Langit siang di Kampus IV UPGRIS, Jalan Gajah Raya, Semarang, terasa lebih
Momen-momen seperti inilah yang diharapkan oleh Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo ST MT. Baginya, lomba komik strip melampaui trofi dan sertifikat. “Bukan se
Momen-momen seperti inilah yang diharapkan oleh Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo ST MT. Baginya, lomba komik strip melampaui trofi dan sertifikat. “Bukan sekadar menentukan siapa yang berdiri sebagai pemenang, tetapi ruang aktualisasi diri, ruang pembelajaran, ruang kolaborasi, dan ruang perjumpaan berbagai kreativitas mahasiswa,” tuturnya pada pembukaan acara. Kalimat itu bergema di aula, menegaskan bahwa panitia sengaja merancang lomba agar menjadi panggung aman bagi mahasiswa untuk menampilkan keresahan, harapan, dan mimpi-mimpi mereka dalam bentuk visual.
Acara yang berlangsung pada 3 hingga 5 Juli 2026 ini diikuti oleh wakil kampus dari lintas wilayah, mulai dari UPGRIS sendiri, Binus, Unimus, Unnes, Amikom, hingga ISI Surakarta. Keberagaman asal peserta justru memperkaya tema yang diangkat, dari kritik sosial halus, isu lingkungan, sampai kesehatan mental. Maria Ulfa, Ketua Panitia Komik Strip 2026, menjelaskan bahwa pendaftaran telah dibuka sejak 23 Mei hingga 23 Juni 2026. Peserta bisa mengirim karya dalam format web toon, tayangan Instagram hingga 10 slide, atau media cetak A4. “Kami tidak ingin membatasi kreativitas mereka. Media digital atau konvensional sama-sama punya kekuatan naratif,” ujar Maria.
Saat pengumuman penilaian, panitia memaparkan bobot kriteria dengan rinci: kesesuaian tema 15%, komunikatif 25%, penguasaan teknis visualisasi 30%, serta keunikan dan orisinalitas 30%. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan bahwa panitia sangat menghargai orisinalitas ide dan kemampuan menyampaikan pesan secara efektif. Para juri terlihat larut dalam diskusi hangat ketika menilai komik yang mengangkat kisah petani lokal versus alih fungsi lahan—sangat kontekstual dan menyentuh.
Lebih dari Sekadar Hard Skill: Lomba Komik Sebagai Ruang Tumbuh Emosi dan Sosial
Di tengah gempuran tuntutan akademik, mahasiswa kerap kehilangan kesempatan mengasah sisi humanis mereka. Dr. Sapto Budoyo menekankan bahwa penghasilan seseorang tidak hanya didukung dari sisi akademik, tetapi juga kemampuan di luar akademik. “Melalui kegiatan ini, bakal lahir calon kreator masa depan Indonesia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” sambungnya. Keyakinan ini didukung oleh para pembimbing dari berbagai kampus yang melihat perubahan nyata pada peserta didiknya. Salah satu dosen pendamping dari UKSW, yang enggan disebut namanya, mengamati bahwa mahasiswa yang semula pendiam menjadi lebih percaya diri setelah mengerjakan proyek komik. “Mereka belajar menerima kritik, merevisi karya, dan mempertahankan ide dalam waktu bersamaan. Itu latihan mental yang mahal,” katanya.
Menurut Dr. Arini, psikolog pendidikan yang telah meneliti dampak seni pada perkembangan remaja, kegiatan berbasis kreativitas seperti komik strip berfungsi sebagai katarsis emosional. “Ketika mahasiswa menuangkan kegelisahan ke dalam panel-panel gambar, terjadi proses reframing—mereka melihat masalah dari sudut berbeda, dan itu mengurangi tekanan psikologis,” jelasnya. Pengamatannya senada dengan data internal panitia yang mencatat banyak peserta mengangkat isu personal seperti perundungan, kehilangan, dan pencarian jati diri.
| Aspek | Hard Skill (Akademik) | Soft Skill (Lomba Komik) |
|---|---|---|
| Pengetahuan | Teori, rumus, teknis bidang studi | Narasi visual, storytelling, teknis menggambar |
| Kemampuan | Ujian, tugas individu | Kolaborasi, menerima umpan balik, manajemen waktu |
| Dampak | Indeks prestasi, ijazah | Kepercayaan diri, empati, jejaring kreatif nasional |
Lomba ini juga menjadi kendaraan menuju Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2026. Para pemenang—Juara 1, 2, 3, serta Harapan 1, 2, dan 3—akan mewakili daerah untuk bertanding di level lebih tinggi. Namun, bagi banyak peserta, eskalasi ke jenjang nasional hanyalah bonus. “Saya bertemu teman-teman yang satu frekuensi, kami bertukar akun media sosial dan berencana bikin proyek kolaborasi. Koneksi ini yang tak ternilai,” ujar Rizky, peserta dari Unissula, saat jeda istirahat.
Peksimida 2026 di UPGRIS membuktikan bahwa komik tak lagi dipandang sebelah mata sebagai hiburan ringan. Ia menjelma menjadi medium yang merawat kesehatan mental, menjembatani komunikasi antargenerasi, dan merayakan keragaman ekspresi. Seperti kata Dinda di akhir sesi penilaian, “Komik saya mungkin tidak sempurna secara teknis, tapi saya sudah menang karena berani bercerita.” Di Kampus IV sore itu, kemenangan sejati memang bukan sekadar piala, melainkan keberanian untuk bersuara.
Comments (0)