Irjen Pol. Andi Rian Ryacudu Djajadi: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Selatan
Irjen Pol. Andi Rian Ryacudu Djajadi: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Selatan
Pagi itu, sinar matahari jatuh miring di atas tumpukan berkas di meja kerja Irjen Pol. Andi Rian Ryacudu Djajadi. Di dinding, peta besar Sumatera Selatan tertancap puluhan pin berwarna. Ada yang menandai titik rawan kebakaran hutan, ada yang menunjuk jalur distribusi narkoba, dan beberapa lainnya adalah lokasi konflik agraria yang belum tuntas. Di tengah peta itu, seolah menjadi pusat gravitasi, tertulis dalam spidol hitam: "Jangan hanya hadir, tapi dirasakan."
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Bagi Andi Rian, ia adalah mantra kerja yang dibawanya sejak masih menjadi ajudan Presiden Joko Widodo. Tujuh tahun di lingkungan istana mengajarinya bahwa kekuasaan tanpa kehadiran adalah fatamorgana. Dan ketika pada November 2024 ia dilantik sebagai Kapolda Sumatera Selatan, pelajaran itu langsung ia taruh di atas meja—bersama peta, berkas, dan secangkir kopi pahit yang selalu menemani.
Lelaki dari Tanah Bugis
Andi Rian lahir di Makassar pada 2 Agustus 1970. Darah Bugis mengalir dalam nadinya, dan mungkin dari sanalah ia mewarisi keteguhan yang nyaris keras kepala. Lulusan Akademi Kepolisian 1994 ini memulai karier dari bawah: perwira pertama di Polda Nusa Tenggara Barat, lalu perlahan merangkak naik—Kanit Resintel Polsek, Kapolsek, Kasat di jajaran kriminal, hingga akhirnya menjadi salah satu perwira menengah paling disegani di Korps Bhayangkara.
Namun, titik balik hidupnya terjadi pada 2014. Presiden Jokowi memilihnya sebagai ajudan. Lima tahun ia berdiri di belakang orang paling berkuasa di republik ini. Ia menyaksikan bagaimana keputusan-keputusan besar diambil, bagaimana tekanan politik dikelola, dan bagaimana ketenangan seorang pemimpin bisa meredakan badai. Di sanalah Andi Rian belajar bahwa polisi bukan sekadar penegak hukum, melainkan juga perawat ketertiban sosial.
Dari Istana ke Lapangan
Meninggalkan Istana, karier Andi Rian melesat. Ia menjabat Kapolrestabes Makassar, lalu Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya—posisi yang menggodoknya dalam pusaran kasus-kasus besar: dari pembunuhan berencana hingga kejahatan siber. Di sinilah ia dikenal sebagai perwira yang senang turun langsung ke TKP, memegang alat bukti dengan tangannya sendiri, dan mewawancarai saksi hingga larut malam.
"Saya tidak bisa membuat keputusan hanya dari laporan. Saya harus melihat, mendengar, dan merasakan sendiri," katanya suatu kali kepada anak buahnya yang kelelahan mengikuti ritme kerjanya.
Sebelum akhirnya memimpin Polda Sumsel, Andi Rian sempat menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah dan kemudian Sahlisosbud Kapolri. Di setiap pos itu, ia meninggalkan jejak yang sama: pendekatan humanis yang dibalut ketegasan tanpa kompromi.
Sumatera Selatan dan Pekerjaan Rumah yang Menumpuk
Ketika tiba di Palembang, Andi Rian langsung dihadapkan pada realitas yang berat. Sumatera Selatan adalah provinsi dengan kompleksitas tinggi: kebakaran hutan dan lahan yang hampir selalu menjadi bencana tahunan, peredaran narkoba yang melibatkan jaringan internasional, serta konflik lahan yang kerap berubah menjadi kekerasan massal. Belum lagi angka kecelakaan lalu lintas di jalan lintas timur yang terus merenggut nyawa.
Namun, alih-alih mengurung diri di ruang kerja, ia justru memulai "turun gunung" ke seluruh polres jajaran. Dalam tiga bulan pertama, ia mengunjungi 17 polres dan puluhan polsek. Ia duduk bersama petugas paling bawah, bertanya tentang beban kerja mereka, dan mencatat setiap keluhan dengan tangan sendiri. Dari perjalanan itu, lahirlah tiga program prioritas yang menjadi penanda kepemimpinannya: Operasi Antik untuk memberantas narkoba, Polisi Sahabat Petani untuk meredakan konflik agraria, dan Jalan Lancar Sumsel yang fokus pada keselamatan berkendara.
Hasilnya mulai terlihat. Sepanjang 2025, Operasi Antik berhasil mengungkap 1.200 kasus narkoba dengan barang bukti sabu seberat 45 kilogram dan ekstasi 12.000 butir. Angka ini naik 30% dari tahun sebelumnya, menandakan intensifikasi pemberantasan yang digerakkan Andi Rian. Sementara itu, program Polisi Sahabat Petani berhasil memediasi 17 kasus konflik lahan tanpa satu pun berakhir dengan kekerasan. Di bidang lalu lintas, angka fatalitas kecelakaan di jalur lintas timur turun 18% berkat pemasangan rambu digital dan peningkatan patroli malam.
Luka dan Harapan di Balik Lencana
Di balik semua capaian itu, Andi Rian menyimpan satu kegelisahan. Ia tahu, polisi seringkali datang terlambat. Ketika kebakaran hutan sudah membesar, barulah aparat turun. Ketika konflik lahan sudah memakan korban, barulah mediasi dilakukan. Maka, di bawah komandonya, Polda Sumsel mulai membangun sistem deteksi dini berbasis komunitas. Ia merekrut tok
Comments (0)