Aug 25, 2026
Politik

Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Utara

Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Utara

Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto: Profil dan Kinerja Kapolda Sumatera Utara

Sebuah foto yang beredar di kalangan pewarta kepolisian Sumatera Utara pada awal tahun 2026 lalu bercerita lebih banyak daripada setumpuk laporan kinerja. Dalam foto itu, tampak seorang pria dengan tiga bintang di pundak sedang jongkok di tepi sebuah parit kecil di kawasan Medan Belawan. Tangannya yang biasa memegang kendali pasukan besar, justru tengah sibuk mengeluarkan selembar kertas kusam dari saku celana lapangannya, mencatat nama-nama warga yang antre mendapatkan air bersih. Pria itu adalah Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto, Kapolda Sumatera Utara. Gestur sederhana itu seolah menjadi metafora bagi gaya kepemimpinannya yang jarang ditemui: mengakar ke bawah, detil, dan menolak untuk sekadar duduk di balik meja kaca.

Bagi sebagian besar aparat di jajaran Polda Sumut, nama Whisnu adalah sinonim dari disiplin yang membuat gentar, namun juga kehangatan yang membingkai. Sosoknya kerap digambarkan sebagai paradoks yang menyenangkan: seorang jenderal polisi yang pandai merangkai diksi puitis ketika berbicara tentang kota Medan yang plural, namun seketika raut wajahnya mengeras baja begitu menyentuh perkara narkotika dan kejahatan transnasional. Dilahirkan dari keluarga sederhana, perjalanan karier pria kelahiran tahun 1972 ini adalah lukisan panjang tentang ketekunan akademik dan kegemilangan operasional.

Dari Kepolisian Elite hingga Menjaga Multikulturalisme

Nama Besar Irjen Whisnu sesungguhnya telah terukir jauh sebelum ia menginjakkan kaki di Mapolda Sumut. Ia adalah alumni terbaik Akademi Kepolisian yang menghabiskan masa mudanya di korps Brimob. Darah pasukan elite berpelor kuning itu mengalir deras dalam tubuhnya, membentuk postur tegas yang nyaris tanpa kompromi. Kariernya meroket ketika ia dipercaya memegang kendali di biro operasional, sebelum akhirnya surat keputusan Kapolri menempatkannya sebagai Kapolda Sumatera Utara pada penghujung 2025.

Sumatera Utara bukanlah medan yang mudah. Wilayah ini adalah miniatur Indonesia yang kompleks, dengan bentangan geografis luas dari pesisir hingga pegunungan, serta dinamika sosial yang tinggi. Namun, Whisnu tidak datang dengan sekadar membawa pedang. Ia membawa "nota kecil" itu; sebuah kebiasaan mencatat langsung aspirasi warga yang ia temui di pasar, di terminal, atau di kedai kopi pinggir jalan. "Kita ini pelayan, bukan penguasa. Cara melayani paling sederhana adalah mendengar dan mencatat, bukan hanya manggut-manggut lalu lupa," ujarnya dalam sebuah obrolan santai yang sempat direkam oleh salah satu jurnalis lokal.

Gebrakan Kinerja dan Program "Ngopi Darat"

Secara statistik, era kepemimpinan Irjen Whisnu di Sumut mencatatkan anomali positif. Di tengah tekanan ekonomi global yang berimbas pada meningkatnya angka kejahatan jalanan secara nasional, Polda Sumut justru menunjukkan tren penurunan signifikan pada kasus 3C (Curat, Curas, Curanmor) sepanjang kuartal pertama 2026. Data internal menyebutkan penurunan hingga 12,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, Whisnu enggan berpuas diri. Ia justru lebih sering menyoroti maraknya peredaran narkotika yang menjadi kanker kronis di wilayah ini.

Program unggulan yang segera menjadi "trade mark" kepemimpinannya adalah program tanggap cepat berbasis teritori yang ia beri nama sapa akrab "Ngopi Darat" (Ngobrol Pintar, Deteksi Dini, Arahan Tepat). Lewat program ini, setiap Kapolsek dan Kapolres diwajibkan untuk tidak hanya menguasai data kejahatan, tetapi juga peta konflik sosial di wilayahnya, termasuk sengketa lahan yang kerap memanas. Ia menekankan pendekatan restorative justice yang humanis untuk perkara-perkara kecil, sembari tetap menjalankan operasi tanpa ampun terhadap bandar narkoba. Pengungkapan laboratorium gelap sabu-sabu berskala internasional di kawasan Tanjung Balai awal tahun ini menjadi bukti bahwa pendekatan lunak dan keras itu bisa berjalan beriringan.

Ambisius Merebut Kepercayaan yang Tergerus

Meski deretan prestasi mulai tertata rapi, tantangan bagi seorang Whisnu tidaklah ringan. Tingginya ekspektasi publik terhadap institusi Polri yang sempat tergerus di berbagai pemberitaan nasional, menuntutnya bekerja dua kali lebih keras untuk membangun kembali legitimasi moral. Isu peredaran gelap narkoba yang melibatkan oknum, serta potensi gesekan di wilayah-wilayah rawan pemilu, adalah bara dalam sekam yang harus terus disiram.

Namun, di mata para ajudannya, Irjen Whisnu tak pernah kehabisan energi. Ia adalah tipe pemimpin yang rela tidur di mobil patroli saat memimpin pengamanan malam tahun baru, hanya untuk memastikan seluruh personelnya tetap siaga. Refleksi tentang perjalanan kariernya selalu ia akhiri dengan nada yang rendah hati. "Pangkat dan jabatan itu hanya tempelan di dada. Yang abadi itu bagaimana kita bisa membuat seorang ibu di pelosok merasa aman saat anaknya pulang malam. Kalau kita gagal memberi rasa itu, maka tiga bintang ini hanya sekadar logam berwarna emas," tutupnya dalam sebuah refleksi di sela apel pagi. Di tengah kerasnya aspal Sumatera Utara, Whisnu adalah pengingat bahwa ketegasan dan kemanusiaan tidak harus saling meniadakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User