Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — Ma’ruf Cahyono Buka-bukaan Usai Kenakan Rompi Oranye KPK

Sore itu, langit Jakarta Selatan masih menyisakan semburat jingga ketika Ma’ruf Cahyono berjalan keluar dari lobi Gedung Merah Putih KPK. Langkahnya tetap

Jul 09, 2026 - 19:06
0 0

Sore itu, langit Jakarta Selatan masih menyisakan semburat jingga ketika Ma’ruf Cahyono berjalan keluar dari lobi Gedung Merah Putih KPK. Langkahnya tetap terukur, roman mukanya tenang, meski tangan terborgol dan tubuhnya terbungkus rompi tahanan—warna jingga menyala yang selama ini jadi simbol keterkejutan para pesakitan korupsi. Mantan Sekretaris Jenderal MPR RI periode 2019–2021 itu tampak sejenak memandangi kerumunan awak media yang sudah menanti sejak siang. Lalu, dengan suara yang tak meninggi, ia menyampaikan pengakuannya.

“Saya sudah jelaskan semuanya, supaya terang,” katanya, Kamis (9/7) petang.

Kalimat itu singkat, mirip mantra seorang yang ingin menutup babak kelam dengan kejujuran. Tapi di balik ketenangannya, terbersit tanda tanya besar: apa sebenarnya yang sudah ia terangkan? Dan mengapa pengakuan itu baru keluar setelah ia resmi mengenakan rompi tahanan?

Panggung Keterbukaan di Gerbang Tahanan

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 16.07 WIB, saat penyidik menggiring Ma’ruf keluar gedung KPK menuju mobil tahanan. Beberapa menit sebelumnya, ia masih diperiksa secara intensif terkait dugaan penerimaan gratifikasi di lingkungan MPR. Kasus yang menjerat namanya berpusat pada pengadaan barang dan jasa di Sekretariat Jenderal MPR—sebuah pusaran dana yang diduga melibatkan sejumlah pejabat tinggi.

“Banyak hal tadi sudah saya jelaskan,” ucapnya lagi, ketika wartawan coba mendesak lebih jauh soal dugaan perjalanan fiktif dan setoran dana ke Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR.

Ia tak merinci. Tapi gesturnya justru lebih banyak bicara. Di bawah tatapan para jurnalis yang haus kutipan, Ma’ruf justru memilih menyerahkan sepenuhnya nasib hukumnya kepada KPK. Sebuah sikap yang bisa dibaca sebagai pasrah, atau justru strategi: membiarkan lembaga antirasuah yang bicara lewat fakta dan data, bukan lewat pernyataan-pernyataan dramatis di depan kamera.

Di Antara Rompi Oranye dan Ingatan yang Ingin Diterangkan

Untuk memahami apa yang sejatinya tengah “diterangkan” oleh Ma’ruf, kita perlu menelisik jejak kasus ini. Sejak akhir masa jabatannya di MPR, isu penyalahgunaan kewenangan dalam pengadaan barang dan jasa memang sudah berembus kencang. Ma’ruf diduga kuat menerima aliran dana dari sejumlah proyek di Sekretariat Jenderal, termasuk yang berkaitan dengan perjalanan dinas fiktif.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Andi Pratama, yang kerap mengikuti kasus-kasus korupsi di lingkungan parlemen, menyebut sikap Ma’ruf sebagai “petisi moral” yang menyisakan banyak tanya.

“Ketika seorang pejabat tinggi bilang ‘supaya terang’, sebenarnya dia sedang mencoba membangun narasi bahwa dirinya kooperatif. Tapi publik perlu tahu, apakah keterangan itu memang membongkar seluruh jaringan, atau hanya mengamankan diri sendiri?” ujar Andi.

Pertanyaan Andi bukan tanpa alasan. Kasus yang menjerat Ma’ruf sangat mungkin melibatkan lebih banyak aktor. Fakta bahwa dirinya adalah Sekjen MPR—posisi strategis yang mengendalikan operasional kesekretariatan—membuat dugaan aliran dana gratifikasi ini sulit dikesampingkan sebagai ‘penyimpangan personal’. KPK sendiri menjadwalkan konferensi pers pada hari yang sama, mengisyaratkan bahwa pengumuman resmi tentang status dan bukti-bukti kasus ini akan segera disampaikan.

Senyap di Kerumunan, Riuh di Ingatan Publik

Pukul 16.10 WIB, pintu mobil tahanan tertutup rapat. Ma’ruf sudah di dalam, bersama rompi oranye yang menyisakan banyak makna. Sorot kamera masih setia mengikutinya. Tapi tak ada lagi kalimat yang keluar. Senyap. Hanya suara rana kamera yang beradu cepat, seolah ingin merekam monumen terbaru dari perjalanan seorang pejabat negara yang terpakasa menukar setelan jasnya dengan baju tahanan.

Bagi warga biasa, yang hanya bisa menonton dari layar ponsel, sosok Ma’ruf sore itu menyajikan paradoks yang getir. Ia yang dulu duduk di ruang-ruang tinggi parlemen, kini dipersilakan masuk ke ruang interogasi. Ia yang dahulu mengawal konstitusi, kini harus berjuang menjaga martabatnya di hadapan penyidik. “Supaya terang,” begitu kata Ma’ruf. Tapi terang bagi siapa? Untuk dirinya sendiri, untuk KPK, atau untuk sebuah negeri yang sudah terlalu sering disuguhi pemandangan serupa: pejabat berseragam oranye, meninggalkan gedung KPK dengan sejuta janji akan kejujuran yang baru terucap setelah tertangkap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User