengucapkan “Selamat jalan, Bu,” dengan senyum lebar. Sang ibu penumpang sempat tertawa kecil, tapi segera membalas dengan senyuman hangat. Petugas pendamping yang mengawasi Raka, Pak Haris, berbisik, “Anak ini punya bakat melayani.” Raka mendengarnya, dan dadanya mengembang bangga.
Pelajaran yang Tertinggal di Ujung Rel
Menjelang siang, saat matahari mulai meninggi, sesi terakhir menjadi yang paling emosional. Anak-anak diajak ke peron untuk menyaksikan proses pemberangkatan kereta secara langsung, dan satu per satu dari mereka diberi kesempatan untuk memegang tongkat sinyal dan memberi aba-aba. Saat giliran Raka, ia berdiri di titik yang sudah ditentukan. Suara peluit panjang dari masinis menyahut, dan dengan segenap konsentrasi ia mengayunkan tongkat itu. Kereta pun bergerak, perlahan meninggalkan stasiun. Raka terus menatapnya hingga rangkaian terakhir menghilang di tikungan, lalu menunduk sambil mengusap sudut matanya. “Aku mau lagi, Bu,” ujarnya pada sang ibu yang memeluknya.
Program yang awalnya hanya bertujuan edukatif ternyata menyisakan jejak mendalam. Bagi banyak orang tua, perubahan terjadi justru setelah hari itu. Anak-anak menjadi lebih menghargai pekerjaan petugas layanan publik, lebih paham arti disiplin, dan yang terpenting, mereka membawa pulang sebuah keyakinan bahwa tak ada mimpi yang terlalu tinggi. Ibu Raka mengisahkan, “Sejak ikut program itu, Raka jadi lebih rajin belajar. Dia bilang ingin jadi masinis, dan matematika itu penting supaya bisa menghitung kecepatan kereta. Saya hampir menangis mendengarnya.”
Di balik kesederhanaannya, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa kecintaan pada transportasi publik harus ditanamkan sejak dini. Bukan melalui ceramah atau iklan, melainkan dengan menyentuh hati anak-anak secara langsung. Mereka tak hanya melihat kereta sebagai benda besar yang melintas, tetapi juga sebagai urat nadi yang menghubungkan kota-kota, digerakkan oleh orang-orang berdedikasi yang kerap tak terlihat. Ketika seorang anak kecil berkata, “Aku ingin seperti mereka,” di situlah benih-benih masa depan mulai disemai.
Kini, jika Anda suatu hari melintas di Stasiun Cirebon dan mendengar pengumuman dengan suara yang sedikit berbeda—mungkin agak ragu, tapi penuh semangat—bisa jadi itu adalah salah satu peserta dari program yang tak hanya mendekatkan anak pada kereta, tetapi juga pada arti sebuah panggilan. Rel memang terbuat dari baja, namun kisah semacam ini membuktikan bahwa ia mampu menghangatkan hati yang paling kecil sekalipun.
Baca juga:
Comments (0)