Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

KAI Wisata Luncurkan Inisiatif Pelestarian Lima Stasiun Tua di Jakarta

Jakarta — Langkah kaki itu terhenti sejenak di bawah langit-langit tinggi Stasiun Jakarta Kota. Di antara derap penumpang yang hilir mudik, sepasang mata m

Jul 08, 2026 - 05:01
0 1

Jakarta — Langkah kaki itu terhenti sejenak di bawah langit-langit tinggi Stasiun Jakarta Kota. Di antara derap penumpang yang hilir mudik, sepasang mata memandang takjub pada pilar-pilar kokoh yang telah berdiri sejak 1929. Dialah Suria Ati Kusumah, Komisaris Utama PT KAI Wisata, yang pagi itu memulai sebuah perjalanan baru: membangkitkan kembali napas sejarah yang tertidur di lima stasiun bersejarah di Jakarta.

Kunjungan kerja yang dilakukan Suria ke Stasiun Jakarta Kota, yang lebih akrab disapa Stasiun Beos Lama, bukanlah sekadar agenda rutin korporasi. Ini adalah langkah awal dari sebuah misi besar — melestarikan, membangkitkan kembali, dan memperkenalkan nilai sejarah stasiun-stasiun tua di Jakarta kepada generasi yang mungkin hanya mengenalnya sebagai tempat transit belaka.

Disambut oleh Adly Hakim Nasution (VP Pelayanan KCI), Kuscayono (Manajer Fasilitas Pelayanan Penumpang Daop 1 Jakarta), Kurniawan Bellani Adhinata (Kepala Stasiun Jakarta Kota), dan Dwi Irpal (Wakil Kepala Stasiun Jakarta Kota), Suria menelusuri setiap sudut stasiun yang menyimpan sejuta kisah itu.

“Stasiun ini bukan sekadar tempat naik-turun penumpang. Ia adalah saksi lahirnya Jakarta modern. Kita sering melewatinya, tapi lupa bahwa di bawah atap ini, sejarah Indonesia bergulir,” ujar Suria dengan nada penuh haru saat menatap arsitektur Art Deco yang masih terawat.

“Awal Perjalanan Batavia Modern”

Dengan tema “Awal Perjalanan Batavia Modern”, inisiatif ini menjadikan Stasiun Jakarta Kota sebagai proyek percontohan. Tema itu dipilih bukan tanpa alasan. Stasiun ini adalah gerbang utama Batavia pada masa Hindia Belanda — titik pertama yang menyambut para pedagang, pejabat kolonial, hingga wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Sebelum bangunan megah ini berdiri, ada stasiun lebih tua bernama Batavia Zuid. Namun, pada 1929, arsitek Belanda merancang ulang wajah stasiun ini dengan gaya Art Deco yang revolusioner. Inovasi teknik berupa atap bentang lebar tanpa banyak tiang penyangga menjadikan Beos sebagai salah satu stasiun termegah di Asia Tenggara kala itu.

Nama BEOS sendiri menyimpan sejarah yang menarik. Ia adalah akronim dari Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta yang mengelola jalur timur Batavia, menghubungkan ibu kota dengan Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Merak.

“Dulu, wajah pertama Batavia ada di sini. Kalau Anda datang dari luar kota dengan kereta, stasiun inilah yang menyambut Anda. Sekarang, kita ingin mengembalikan rasa bangga itu,” tutur Kurniawan Bellani Adhinata, Kepala Stasiun Jakarta Kota.

Lebih dari Sekadar Arsitektur

Namun, keindahan arsitektur hanyalah satu lapis dari kisah yang disimpan stasiun ini. Pada masa peralihan kekuasaan pasca-Proklamasi 1945, Stasiun Jakarta Kota menjadi medan sunyi perjuangan. Di sinilah para pegawai kereta Indonesia bergerak mengambil alih aset perkeretaapian dari tangan Jepang — sebuah momen heroik yang jarang tercatat dalam buku sejarah populer.

Tak heran jika kini stasiun ini menjadi lokasi favorit untuk syuting film, video musik, dan pemotretan. Lokasinya yang berseberangan langsung dengan kawasan Kota Tua menjadikannya pintu gerbang wisata sejarah — penghubung alami antara warisan perkeretaapian dan kawasan cagar budaya yang menjadi magnet wisatawan lokal maupun mancanegara.

Inisiatif pelestarian ini direncanakan akan meliputi:

  • Restorasi elemen arsitektur asli tanpa menghilangkan karakter historis bangunan
  • Pengembangan narasi wisata melalui tur berpemandu yang menggali kisah-kisah tersembunyi stasiun
  • Kolaborasi dengan komunitas sejarah dan seniman lokal untuk menghidupkan ruang-ruang stasiun
  • Digitalisasi arsip dan foto-foto bersejarah yang dapat diakses publik
“Kami ingin generasi muda tidak hanya naik kereta, tapi juga pulang membawa cerita. Stasiun harus menjadi ruang hidup yang menginspirasi, bukan sekadar infrastruktur,” tegas Suria.

Langkah ini menandai babak baru dalam pengelolaan warisan budaya oleh BUMN. Stasiun tidak lagi dipandang semata sebagai aset operasional, melainkan sebagai monumen hidup yang menyimpan memori kolektif sebuah bangsa. Dan pagi itu di Stasiun Jakarta Kota, sebuah perjalanan panjang untuk membangunkan sejarah telah dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User